Ticker

6/recent/Ticker-posts

The Happy Lawyer Making a Good Life in Law


Sumber Foto : https://pxhere.com/id/













Pengacara Bahagia: Membuat Kehidupan yang Baik dalam Karir Hukum.

Oleh Ratih Widihastuti Ayu Hanifah
Rabu, 02 Desember 2020 | 14:24 WIB

Dalam buku ini retensi dan kepuasan dengan karier Hukum Besar merupakan topik hangat di kalangan pengacara wanita, terutamanya juga pengacara laki-laki. Banyak aspek dari pengalaman Hukum Besar berada di luar kendali langsung pengacara, tetapi The Happy Lawyer: Making a Good Life in the Law, dituliskan oleh Nancy Levit dan Douglas O. Linder menawarkan alat praktis bagi pengacara untuk mencapai kebahagiaan jangka menengah, atau dapat disebut penulis sebagai "kepuasan" —bahagia yang tidak cepat berlalu atau sementara tetapi bertahan lama — dengan karier. 

Saat membaca buku ini penulis mengajak kita sebagai pembaca banyak mengambil sudut pandang kehidupan dari sisi profesi sang pengacara dari sudut pandang privacy, life, sex, income, government, industri, judiciary, dan liturature. 

Dalam konsep di buku ini berbicara  pengacara bisa berbahagia dengan hidupnya. Adapun penulis mengindentifikasi tiga komponen penting tentang kepuasan (genetika, keadan dan keputusan serta tindakan internal kita sendiri), itu adalah faktor dalam kehidupan seseorang yang berprofesi sebagai pengacara dari hal-hal itu dapat dikendalikan terlepas dari gen atau keadaan spesifik kita yang menjadi fokusnya. 

Sebagai pengacara juga mengidentifikasi “kunci kepuasan hidup” yang dapat dikembangkan atau dikikis oleh setiap orang berdasarkan pilihannya, yang meliputi keamanan, otonomi, keaslian, keterkaitan, kompetensi, dan harga diri. 

Tujuan artikel ini untuk berfokus pada otonomi dan keterkaitan dan memberikan strategi bagi pengacara dalam praktik pribadi untuk meningkatkan kepuasan kerja mereka.

Hal ini dikarenakan, pekerjaannya menguras tenaga dan waktu. Sehingga untuk urusan privatenya saja harus di kesampingkan dahulu untuk profesinya tersebut. Tak banyak mereka membutuhkan kepuasan tersendiri dalam eksistensi pekerjaannya.

Dari buku ini mendapat pandangan prespektif penting, tentang bagaimana berkehidupan yang baik dalam ranah hukum dan privasi. Baik dalam prespektif tugas mereka di lapangan sama seperti berkaitan dengan fakta dan barang bukti dengan mengutamakan kepuasaan client serta kehidupan pribadi.

Memiliki profesi hukum juga kadang dibenturkan keadaan dan tidak sesuai realitanya. Karena sebagai pengacara di tuntut dalam kepuasan hidup mereka secara otonomi. Dimana kemampuan membuat pilihan tanpa didikte oleh rasa takut atau kendala lain namun harus punya startegi mengambil keputusan. 

Secara harifiah garis besar otonomi tersebut merupakan langkah keputusan. Otonomi adalah kemampuan membuat pilihan tanpa didikte oleh rasa takut atau kendala lain. Kebanyakan pengacara mungkin setuju bahwa mereka tidak memiliki banyak kendali di tempat kerja.

Memiliki profesi hukum juga kadang dibenturkan keadaan dan tidak sesuai realitanya. Karena sebagai pengacara di tuntut dalam kepuasan hidup mereka secara otonomi. Dimana kemampuan membuat pilihan tanpa didikte oleh rasa takut atau kendala lain namun harus punya startegi mengambil keputusan — tidak seperti pemilik toko, misalnya, siapa yang mengontrol kapan toko dibuka dan produk apa yang dijual dan berapa harganya. Sebagai pengacara, pekerjaan ditentukan oleh kebutuhan klien. 

Penulis sebelumnya, sempat menduga bahwa kurangnya kontrol ini mungkin menjelaskan mengapa pengacara memiliki tingkat gangguan depresi mayor yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang memiliki pekerjaan lain. Ternyata tidak kepuasan diri seseorang pengacara sukses ketika cara mereka bisa mengendalikan keadaan dan dirinya sendiri dengan mendengarkan kebutuhan klien. Belajar menjadi pendengar yang baik agar dapat menganalisis masalah tersebut.

Seseorang pengacara juga, jika kurangnya kontrol dalam lingkungannya dapat menurunkan kebahagiaan dalam privasi mereka. Lantas bagaimana mereka bisa menjadi pengacara besar? Bagaimana pengacara mendapatkan lebih banyak kendali di tempat kerja, terutama dengan tekanan jam kerja dan tenggat waktu yang dapat ditagih oleh deadline?  Bagaimana hidup mereka bisa selaras dengan kebutuhan emosinalnya?

Sebagai penulis yang hidup dengan lingkungan firma hukum memberikan pandangan dan saran agar pengacara pertama-tama melakukan upaya sadar untuk secara tepat menyeimbangkan tuntutan kerja dan tuntutan kehidupan (menjadi orang tua, pasangan, teman, dan yang paling penting, seseorang dengan kebutuhan emosional, fisik, dan mentalnya sendiri).  

Mereka harus bisa memahami juga afeksi dan non afeksi sebagai kebutuhan dasar pondasi kehidupan. Tetapi mereka yang berada di samping seseorang pengacara juga tak banyak harus mengerti jam kerja mereka dan kebutuhan untuk bisa mengimbangi diri.

Dengan tujuan memenuhi kebutuhan cinta dan kasih saying yang di dalamnya terdapat unsur memberi dan menerima serta apresiasi dalam diri sendiri dengan pencapaiannya. 

Kebutuhan afeksi dan non afeksi inilah merupakan kebutuhan disposisi atau keadaan pikiran atau tubuh” yang sering dikaitkan dengan perasaan atau jenis cinta. Ini telah memunculkan sejumlah cabang filsafat dan psikologi mengenai emosi, penyakit, pengaruh, dan keadaan makhluk. 

Afeksi atau kasih saying dapat dikomunikasikan melalui penampilan, kata-kata, gerakan, atau sentuhan. Ini menyampaikan cinta dan hubungan sosial sebagai kepuasan diri juga. 

Kebutuhan dasar mereka tidak dapat dihindarkan dari kenyataan kehidupan. Pertukaran kebutuhan ini dipandang sebagai perilaku manusia yang adaptif yang berkontribusi terhadap kesejahteraan fisik dan mental yang lebih besar. Ekspresi kasih sayang memediasi manfaat emosional, fisik, dan relasional untuk individu dan rekan-rekan yang signifikan.

Menurut para ahli, Cronbach dalam Dirgagunarsa (1989), Definisi afeksi ialah kebutuhan manusia untuk memperoleh respon yang baik atau perlakuan yang hangat dari orang lain. Sedangkan definisi non afeksi kebutuhan dasar rasa aman atas kehidupannya.

Mungkin, kita semua mengenal seseorang yang sangat kita sayangi. Memang, banyak dari kita yang akan menggambarkan diri kita seperti itu. Itu bukan berarti bahwa kita penuh kasih sayang dengan setiap orang atau dalam setiap situasi, tetapi di waktu dan tempat yang tepat, bahkan cenderung mengungkapkan perasaan cinta dan kesukaan kita kepada orang lain.

Beberapa dari kita tumbuh dalam keluarga yang mudah tersinggung atau memang berkecupan, sedangkan yang lain dari kita memperoleh sifat kasih sayang kita di masa dewasa. Namun, bagaimanapun, penelitian menunjukkan bahwa kita terdapat beberapa karakteristik yang membedakan antara orang-orang yang hidup dan sebaliknya. Terutama dalam kebutuhan aspek-aspek psikologisnya harus selaras dengan pekerjaan di lapangan.

Saat seseorang memutuskan profesi ini dalam Journal, Happiness Studies Profession, The Harvard University,  dijelaskan kebahagiaan dalam sebuah profesi hukum sangat penting untuk menunjang karir pekerjaan. 
Selanjutnya, Pengacara Hukum Besar dapat menciptakan lebih banyak peluang di tempat kerja untuk apa yang disebut penulis "perbandingan ke bawah", dengan meluangkan waktu untuk melayani mereka yang kurang beruntung dari diri mereka sendiri. 

Banyak orang-orang yang bekerja merasa menjadi profesi tersebut dapat membuat srandarisasi perbandingan ke bawah. Misalnya, "Gaji saya tidak setinggi yang saya inginkan, tapi saya sangat kaya dibandingkan dengan mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan dan lebih cenderung daripada mereka yang membuat perbandingan ke atas (misalnya, “Teman saya mendapat bonus lebih besar dari saya, dan sebaliknya”) untuk memiliki pandangan optimis. 

Menjadi pengacara bukan hanya untuk lembaga tinggi atau korporasi, tak jarang mereka juga sukarelawan untuk pekerjaan pro bono yang akan meningkatkan kontak dengan orang-orang yang kurang beruntung dapat meningkatkan perbandingan bawah seorang pengacara dan dengan demikian meningkatkan kebahagiaan mereka.

Pada tingkat kelembagaan, firma hukum dapat memberikan fleksibilitas yang lebih besar untuk memberi pengacara lebih banyak kendali atas pekerjaan mereka. Fleksibilitas dalam persyaratan jam kerja dan lokasi kerja, program bayi di tempat kerja, dan fleksibilitas dalam memilih, mendekati, dan menyelesaikan tugas kerja adalah beberapa pilihan. Para penulis menyarankan bahwa menyerahkan file yang lebih kecil kepada rekan junior sambil membimbing kemajuan mereka juga dapat memberikan pengalaman belajar dan rasa kendali yang lebih besar.

Kunci kedua untuk mencapai kepuasan, dan bisa dibilang yang paling penting dari keenam, adalah keterkaitan, atau "hubungan sosial." Tempat kerja yang menghasilkan tingkat kebahagiaan tertinggi, penulis menjelaskan, cenderung tempat para pekerjanya berhubungan langsung dengan orang lain — misalnya, pendeta, praktisi dosen dan polisi.

Anggota klerus terus mengembangkan hubungan pribadi yang dekat dengan orang yang mereka bantu. Di sisi lain, pengacara fokus untuk memenuhi tujuan langsung dan seringkali moneter klien, sebagai lawan membangun ikatan yang meningkatkan rasa damai dan kesejahteraan klien mereka secara keseluruhan. 

Tetapi jika memperdalam hubungan kita dengan mereka yang menjadi tempat kita bekerja akan membuat kita lebih bahagia, pengacara dapat meluangkan waktu untuk mengenal klien secara pribadi dengan berbagi makanan atau mengunjungi perusahaan mereka.

Pengacara juga dapat membuat upaya sadar untuk mengembangkan hubungan dengan rekan kerja dengan pergi makan siang sekali atau dua kali seminggu dibandingkan dengan makan di meja mereka — sesuatu yang terlalu sering diabaikan setelah program asosiasi. Perkembangan ini dalam firma hukum dapat menerapkan inisiatif untuk mendorong interaksi sosial. 

Menugaskan mentor rekanan dan mitra ke kolega, mengatur makan siang kantor secara berkala, dan mendorong pengacara untuk berpartisipasi dalam acara amal bersama adalah beberapa contoh. Firma hukum juga dapat mencari inspirasi dari pembuat tren di industri lain, untuk menciptakan tempat kerja yang lebih menyenangkan.

Menjadi pengacara di firma hukum besar bisa jadi menantang. Tapi penulis The Happy Lawyer: Making a Good Life in the Law memberikan inspirasi kepada semua pengacara untuk mengendalikan apa yang mereka bisa, membuat perubahan, dan meningkatkan tingkat kebahagiaan mereka baik dalam pekerjaan maupun kehidupan baik internal dan eksternal. (Widi.Indometro).


Artikel Terkait