Tradisi Mandi Safar kembali digelar masyarakat adat Melayu Riam Danau di Riam Tamadungan atau Sungai Jelai, Kecamatan Jelai Hulu, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Rabu (12/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung pada Rabu terakhir bulan Safar dalam kalender Hijriah, bertepatan dengan 28 Safar 1448 Hijriah, tersebut menjadi momentum bagi masyarakat untuk mempertahankan warisan adat dan budaya yang telah berlangsung secara turun-temurun.
Mandi Safar tidak hanya dimaknai sebagai prosesi mandi di sungai, tetapi juga mengandung nilai spiritual dan sosial. Masyarakat memaknainya sebagai ikhtiar membersihkan diri secara lahir dan batin, sekaligus memanjatkan doa agar terhindar dari berbagai marabahaya.
Camat Jelai Hulu, Seth Arel, mengatakan pemerintah kecamatan bersama masyarakat berkomitmen menjaga keberlangsungan tradisi tersebut agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
“Adat dan budaya ini perlu kita lestarikan dengan baik karena merupakan ikon yang sangat besar kita laksanakan di Riam Danau ini. Pesannya, kita siap mendukung, masyarakat juga siap mendukung. Maka adat budaya ini kita lestarikan,” ujar Seth Arel.
Menurutnya, Mandi Safar memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar membersihkan tubuh. Tradisi tersebut menjadi pengingat bagi masyarakat untuk melakukan introspeksi sekaligus menjaga nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan.
“Mandi Safar ini tentu kegiatan adat untuk membersihkan dan menyucikan diri dari hal-hal yang tidak baik,” katanya.
Warisan Leluhur yang Kembali Digalakkan
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Jelai Hulu, Pananian, mengungkapkan tradisi Mandi Safar telah dilakukan masyarakat sejak generasi terdahulu.
Namun, seiring perkembangan zaman, keberadaan tradisi tersebut sempat kurang mendapat perhatian. Tahun ini, masyarakat kembali berupaya menghidupkan dan menggalakkan pelaksanaannya.
“Mandi Safar ini memang sudah dilakukan sejak turun-temurun, dari zaman nenek datok kita sampai hari ini. Sudah hampir tenggelam, tapi Alhamdulillah tahun ini Mandi Safar kita galakkan kembali,” ungkap Pananian.
Ia menjelaskan, aliran sungai dalam tradisi tersebut memiliki simbol tersendiri. Air yang mengalir dari hulu menuju hilir dimaknai sebagai gambaran pelepasan berbagai kotoran, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara batin.
“Mandi Safar untuk membersihkan diri, membersihkan badan dari kotoran-kotoran yang melekat pada badan dan yang tidak kalah penting membersihkan hati kita. Bagaimana hanyutnya air dari hulu menuju ke hilir, begitu juga hanyutnya kotor-kotoran yang ada pada badan kita,” tuturnya.
Prosesi di Sungai dengan Daun Andong dan Rajah
Ketua Yayasan Lungguh Jelai Sekayuk, Muhamad Ehsan, menjelaskan bahwa Mandi Safar merupakan ritual adat budaya Melayu Riam Danau yang dilaksanakan satu kali dalam setahun, tepat pada hari terakhir bulan Safar.
Salah satu ciri khas prosesi tersebut adalah masyarakat menceburkan diri ke sungai dan mandi pada aliran air yang melewati daun andong. Dalam rangkaian tradisi, daun tersebut dituliskan rajah menggunakan aksara Arab Melayu dan ayat Al-Qur’an.
“Mandi Safar adalah ritual adat budaya Melayu Riam Danau yang diadakan setahun sekali pada hari terakhir bulan Safar. Warga wajib menceburkan diri untuk mandi ke sungai di bawah arus sungai yang sudah ada daun andong dengan rajah tulisan Arab Melayu dan ayat Al-Qur’an,” jelas Muhamad Ehsan.
Menurut Ehsan, masyarakat menjalankan tradisi tersebut sebagai bagian dari ikhtiar menolak bala serta memohon perlindungan dari penyakit dan berbagai hal buruk. Di sisi lain, prosesi tersebut juga memiliki pesan spiritual berupa ajakan untuk membersihkan diri dari dosa dan memperbaiki hubungan dengan Tuhan serta sesama.
Kendi Pusaka Berusia Sekitar 200 Tahun
Nuansa sakral dalam pelaksanaan Mandi Safar Melayu Riam Danau juga diperkuat dengan penggunaan kendi pusaka peninggalan Kerajaan Jelai Sekayuk.
Kendi tersebut diperkirakan telah berusia sekitar 200 tahun dan hingga kini masih dipertahankan sebagai salah satu bagian dari perlengkapan tradisi masyarakat.
Bagi masyarakat setempat, keberadaan benda pusaka tersebut bukan sekadar peninggalan sejarah, tetapi juga menjadi pengingat terhadap perjalanan panjang adat dan budaya Melayu Jelai Hulu yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di Tengah Kemarau, Warga Berdoa Memohon Hujan
Pelaksanaan Mandi Safar tahun ini juga berlangsung di tengah kondisi kemarau panjang yang dirasakan masyarakat di wilayah tersebut.
Kondisi tersebut membuat prosesi Mandi Safar sekaligus menjadi momentum bagi masyarakat untuk memanjatkan doa agar hujan segera turun dan kondisi alam kembali mendukung aktivitas serta kehidupan masyarakat.
Tradisi tersebut diselenggarakan oleh Yayasan Lungguh Jelai Sekayuk bersama Komunitas Riam Danau Jangak, dengan melibatkan masyarakat Riam Danau.
Selain menjadi bagian dari ritual adat, pelaksanaan Mandi Safar diharapkan dapat menjadi ruang mempererat silaturahmi, memperkuat identitas budaya masyarakat Melayu Riam Danau, sekaligus menumbuhkan kesadaran generasi muda untuk menjaga warisan leluhur.
Bagi masyarakat Riam Danau, Mandi Safar bukan sekadar tradisi tahunan. Ia menjadi bagian dari identitas budaya yang menghubungkan masyarakat masa kini dengan warisan para leluhur—sebuah tradisi yang diharapkan tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Penulis: Tim Jurnalis Indo Metro


Posting Komentar untuk "Tradisi Mandi Safar Kembali Digelar di Riam Danau, Upaya Lestarikan Adat Melayu dan Doa Tolak Bala"