Ticker

6/recent/Ticker-posts

Waspada Dengan Perilaku Yang Menyimpang


Artikel .indometro.id - Ada beberapa faktor yang membuat seseorang memiliki perilaku menyimpang. Salah satunya adalah masalah psikologis. Perilaku menyimpang umumnya didefinisikan sebagai perilaku yang dianggap bertentangan dengan norma atau peraturan yang berlaku di masyarakat. Seseorang dapat melakukan perilaku menyimpang akibat adanya proses labeling atau stigma dari orang-orang di sekitarnya, kemudian orang yang terstigma tersebut akan berperilaku sesuai label atau stereotip negatif yang melekat. Anggapan tentang perilaku menyimpang bisa bersifat subjektif dan kontekstual. Artinya, suatu perilaku yang dianggap menyimpang di suatu tempat mungkin bisa dianggap normal di tempat lain, tergantung budaya, norma, dan aturan masyarakat yang berlaku.
Ada banyak contoh perilaku menyimpang dari sisi sosiologi, misalnya seorang anak menjadi berperilaku menyimpang setelah bergaul dengan teman-teman yang memiliki perilaku serupa atau ketika seseorang masuk penjara dan menjadi napi, kemudian setelah keluar dari penjara ia menjadi berperilaku menyimpang. Berikut ini adalah beberapa contoh perilaku menyimpang yang cukup banyak terjadi di Indonesia dan bertentangan dengan hukum yang berlaku: Penyalahgunaan obat-obatan terlarang, Balap Liar, Pencurian, Bullying, Pelanggaran lalu lintas, seperti menerobos lampu merah, Korupsi,Buang sampah sembarangan, Pembunuhan, dan Perjudian Suatu perilaku dapat dikatakan menyimpang apabila perilaku atau tindakan tersebut memiliki beberapa aspek. Namun, secara medis, orang yang berperilaku menyimpang dianggap perlu mendapat penanganan apabila ia juga memiliki gangguan psikologis yang sudah mengganggu kehidupan sehari-hari dan membahayakan dirinya sendiri atau orang lain, misalnya mencoba untuk bunuh diri dan menyetir sambil mabuk-mabukan atau dalam pengaruh narkoba.
Penyimpangan dapat terjadi setelah seseorang berinteraksi dengan lingkungan sosial dan mempelajari hal apa saja yang dianggap normal dan menyimpang, kemudian melakukan perilaku menyimpang tersebut. Perilaku yang dianggap tidak sesuai dengan norma atau budaya yang berlaku dalam masyarakat di suatu wilayah dapat dikatakan perilaku abnormal atau menyimpang, misalnya berbicara sendiri. Di zaman sekarang, berbicara sendiri dianggap perilaku yang tidak normal. Sementara pada beberapa masyarakat yang masih memiliki pola pikir magis atau tradisional, perilaku ini mungkin dianggap memiliki nilai spiritual tinggi dan bukan perilaku menyimpang. 
Dalam ilmu kedokteran jiwa, berbicara sendiri dapat menjadi salah satu gejala gangguan persepsi, misalnya halusinasi atau pada penyakit gangguan kepribadian Suatu tindakan yang tidak biasa atau tidak umum dilakukan, misalnya teriak di perpustakaan. Meski demikian, bukan berarti semua tindakan yang tidak umum termasuk dalam perilaku menyimpang. Sebagai contoh, bersepeda keliling dunia. Perilaku tersebut tidak bisa dikatakan sebagai perilaku yang menyimpang karena tidak menimbulkan gangguan, baik pada orang lain maupun diri si pelaku. Selama suatu perilaku yang tidak lazim tidak menimbulkan gangguan, maka perilaku tersebut lebih tepat dianggap sebagai suatu perilaku yang eksentrik. Saat seseorang berkabung, kecenderungan untuk menarik diri dari lingkungan selama beberapa waktu adalah sesuatu yang wajar. 

Namun, tidak demikian halnya pada penderita depresi. Penderita depresi dapat menarik diri dari rutinitas dan orang-orang di sekitarnya secara berkelanjutan. Perilaku tersebut dapat dikatakan menyebabkan disfungsi dalam kehidupan sehari-hari pada penderitanya. Perilaku yang membuat seseorang membahayakan orang lain atau dirinya sendiri juga termasuk perilaku menyimpang. Contohnya, memiliki keinginan atau percobaan bunuh diri. Ini merupakan gejala berat dari gangguan kejiwaan yang memerlukan penanganan dokter secara menyeluruh.
Perilaku menyimpang mungkin saja merupakan dampak dari pergaulan atau lingkungan yang kurang baik, misalnya pola asuh yang salah dan rendahnya tingkat pendidikan. Namun, terkadang seseorang bisa saja berperilaku menyimpang karena memiliki tekanan batin, misalnya ketika stres berat, memiliki masalah keluarga, atau ditinggal orang terkasih. Bahkan pada kasus tertentu, seseorang mungkin dapat berperilaku menyimpang karena ia menggunakan NAPZA. 

Meski demikian, tak jarang juga penyimpangan perilaku dilakukan atas dasar kesengajaan, dan diluar itu, perilaku menyimpang juga bisa disebabkan oleh masalah psikologis yang diderita. Pada intinya, perilaku menyimpang perlu diwaspadai dan ditangani jika sudah menimbulkan kerugian bagi pelakunya atau orang lain. Jika Anda atau orang yang Anda kenal menunjukkan tanda-tanda penyimpangan perilaku, sebaiknya periksakan ke psikiater agar penanganan dapat dilakukan secara tepat. 

Untuk menentukan penyebab mengapa seseorang melakukan perilaku menyimpang, biasanya dokter dapat melakukan pemeriksaan kejiwaan untuk menentukan apakah perilaku tersebut muncul akibat adanya gangguan mental. Jika terdapat masalah kejiwaan, dokter juga dapat memberikan penanganan berupa konseling dan psikoterapi, terapi perilaku, dan meresepkan obat-obatan, jika memang dibutuhkan.

(Skn.53)

Artikel Terkait