Dalam hal ini, Tulus Ehlas, mantan Ketua BEM FISIP UTS periode 2023–2024, menyampaikan bahwa fenomena tersebut terlihat dari menurunnya partisipasi dan antusiasme mahasiswa dalam mendaftarkan diri ke berbagai organisasi, seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Himpunan Mahasiswa (Hima), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), maupun organisasi eksternal kampus. Sejumlah organisasi bahkan melaporkan bahwa jumlah pendaftar tidak lagi mampu memenuhi kuota sebagaimana pada tahun-tahun sebelumnya.
“Kami melihat tren penurunan ini cukup signifikan. Banyak organisasi kesulitan memenuhi kuota anggota baru, bahkan untuk sekadar menjalankan program kerja rutin,” ujar Tulus kepada media, Kamis (23/4/2026).
Kondisi ini terjadi hampir di seluruh lapisan mahasiswa UTS. Ia juga mengungkapkan bahwa penurunan minat tersebut sangat terasa di lapangan. Menurutnya, pergeseran pola pikir mahasiswa menjadi salah satu faktor utama.
“Mahasiswa sekarang lebih mempertimbangkan output yang langsung dirasakan. Beban akademik yang cukup tinggi membuat sebagian besar memilih fokus pada kuliah atau mencari pengalaman kerja dibandingkan harus mengikuti dinamika organisasi yang menyita waktu,” jelasnya.
Tulus juga menambahkan bahwa penurunan minat ini terpantau merata di lingkungan kampus, terutama pada kegiatan kolektif yang menuntut komitmen waktu tinggi di luar jam perkuliahan. Gejala ini mulai mencolok sejak memasuki tahun akademik 2024/2025 dan semakin menjadi perhatian pada periode rekrutmen pengurus baru semester ini.
“Jika tidak ada langkah evaluasi dan inovasi dari internal organisasi maupun pihak kampus, tren ini bisa berlanjut dan berdampak serius terhadap keberlangsungan organisasi kemahasiswaan,” tegasnya.
Dampak dari fenomena tersebut mulai dirasakan oleh berbagai organisasi kemahasiswaan. Sejumlah program kerja terancam tidak berjalan optimal akibat keterbatasan sumber daya manusia.
Selain itu, proses regenerasi kepemimpinan mahasiswa dinilai berpotensi terhambat.
“Organisasi kampus sejatinya adalah ruang pembentukan karakter, kepemimpinan, dan daya kritis mahasiswa. Jika minat terus menurun, maka kita berisiko kehilangan generasi yang siap memimpin di masa depan,” pungkas Tulus.
Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa solusi, bukan tidak mungkin organisasi kemahasiswaan di UTS akan terancam mengalami kevakuman. Hal ini dikhawatirkan dapat melemahkan kemampuan manajerial, kepemimpinan, serta daya kritis mahasiswa di masa mendatang. (Fr)



Posting Komentar untuk "Minat Mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa terhadap Organisasi Terancam Menurun"