Ruteng, NTT, Indometro.id-- Dentuman musik terdengar lirih dari balik perbukitan. Irama itu menjadi penanda bahwa tujuan perjalanan sudah semakin dekat. Di bawah terik matahari siang, langkah kaki menyusuri jalan berbatu putih yang tajam dan berkelok. Batu-batu itu tersusun rapi membentuk jalan telford yang menjadi satu-satunya akses menuju Kampung Klumpang, sebuah kampung tua yang berdiri sunyi di wilayah Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai, provinsi Nusa Tenggara Timur.
Secara geografis, Klumpang lebih dekat dengan Desa Nggalak. Namun secara administratif, kampung ini merupakan bagian dari Desa Kajong, ibu kota Kecamatan Reok Barat. Letaknya sekitar 8 kilometer dari Kajong, kota kecamatan. Dengan letaknya yang terlalu jauh dari pusat pemerintahan desa dan kecamatan, warga Klumpang merasa seolah hidup di tempat yang terlupakan.
Di sepanjang perjalanan menuju kampung, beberapa makam tua dan baru terlihat berjajar di lereng bukit. Tak lama kemudian, suara musik yang semula samar terdengar semakin jelas. Hari itu warga sedang menggelar pesta. Di tengah panas yang menyengat, sejumlah anak muda tampak menari penuh kegembiraan.
Kehangatan warga langsung terasa begitu rombongan tiba. Tokoh adat, tokoh masyarakat, para ibu, hingga anak-anak menyambut dengan ramah. Tradisi dan budaya Manggarai masih dijaga kuat di kampung yang diyakini sebagai salah satu kampung asal-usul masyarakat Kajong.
Namun di balik keramahan dan semangat kebersamaan itu, tersimpan berbagai persoalan mendasar yang belum terjawab.
"Kami tidak sedang mengkritik pemerintah," ujar Ketua RT Klumpang, Kanisius Kungkung, saat berbincang kepada rombongan Lembaga Pengawal Kebijakan Publik dan Keadilan (LP KPK) serta awak media.
"Kami hanya ingin menyampaikan kebutuhan yang benar-benar kami rasakan setiap hari disini."
Di kampung yang dihuni sekitar 24 kepala keluarga atau lebih dari 200 jiwa itu, persoalan air bersih menjadi tantangan terbesar. Meski sumber air tersedia, lokasinya berada sekitar 500 meter dari permukiman dengan medan yang sulit dilalui.
Warga harus menuruni bukit, mendaki kembali, lalu menuruni bukit lainnya sebelum tiba di mata air Wae Wako.
Bagi sebagian orang, jarak itu mungkin tidak terlalu jauh. Namun bagi para ibu yang pulang dari kebun sambil memikul hasil panen kemiri atau porang, perjalanan mengambil air menjadi pekerjaan berat yang harus dilakukan setiap hari.
"Kalau ada acara besar seperti pesta, kadang kami terpaksa membeli air dari kampung tetangga," kata salah seorang tokoh masyarakat, Marsianus Min.
Selain air bersih, warga juga mendambakan perbaikan jalan menuju kampung. Jalan telford sepanjang sekitar 1,5 kilometer yang dibangun pada tahun 2010 kini menjadi harapan untuk ditingkatkan menjadi jalan lapen agar akses transportasi semakin lebih mudah.
Kebutuhan lain yang tak kalah mendesak adalah fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK). Dari 24 kepala keluarga, hanya delapan keluarga yang memiliki MCK sendiri. Selebihnya masih bergantung pada fasilitas milik tetangga atau menggunakan cara-cara seadanya.
Persoalan rumah tidak layak huni juga menjadi kenyataan pahit yang dihadapi warga. Sedikitnya delapan rumah dinilai sudah tidak layak ditempati dan membutuhkan bantuan pemerintah.
Di tengah segala keterbatasan itu, masih terdapat satu warga yang mengalami stunting dan membutuhkan perhatian khusus.
Marsianus mengaku sedih melihat kondisi kampungnya yang menurutnya jarang tersentuh kunjungan pejabat.
"Jarang ada pemerintah yang datang ke sini. Paling saat musim pemilu atau musim caleg. Itu pun tidak sering. Kami seperti kampung yang dilupakan," ujarnya lirih.
Kalimat itu menggambarkan perasaan sebagian besar warga Klumpang. Mereka tidak meminta sesuatu yang mewah. Mereka hanya berharap bisa menikmati layanan dasar yang bagi banyak tempat lain sudah menjadi hal biasa: air bersih, jalan yang layak, MCK yang memadai, dan rumah yang aman untuk ditinggali.
Melalui kesempatan tersebut, warga menitipkan harapan kepada Pemerintah Kabupaten Manggarai, khususnya kepada Bupati Herybertus G.L. Nabit.
Dengan bahasa Manggarai yang tulus, mereka memohon perhatian atas kebutuhan air minum, jalan kampung, MCK, serta rumah layak huni bagi masyarakat Klumpang.
"Dasor manga koe tompal momang de pemerintah lewat ema dite bupati Hery, sangget tegi dami Wae Inung, Salang Lapen, MCK agu mbaru tidak layak huni situ," pintanya.
Sementara itu, Ketua LP KPK, Stef Woket, menyatakan pihaknya akan berupaya meneruskan seluruh aspirasi yang disampaikan warga kepada pemerintah dan pihak-pihak terkait.
"Kami tidak menjanjikan sesuatu karena kami bukan pengambil kebijakan. Namun kami akan berusaha meneruskan semua aspirasi ini kepada pemerintah dan mitra terkait," katanya.
Sore itu, pesta masih berlangsung. Musik terus mengalun, tawa warga masih terdengar, dan anak-anak tetap bermain riang di halaman kampung.
Namun di balik keceriaan tersebut, tersimpan satu harapan besar yang terus dijaga oleh warga Klumpang: semoga suatu hari nanti kampung tua di balik bukit itu tidak lagi menjadi kampung yang terlupakan. (****)






Posting Komentar untuk "Klumpang, Kampung Tua yang Menanti Uluran Tangan Pemerintah, Warga: "Bupati Hery, Tolong Lihat Kami""