74 TAHUN HMI MENGABDI "Mengokohkan Komitmen Keislaman dan Kebangsaan"

Baca Juga



Penulis: Ibnu Hj. M. K. Tokan (Formatur/Ketua Umum HMI Cabang Kupang)

PENGANTAR

Himpunan Mahasiswa Islam merupakan organisasi kemahasiswaan yang berdiri pada tanggal 05 Februari 1947 dengan Tujuan awal yang tidak terlepas pada gagasan dan visi perjuangan sosial budaya, yaitu :1) Mempertahankan negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia. 2) Menegakkan dan mengembangkan ajaran Islam.

Sejalan dengan tujuan awal di atas HMI mulai mengevaluasi diri yang bersandar pada pilar akademis, pencipta dan pengabdi sehingga bertepatan dengan kongres HMI ke X di palembang redaksi tujuan di benahi sehingga berbunyi "Terbinanya Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi yang Bernafaskan Islam dan Bertanggungjawab Atas Terwujudnya Masyarakat Adil dan Makmur yang Diridhoi Allah Subhanahu Wa Ta’ala".

Kontekstualisasi misi HMI dari kongres ke X tahun 1971 sampai dengan hari ini telah melahirkan episentrum-episentrum baru bagi perkembangan peradaban.
Diusia yang ke 74 Tahun bukanlah usia yang dikatakan muda lagi. Dalam perspektif biologi usia yang semakin menuai menyebabkan seseorang mengalami penurunan daya ingat, daya tahan tubuh yang lemah serta berbagai kondisi yang mengalami penurunan kualitas yang berdampak baik secara psikis maupun fisik.

Apakah HMI pun demikian terjebak pada kooptasi semacam ini?

Pendekatan memahami HMI adalah pendekatan ideologis dan filosofis, maka sudah seharusnya garis ideologis kader diarahkan pada amar mar'uf nahi mungkar  dan pendekatan filosofis diarahkan pada bagaimana seharusnya HMI mereposisi misi komitmen keumatan dan kebangsaan.

KOMITMEN KEUMATAN

Sejarah selalu mengisahkan kepedihan dan kebahagiaan. Sejarah juga hadir sebagai isyarat cinta memanggil sang pecinta untuk berkhidmat pada cinta yang hakiki.

Islam adalah agama rahmatan lil alamin. Agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta. Agama yang didalamnya mengajarkan manusia untuk bersikap adil dan menegakan kebenaran.
Islam juga merupakan agama pembebasan yang membawa manusia dari alam kegelapan menuju alam yang terang benderang. Di sanalah sumber cahaya ilahiah terpancar dan dengan jalan ideologis pancaran cahaya hadir untuk mencerahkan.

Visi keislaman dalam perspektif HMI adalah sebuah visi yang disandarkan pada turut qur'an dan hadits dengan jalan tauhid sebagai tonggak untuk menegakkan kebenaran.
HMI yang berasaskan islam sudah tentu mewarisi visi tauhid untuk membela kaum Mustad'afin (kaum tertindas) dalam konteks ekonomi dan kemerdekaan.

Persoalan ekonomi hari ini menjadi pilar utama pembangunan sebuah bangsa. Kemerdekaan memeluk agama dan saling menghargai antar agama menjadi unsur pluralisme yang harus dirawat.
Ditengah pergolakan ekonomi dan tedensi agama saat ini, HMI harus menjadi jalan tengah menyelesaikan konflik yang ada, bukan kembali memperkeruh suasan dan lebih tendensi lagi anggota maupun Alumni HMI mengambil peran menumbuh suburkan konflik dibangsa ini. Tragis bukan!!!

HMI dalam melakukan pembelaan mestinya tidak membeda-bedakan perbedaan yang ada baik suku, ras maupun agama. Kader HMI harus menjadi cahaya yang mampu mencerahkan seluruh umat manusia.
Iman yang kokoh, pengetahuan yang mumpuni akan berdampak pada cara berpikir dan tingkah laku kader mengokohkan komitmen keumatan.

KOMITMEN KEBANGSAAN

Menurut M.Amin Abdullah "tingkat kualitas keberadaban dan kemartabatan suatu bangsa dan negara sangat ditentukan bagaimana corak hubungan antara keimanan dalam agama dan kebhinekaan kehidupan sosial dalam bangsa-negara"

Artinya hubungan antara komitmen keislaman dan kebangsaan bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya.
Komitmen keislaman adalah perjalanan individu menemukan jati diri sebagai wakil Tuhan di muka bumi dan komitmen kebangsaan adalah bagaimana individu memposisikan diri ditengah masyarakat.

Suatu peradaban di mulai dari individu.
Gagasan individu mampu mempengaruhi lingkungan disekitarnya dan akan membentuk kelompok, ajarannya di jalankan dalam kehidupan sehari-hari maka akan menjadi tradisi, tradisi dijalankan secara terus menerus akan menjadi budaya, dan budaya dipertahankan dan diwarisi secara turun temurun maka akan membentuk peradaban.

Episentrum peradaban semacam ini harus dipahami oleh setiap kader Himpunan.
Kader itu jumlahnya sedikit dan merupakan orang-orang rausyanfikr (orang-orang yang tercerahkan). Kader rausyanfikr adalah mereka yang berkhidmat pada al-quran dan sunnah nabi sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Al-Quran mengajarkan amal mar'uf nahi mungkar (mengajak kepada perbuatan yang baik dan mencegah kepada perbuatan yang mungkar). Sunnah Nabi Muhammad SAW adalah esensi sikap ideologis nabi sebagai peletak dasar platform pembebasan umat manusia yang telah mengantarkan islam sebagai sebuah agama pembebasan. Membebaskan budak, menyayangi anak yatim, berlaku adil kepada sesama sampai terciptanya tatanan dunia yang aman dan damai. Nabi Muhammad SAW tidak hanya teladan bagi umat islam terapi juga dunia. Pengakuan ini pernah disampaikan cendekiawan Barat Michael H Hart, dalam The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History. 

Salah satu contoh sikap nabi adalah saat nabi SAW hijrah ke Madinah, banyak orang yahudi sudah menetap disana, tapi beliau tidak mengusirnya malah berintaksi dengan mereka dan membuat perjanjian. Diantara isinya berbunyi "orang yahudi mempunyai hak dalam melaksanakan agama mereka dan kaum muslimin mempunyai hak hak melaksanakan agama mereka".

Islam hari berbeda, ia hadir dengan pergolakan pemikirannya serta mazhab yang berbeda-beda sehingga terjadi pengkaplingan surga dimana-mana.
Kita terlalu sibuk memperdebatkan ritus sehingga berdampak pada konflik internal dan melupakan esensi ajaran Islam yang sesungguhnya sebagai agama rahmatan lil alamin.

HMI harus menjawab ini agar organisasi ini menjadi alternatif menyelesaikan konflik vertikal maupun konflik horizontal keumatan dan kebangsan.

Inilah esensi kader yang sesungguhnya sebagai episentrum peradaban. Pemikiran dan gagasan kader harus relevansi dengan zaman dan mampu membaca arah dan tantangan yang dihadapi zaman hari ini dan masa depan zaman.

Disinilah letak komitmen keislaman dan kebangsaan yang harus menjadi bahan perenungan untuk merevitalisasi arah perjuangan HMI demi mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.

Berikan Komentar Anda

Lebih baru Lebih lama