Ticker

6/recent/Ticker-posts

Gas Melon Langka : Warga Batam Bingung, Pengecer Banyak Stok

Gas Melon Langka


Batam .indometro.id - Ditengah Pandemi Covid-19 Berbagai persoalan masih saja mucul menyulitkan masyarakat, yang terbaru yaitu Kelangkaan gas subsidi 3 kilogram di Kota Batam, Kepulauan Riau menjadi perbincangan hangat warga. Sejak beberapa pekan terakhir, gas melon warna hijau menjadi satu komoditas yang sulit didapat. 

Suplai gas dari agen ke pangkalan sejauh ini cukup lancar. Namun, stok di pangkalan cepat habis diserbu pembeli. 

Alhasil, warga yang tak kebagian menjadi bingung untuk mendapatkan bahan bakar tersebut. Stok di pangkalan kosong, dan harus menunggu suplai kembali dalam beberapa hari. 

Meski di pangkalan terjadi kekosongan stok, namun gas melon ini ternyata banyak dijual di kedai-kedai pinggir jalan. Seperti yang terlihat di kawasan Simpang, Barelang, Tembesi. 

Di sana, satu tabung gas melon dibanderol Rp 25 ribu, selisih Rp 7 ribu dibandingkan pangkalan yang menjual harga eceran tertinggi Rp 18 ribu. 

"Harga 25 ribu pe rtabung, tapi harus membawa tabung yang kosong untuk ditukar," ujar salah satu pedagang di Simpang Barelang, Kamis (15/10/2020). 

Meski lebih mahal, namun animo pembeli cukup tinggi. Tak butuh waktu lama untuk menghabiskan stok. Maklum, para pembeli tak perlu menunjukkan KTP sebagaimana aturan yang diberlakukan ketika membeli gas subsidi di pangkalan. 

Pembelinya tak hanya dari sekitar Simpang Barelang, namun juga ada dari daerah lain, seperti Batam Centre dan Bengkong. 

"Mau gimana lagi, di Batam Centre sudah susah dapat. (Harga) Rp 25 ribu tetap beli lah, yang penting masih bisa masak," ujar Hesti, warga sebuah perumahan di Batam Centre. 

Sejauh ini, belum diketahui siapa penyuplai gas 3 kilogram yang dijual di kedai-kedai pinggir jalan Simpang Barelang ini.  

Kelangkaan gas melon ini menjadi perhatian pemerintah. Penjabat Sementara (Pjs) Walikota Batam, Syamsul Bahrum mengatakan, kelangkaan gas elpiji 3 kilogram (Kg) diduga karena panic buying di tengah masyarakat. 

Bukan hanya di Batam saja, Syamsul menyebutkan, kelangkaan juga terjadi di Kota Tanjungpinang. 

“Selama ini membeli satu, gara-gara dengar langka dia stok jadi lebih dari satu. Sehingga penumpukkannya di masyarakat sendiri," ujar Syamsul, Senin (12/10/2020). 

Oleh karena itu, Ia telah membentuk dua tim, dimana tim pertama merupakan tim penertiban dan penindakan yang dipimpin oleh Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) yang akan berkoordinasi dengan Polresta Barelang untuk sidak ke lapangan. Tim kedua dari Disperindag 

Tim ini akan menyelidiki kelangkaan gas molen di tengah masyarakat. Menurutnya distributor tidak mungkin menahan penyaluran tabung gas. 

"Pertamina, masyarakat dan agen harus ditelusuri. Disperindag harus memetakan kenapa bisa langka, berapa kebutuhan masyarakat dan lainnya," kata dia.

(Ibrahim)