Ticker

6/recent/Ticker-posts

Kisah Pilu, Warga Sumarorong Mamasa 10 tahun hidup sebatang kara dari pondok barang bekas.

Foto Ma'tan (Indo' Kawa) disebuah pondok miliknya saat warga datang memberikan bantuan

Mamasa sulbar, indometro.id
- Warga di Dusun Salubeang, Desa Banea, Kecamatan Sumarorong, Kabupaten Mamasa, Sulbar hidup seorang diri dengan kondisi sangat memprihatinkan.

Hidup dibawah garis kemiskinan dan seorang diri dialami Ma'tan (Indo' Kawa') berusia 60 tahun. Bukan tidak ada yang peduli, namun ia enggan membebani kelurga.

Ma'tan memilih tinggal di pondok layaknya tumpukan sampah berukuran 2x1 di bawah pohon pisang.

Tak jauh dari pemukiman, Ma'tan membuat pondok dari beberapa potong bambu yang diikat di pohon pisang dan semak-semak, serta beratapkan tikar bekas. Selain itu, ia juga menggunakan tikar bekas sebagai alas tidur.

Kondisi itu menjadi tempat bernaung bagi Ma'tan seorang diri siang dan malam.
Bahkan Ma'tan telah tiga kali berpindah mendirikan pondok serupa sebagai tempat tinggal sejak kurang lebih 10 tahun lalu.

"Massanding mo' torro inde (saya sudah lama tinggal di sini)," kata Ma'tan, Selasa (19/5/2020).

Meski tak ada tempat yang layak dan hanya bisa makan seadanya, Ma'tan tetap bertahan hidup di tengah kondisi yang memprihatinkan.

Jika hujan turun, Ma'tan kerap tak tidur lantaran pondoknya ditembus hujan. Kadang kalau hujan deras, dia hanya duduk di dalam.

"Dia tidak bisa tidur karena tempat tidurnya kehujanan," ujar Lusia Limbong kerabat Ma'tan sore tadi.

Untuk bisa bertahan hidup, Ma'tan hanya mengandalkan sayuran hijau yang dipetik di belakang rumah tetangganya. Bahkan ia kadang diberi makan oleh kerabatnya.

"Kadang kami kasih makanan. Kalau tidak ada beras yang dia masak, kadang hanya masak sayur untuk dimakan," tutur Lusia.
Lusia melanjutkan, sebelum akhirnya hidup di gubuk tak layak huni itu, Ma'tan sempat mengalami kejadian pahit yang membuatnya traumatis.
"Dulu dia tinggal di kampung di rumah orang tuanya. Tetapi waktu masih gadis, pernah mengalami kekerasan akhirnya trauma. Sekarang tinggal sendiri," kata Lusia melanjutkan.
Diceritakan Lusia, sebelum ia hidup dengan kondisi saat ini, Ma'tan pernah mengalami kekerasan seksual hingga hamil.

Berangkat dari situ, Ma'tan akhirnya trauma dan sering kabur ke hutan setelah melahirkan anak perempun.
"Waktu dia sudah melahirkan kadang lari kehutan bawa anaknya yang masih bayi," bebernya.
"Waktu anaknya berusia 6 bulan dirawat sama mama saya karena takutnya nanti kenapa-kenapa di hutan.
Sekarang anaknya sudah 20 tahun, dia di Makassar kerja," katanya.
Sejak saat itu lanjut Lusia, Ma'tan mengalami trauma berat dan senang hidup menyendiri.
"Dia ini tidak mau bebankan orang lain. Jadi dia bikin pondok sendiri untuk ditinggali.
Kalau ada barang yang dikasih, kadang tidak digunakan," sambungnya.

Kondisi ini juga dialami adik perempuan Ma'tan yang tinggal terpisah darinya.
Lusia dan penduduk di dusun itu mengaku prihatin.
Namun ia tidak bisa berbuat banyak dengan keterbatasan daya dan jiwa Ma'tan yang sedikit mengalami gangguan akibat pengalaman pahit di masa lalunya.

Lantaran tak memiliki kartu identitas, Ma'tan tak pernah mendapat bantuan.

Lusia berharap Ma'tan mendapat perhatian dari pemerintah di tengah kondisi sulit akibat wabah covid-19.(Demas)