Ticker

6/recent/Ticker-posts

Sosok Pria Penjahit Masker Massal, Dibagikan Gratis demi Tangkal Corona

Penjahit masker di Bengkulu
BENGKULU, indometro.id - Berbagai upaya pencegahan penyebaran virus corona (Covid-19), terus digencarkan. Termasuk mengenakan masker bagi masyarakat.
Provinsi dengan 10 kabupaten/kota ditetapkan sebagai daerah berstatus siaga menjadi darurat penanganan covid-19, pada Selasa 31 Maret 2020. Penetapan itu menyusul adanya satu kasus konfirmasi atau positif covid-19, dan meninggal dunia, pada hari itu.
Kasus pertama itu menjadikan provinsi berjuluk 'Bumi Rafflesia' juga berubah status dari zona hijau menjadi zona merah (red zone). Di mana perubahan status tersebut disampaikan secara langsung Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah.
Status zona merah membuat keberadaan masker di daerah ini menjadi ''menghilang''. Di tengah-tengah kelangkaan masker itu membuat pria kelahiran Air Putih, Kabupaten Lebong, 20 Januari 1992, ini memproduksi masker kain secara massal.
Masker kain tersebut dia racik sendiri, untuk dibagikan kepada masyarakat Kota Bengkulu, secara gratis demi menangkal virus corona. Tanpa pikir panjang, laki-laki 28 tahun ini mulai menjahit alat bantu pelindung diri (APD) yang menutupi mulut dan hidung.
Bahan produksi masker itu dirogoh dari kantong pribadinya. Dia tidak memikirkan berapa besaran biaya untuk membuat masker untuk dibagikan secara cuma-cuma itu. Pria ini hanya berpikir bagaimana bisa membantu meringankan dalam pemenuhan masker di Bengkulu.
Siapa pria berhati mulia itu? Heri Saputra, namanya. Pria 28 tahun itu bekerja sendiri. Sehari mampu menyelesaikan tidak kurang dari 100 masker kain, berbahan dasar drill.
Setelah diproduksi alat bantu pelindung diri yang menutupi mulut dan hidung tersebut, langsung disalurkan kepada masyarakat Kota Bengkulu. Sasarannya, pengguna jalan yang mengendarai sepeda motor di traffic light.
''Ide produksi masker muncul karena ada panggilan untuk menolong sesama,'' kata Heri, saat berbincang dengan indometro.id, Selasa 7 April 2020.

Jebolan Universitas Muhammadiyah Bengkulu itu telah membagikan tidak kurang dari 650 masker kain. Di mana 500 masker bersumber dari kantong pribadinya, dan 150 lembar dari donatur.

Pria yang tinggal di Kelurahan Beringin Raya, Kecamatan Muara Bangkahulu, Kota Bengkulu ini juga akan menyalurkan bantuna masker di kawasan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) M Yunus Bengulu. Itu diperuntukkan keluarga pasien rumah sakit.
Pembagian masker kepada pengguna jalan, pria 28 itu dibantu rekannya, dari Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Madyapala, Universitas Muhammadiya Bengkulu (UMB).
''Masker itu saya bagikan secara gratis. Sehari saya bisa membuat 100 masker kain, itu dikerjakan sendiri,'' sampai pria yang akrab disapa 'Bebek' ini.
Masker ciptaannya itu akan terus diproduksi hingga batas kemampuannya. Sebab, saat ini dia hanya berpikir untuk terus berbagi kepada masyarakat, yang masih membutuhkan masker.
Sebab kasus orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan di provinsi itu terus bertambah. Termasuk kasus notifikasi pelaku perjalanan dari zona merah atau orang tanpa gejala (OTG).
Hingga Selasa 7 April 2020, pukul 17.01 WIB. Total kasus ODP di Bengkulu, sebanyak 483 orang. Rinciannya, 212 dinyatakan sehat, ODP yang meninggal dunia 1 kasus, ODP menjadi PDP 1 kasus, dan 269 ODP dalam proses pemantauan.
Sementara total kasus PDP 14 orang. Yakni, 2 orang dinyatakan sehat, PDP menjadi konfirmasi 2 orang, meninggal 4 orang, dalam proses pengawasan 6 orang. Di mana 6 orang PDP itu.
Lalu, 2 orang dilakukan pengawasan secara mandiri, 1 PDP dirawat di RSUD Hasannudin Damra, Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan, dan 3 kasus PDP dirawat di RSUD M Yunus Bengkulu.
Sementara kasus notifikasi pelaku perjalanan dari daerah terjangkit atau dari zona merah 13.887 orang. Pelaku perjalanan atau OTG itu berdasarakan data tim surveillance Dinkes Provinsi Bengkulu, dan Dinkes kabupaten/kota di Bengkulu.
''Saya membuat masker kain sampai semampunya saja, kalau sekarang masih memproduksi masker,'' tuturnya

Berita ini sudah terbit di OKEnews