Mengenang Ramang, Lagenda Sepakbola Kita - Indometro Media

Berita Terbaru

Tuesday, July 24, 2018

Mengenang Ramang, Lagenda Sepakbola Kita

Baca Juga


Mengenang Ramang, Lagenda Sepakbola Kita
Ramang

INDOMETRO.IDCERITA Piala Dunia 2018 dan bintang-bintang pesepak bola belum habis. Sepanjang dua jam penerbangan Garuda GA 618 Jakarta-Makassar, Rabu (18/7), Fikar Rizky Mohammad, ceo Ceknricek.com masih berdebat dengan saya mengenai kehebatan Cristiano Ronaldo. Buat saya Ronaldo bikin malu. Pulang dari Rusia belum waktunya. Tidak bisa meloloskan Portugal ke perempat final.
Fikar dari dulu memang menjadi fans sepakbola. Dalam hal pemain, ia fans akut pesepakbola terkaya di dunia itu. Sejak CR7 mencuri perhatian dari club underdog Sporting Lisbon yang bertemu Manhester United pada undian Liga Champions. Lalu para pemain MU memohon Sir Alex pelatih MU untuk menggaet Ronaldo di musim berikutnya. Puncaknya ketika CR7 jadi bintang Real Madrid. Saya pernah mengantar Fikar ke Madrid, Spanyol, tur ke Markas Real Madrid di Stadion Barnabue.

Ronaldo sebenarnya bukan pesepak bola pertama yang bergelimang harta karena kepiawaiannya mengolah si kulit bundar. Ada ratusan pesepakbola kelas bintang yang bergelimang uang. 

Ditopang informasi era digital, maka seluruh warga dunia bisa mengetahui hampir semua hal mengenai bintang pesepakbola. Termasuk Ronaldo.

Pada waktu final Piala Eropa di Paris 2016, saya nonton laga Portugal vs Perancis. Peter F Gontha, Dubes RI di Polandia yang traktir kami. Bisa menonton laga bergengsi itu box eksklusif.

Portugal yang dikapteni Ronaldo berhasil menggusur Perancis yang jadi favorit juara waktu itu. Ronaldo memang mencetak gol. Tapi komentar media menyebut, Portugal berhasil menjebol gawang Perancis berkat strategi Ronaldo di lapangan sebagai kapten. Tak heran jika wajahnya lah yang menghiasi headline semua media di dunia. Presiden Portugal pun menghadiahinya dengan mengabadikan namanya menjadi nama bandara di Portugal.

Nasib baik selalu memihak Ronaldo. Biarpun dia gagal mengantar Portugal ke babakperempat final Piala Dunia, tapi  Ronaldo tetap mencuri perhatian dunia. Dia bikin berita besar: Dia pindah ke club Juventus. Harga transfernya Rp.1,9 trilyun. Lebih besar dari aset pabrik mobil Fiat di kota Turin Italia, yang bertetangga dengan Stadion Juventus. Wajar  jika karyawan mobil Fiat berunjuk rasa memprotes nilai transfer Ronaldo yang melebihi aset Fiat yang punya ribuan karyawan.

Kita tahu kemudian, Juventus tidak buang uang. 24 jam setelah membeli Ronaldo, penghasilan Jersey Juventus menghasilkan hampir 520 ribu jesey seharga satu setengah juta rupiah laku dipasaran. setara dengan harga beli Ronaldo. Sebenarnya, jika dilihat dari hitungan nominal, Ronaldo yang lebih tepat membeli Juventus. Minimal merger dua brand; CR7 dan Juventus.

Tiba di bandara Hasanuddin, saya malah terkenang Ramang pesepakbola lagendaris asal Makassar. Lagenda sepakbola yang tak menikmati kegemilangannya secara ekonomi.

Andi Ramang (lahir di Barru, Sulawesi Selatan, 24 April 1924 - meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan, 26 September 1987 pada umur 63 tahun) adalah pemain sepak bola Indonesia dari PSM Makassar yang terkenal pada tahun 1950-1960 an.

Ia berposisi sebagai penyerang. Pernah mengantarkan PSM ke tangga juara pada era Perserikatan serta pernah memperkuat tim nasional sepak bola Indonesia. Pada masa itu tim Nasional berhasil menahan Uni Sovyet 0-0. Ramang sebenarnya berpeluang memenangkan tim Nasional. Dia sudah mendekati kotak finalti ketika pemain belakang Sovyet menarik celananya. Saking kerasnya tarikan itu membuat Ramang berhenti. Kalau tidak, dia bisa bugil. "Ketika itu saya hampir mencetak gol. Tapi kaus saya ditarik dari belakang," kata Ramang.

Ramang sudah lama tiada. Tapi kenangan warga pada pesepakbola ini diabadikan lewat Patung Ramang yang berdiri persis di depan Mesjid Terapung, "Amirul Mukminin", di kawasan Pantai Losari.

"Saya yang bangun patung ini," kata Andi Anshari, pengurus mesjid terapung yang menemani kami salat Jumat (20/7) hari itu. Anshari memenangkan tender pembangunan patung perunggu itu dari Pemkot Makassar.

Saya sejak bocah mengagumi Ramang. Mungkin berlebihan kalau saya menganggap sampai sekarang pun saya menganggap Tuhan belum menciptakan lagi pemain sekelas Ramang. Bayangkan masa itu. Di masa perhatian pemerintah dan masyarakat belum sebagus sekarang kepada atlet, seperti kepada Zohri, misalnya, Ramang sudah luar biasa. Saluran informasi belum secanggih sekarang, tetapi di hampir seluruh rakyat penggemar bola di Indonesia mengenal dan mengakui kiprah

loading...
Ramang. 

Ramang hidup prihatin. Sehari-hari ia mengayuh becak untuk menafkahi keluarganya. Setelah menggantung sepatu, Ramang makin hidup terlunta-lunta. Saya pernah mewancarai Ramang di rumah petakannya di Makassar. Memilukan untuk ukuran atlet kenamaan. Kontras dengan Ramang terlanjur tumbuh dalam benak. Masih usia bocah di akhir 60 an dan awal tujuhpuluhan, saya menikmati betul permainannya di lapangan. Tendangannya keras. Jika membentur kiper-maksudnya kiper berani tahan-maka bola dan kipernya bisa bareng bersarang di gawang. Tendangan pisangnya juga indah mengecoh penjaga gawang.

Ramang dikenal sebagai penyerang haus gol. Penembak jitu. Dari sudut mana pun, dalam keadaan sesulit bagaimana pun, ia menendang sambil berlari kencang.

Salah satu keunggulannya yang diidamkan oleh setiap pemain bola kita hingga saat ini adalah tembakan saltonya. Keahlian itu tampaknya karunia alam khusus untuk Ramang yang bekas pemain sepakraga yang ulung. Gol melalui tendangan salto yang indah dan mengejutkan seringkali dipertunjukkan oleh Ramang.

Satu di antaranya saat PSSI mengalahkan RRC dengan 2-0 di Jakarta. Kedua gol itu lahir dari kaki Ramang, satu di antaranya tembakan salto. Itu pertandingan menjelang Kejuaraan Dunia di Swedia, 1958. Pertandingan kedua dilanjutkan di Peking, Indonesia kalah dengan 3-4, sedang yang ketiga di Rangoon (juga melawan RRC) dengan 0-0. Sayang sekali lawan selanjutnya ialah Israel (yang tak punya hubungan diplomatik dengan Indonesia) maka PSSI terpaksa tidak berangkat.

Sambil main bola, Ramang tetap menjadi seorang kenek truk dan tukang becak. Terakhir ia terpaksa meninggalkan profesinya sebagai penarik becak karena sibuk bermain bola. Itulah yanh membuat kondisi keluarganya yang tinggal menumpang di sebuah rumah temannya menjadi sangat memprihatinkan. "Namun apapun yang terjadi, hidup mesti dijalani. Coba kalau isteri saya tidak teguh iman, mungkin sinting," kata macan bola itu.

Ramang tak bisa lepas dari lapangan sepak bola. Baginya, meninggalkan lapangan sepak bola sama saja menaruh ikan di daratan. "Hanya bisa menggelepar-gelepar lalu mati," katanya.

Mendengar kehebatan Ramang di lapangan sepak bola, tak heran jika pada tahun 50-an, banyak bayi lelaki yang lahir kemudian diberi nama Ramang oleh orangtuanya.

Jika Ramang ditanya mengenai pertandingan paling berkesan, ia akan menyebut ketika PSSI menahan Uni Soviet 0-0 di Olimpiade Melbourne 1956.

Kembali ke Ronaldo, pujaan Fikar. Tidak lama setelah bergabung di Juventus, Ronaldo muncul dalam sebuah tayangan video yang viral. Adegannya sedang duduk di kursi private jet. Lalau ia terperanjat ketika pilot mengumumkan akan mendarat di bandara Portugal yang mengabadikan namanya: Christiano Ronaldo International Airport. Dia tersenyum bangga.

Apa yang tidak dimiliki atlet berusia 34 tahun ini? Penghasilannya ratusan miliar pertahun. Tapi rasanya perih jika bersamaan mengingat Ramang. Seperih nasib Ramang di akhir hidupnya(rmol)

No comments:

Post a Comment