Ruteng, NTT, Indometro.id — Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores pada Sabtu (15/8/2026) sekitar pukul 05.30 WITA tidak hanya merusak rumah warga, tetapi juga menyebabkan kerusakan berat pada Kantor Desa Beamese, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Bangunan kantor desa mengalami kerusakan akibat runtuhan bagian tembok. Sejumlah fasilitas dan perabot perkantoran ikut tertimpa material bangunan hingga mengalami kerusakan berat dan tidak lagi dapat digunakan untuk menunjang pelayanan administrasi pemerintahan desa.
Peralatan yang rusak antara lain sejumlah lemari, meja dan kursi, tiga unit komputer, lima unit laptop serta satu unit Starlink yang selama ini digunakan untuk menunjang kebutuhan komunikasi dan pelayanan pemerintahan desa.
Kondisi tersebut membuat aktivitas pemerintahan Desa Beamese harus dipindahkan sementara ke lokasi pengungsian.
Kepala Desa Beamese, kecamatan Cibal kabupaten Manggarai, Siprianus Tari, mengatakan pemerintah desa bersama seluruh aparat kini menjalankan pelayanan masyarakat dari tenda darurat yang didirikan secara swadaya di lapangan sepak bola Paroki St. Antonius Padua Rii Beamese.
Menurut Siprianus, pemindahan aktivitas tersebut dilakukan agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan sekaligus memenuhi kebutuhan pelaporan terkait kondisi pascagempa kepada Pemerintah Kabupaten Manggarai.
“Untuk sementara kami melaksanakan aktivitas perkantoran di posko bencana. Kami membangun tenda darurat secara swadaya di lapangan sepak bola. Pelaporan terkait bencana tetap kami lakukan meskipun fasilitas kantor mengalami kerusakan,” ujar Siprianus.
Keterbatasan peralatan kerja juga menjadi persoalan tersendiri. Untuk menyusun laporan dan menjalankan administrasi desa, pemerintah desa terpaksa meminjam sebuah laptop milik guru SMAN 3 Cibal, Haryanto Dala, S.Pd.
Siprianus mengatakan, pelayanan masyarakat tetap dilakukan sejak pagi hingga malam. Bahkan, dirinya bersama aparat desa memilih tetap tinggal di tenda darurat bersama warga terdampak.
“Kami melayani kebutuhan masyarakat dari pagi sampai malam. Kami juga menginap di tenda ini bersama warga. Makan dan minum pun kami lakukan di sini,” katanya.
Ia berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat memberikan perhatian lebih terhadap kondisi masyarakat Desa Beamese yang terdampak gempa.
“Kami mengharapkan pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi dan pemerintah pusat dapat memperhatikan kebutuhan kami di Desa Beamese,” harap Siprianus.
Warga Minta Bantuan untuk Korban yang Kehilangan Tempat Tinggal
Harapan serupa disampaikan warga terdampak, Haryanto Dala. Ia meminta pemerintah segera memberikan perhatian kepada masyarakat yang rumahnya mengalami kerusakan berat bahkan rata dengan tanah.
Menurutnya, sebagian warga kini terpaksa bertahan di tenda karena tidak lagi memiliki tempat tinggal yang layak.
“Kami berharap pemerintah kabupaten, provinsi dan pusat memperhatikan warga yang terdampak. Ada masyarakat yang kehilangan tempat tinggal karena rumah mereka rusak total dan hanya menyisakan puing-puing,” ungkap Haryanto.
Selain kebutuhan tempat tinggal sementara, warga juga membutuhkan bahan makanan, obat-obatan dan berbagai kebutuhan dasar lainnya.
Haryanto mengatakan sejumlah warga yang bertahan di tenda mulai mengalami gangguan kesehatan. Kondisi tersebut diduga dipengaruhi oleh cuaca dingin serta situasi pengungsian yang masih serba terbatas.
“Masyarakat juga membutuhkan bantuan sembako dan obat-obatan. Ada warga yang tidur di tenda kemudian mengalami sakit, mungkin karena udara dingin dan kondisi lainnya,” katanya.
Pelayanan Kesehatan Tetap Berjalan di Tenda Darurat
Di tengah keterbatasan fasilitas, pelayanan kesehatan bagi warga terdampak gempa tetap dilakukan di posko tenda darurat.
Petugas kesehatan Puskesmas Beamese secara bergantian memberikan pelayanan kepada warga yang membutuhkan, baik siang maupun malam.
Salah seorang petugas kesehatan Puskesmas Beamese, Gratiana Nesi, yang akrab disapa Ana, mengatakan ketersediaan obat-obatan menjadi salah satu kebutuhan penting di lokasi pengungsian.
Ia berharap Dinas Kesehatan dapat segera menambah atau mendistribusikan stok obat-obatan ke wilayah terdampak sehingga pelayanan kepada korban gempa dapat terus berjalan.
“Kami mengharapkan Dinas Kesehatan dapat mendroping obat-obatan untuk memenuhi kebutuhan pasien di sini,” ungkap Ana.
Bantuan Sembako Mulai Berdatangan
Di tengah kondisi yang masih memprihatinkan, bantuan kebutuhan pokok mulai diterima masyarakat Desa Beamese.
Kepala Desa Beamese menyampaikan apresiasi kepada Camat Cibal yang dinilai cepat merespons kebutuhan warga dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah sehingga bantuan sembako dapat disalurkan kepada masyarakat terdampak.
Siprianus juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Manggarai, khususnya Bupati Manggarai, atas bantuan berupa 300 kilogram beras, 13 dos mi instan, beberapa papan telur dan beberapa dos air minum.
Apresiasi juga diberikan kepada Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Manggarai, Thomas Tahir, yang turut memberikan bantuan berupa 250 kilogram beras, beberapa dos mi, beberapa papan telur dan beberapa dos air minum.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Manggarai, Bupati Manggarai, Camat Cibal dan Bapak Thomas Tahir yang telah memberikan bantuan kepada masyarakat terdampak. Semoga selalu diberikan kesehatan dan berada dalam lindungan Tuhan,” tutur Siprianus.
Meski bantuan mulai berdatangan, kebutuhan warga di Desa Beamese masih cukup besar. Kerusakan rumah, fasilitas pemerintahan, keterbatasan tempat tinggal, kebutuhan pangan serta obat-obatan menjadi persoalan yang harus segera mendapat perhatian.
Warga berharap pemerintah dan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap korban bencana dapat terus membantu masyarakat Desa Beamese hingga kondisi berangsur pulih dan kehidupan warga kembali normal.
Yos Geong dan Tim.





Posting Komentar untuk "Diterjang Gempa M 7,7, Kantor Desa Beamese Mengalami Kerusakan, Perabot dan Peralatan Kerja Hancur"