Beamese, NTT, Indometro.id — Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (15/8/2026) sekitar pukul 05.30 WITA, menimbulkan dampak serius di Desa Beamese, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai.
Guncangan gempa menyebabkan ratusan rumah warga mengalami kerusakan, baik kategori rusak berat maupun rusak ringan. Selain kerusakan bangunan, sejumlah warga juga dilaporkan mengalami luka-luka akibat tertimpa material rumah yang roboh.
Salah satu korban luka adalah Rafael Ogar, warga Dusun Weli, Desa Beamese. Ia mengalami patah tangan akibat dampak gempa.
Duka mendalam juga dirasakan keluarga korban Atin Jas, seorang siswi kelas V SDK Rii yang masih berusia 10 tahun. Atin meninggal dunia setelah tertimpa material tembok rumah yang roboh saat gempa mengguncang wilayah tersebut.
Korban luka berat lainnya adalah Mansuetus Abel, seorang guru Sekolah Dasar di SDK Rii. Ia mengalami luka pada bagian wajah dan kepala setelah tertimpa material bangunan rumah.
Mansuetus menuturkan, ketika gempa terjadi, dirinya sempat berupaya menyelamatkan diri bersama istri dan ketiga anaknya. Namun, dalam situasi panik tersebut, ia justru tertimpa material bangunan.
Rumah miliknya kini hancur dan hanya menyisakan puing-puing. Besarnya kerugian material yang dialami belum dapat dipastikan karena hingga kini ia masih menjalani perawatan di tenda darurat yang didirikan di lapangan sepak bola Paroki Santo Antonius Padua Rii, Beamese.
Puskesmas Beamese Layani Korban di Tenda Darurat
Di tengah kondisi pascagempa, petugas kesehatan Puskesmas Beamese bergerak memberikan pelayanan kepada warga terdampak. Para korban yang membutuhkan perawatan ditangani di tenda darurat karena kondisi sejumlah bangunan belum memungkinkan digunakan seperti biasa.
Kepala Puskesmas Beamese, Melki, bersama seorang dokter dan tenaga kesehatan lainnya terus memberikan pelayanan kepada para korban sejak Sabtu pagi hingga Senin (17/8/2026).
Obat-obatan yang tersedia dimanfaatkan untuk menangani warga yang mengalami luka maupun keluhan kesehatan akibat bencana.
Melki mengatakan, pelayanan kepada masyarakat merupakan tanggung jawab yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh, terlebih dalam situasi bencana.
“Tugas keprofesian kami adalah melayani pasien dengan baik, penuh cinta persaudaraan dan secara sungguh-sungguh sampai pasien sembuh,” ujar Melki.
Ia menegaskan bahwa dirinya bersama para tenaga kesehatan tetap berada di tenda darurat untuk memastikan warga yang menjadi korban gempa mendapatkan perawatan.
Hingga berita ini diturunkan, sekitar 15 korban gempa, terdiri dari orang dewasa dan anak-anak, masih menjalani perawatan di tenda darurat.
Warga Masih Bertahan di Tenda
Pantauan di lapangan menunjukkan, warga Desa Beamese masih dihantui kekhawatiran karena gempa susulan dengan intensitas lebih kecil masih dirasakan.
Sejumlah tenda darurat didirikan di berbagai dusun, halaman SDK Rii, hingga pekarangan rumah warga. Tenda tersebut digunakan sebagai tempat berlindung sekaligus lokasi untuk memasak dan tidur karena sebagian rumah mengalami kerusakan dan warga khawatir kembali ke dalam bangunan.
Warga yang menjadi korban bencana berharap pemerintah dan berbagai pihak segera memberikan bantuan, terutama kebutuhan dasar, obat-obatan, terpal, selimut, tikar, serta kebutuhan lainnya.
Sejumlah tenaga kesehatan yang tidak ingin disebutkan namanya juga berharap pemerintah segera menambah pasokan obat-obatan untuk mendukung pelayanan kepada korban yang masih menjalani perawatan di tenda darurat.
Pastor Paroki Bantu Warga Terdampak
Kepedulian terhadap korban gempa juga datang dari Pastor Paroki Rii, Romo Tarsi Syukur, Pr. Ia turun membantu warga yang bertahan di sejumlah tenda dengan memberikan beras dan bahan kebutuhan pokok.
Romo Tarsi juga melakukan komunikasi dengan pihak Keuskupan Ruteng agar bantuan bagi masyarakat terdampak gempa dapat segera disalurkan.
Sementara itu, masyarakat menyampaikan apresiasi kepada WFI yang telah memberikan bantuan kepada korban yang berada di tenda darurat lapangan sepak bola Paroki Santo Antonius Padua Rii.
Bantuan tersebut antara lain berupa terpal, lampu sorot, selimut dan tikar.
Namun, warga menyebut masih terdapat banyak korban yang tinggal di tenda darurat dan belum mendapatkan bantuan serupa.
Warga Harapkan Bantuan Segera Merata
Masyarakat Desa Beamese berharap pemerintah, lembaga kemanusiaan, organisasi sosial, pihak swasta, maupun masyarakat luas dapat memberikan bantuan secara merata kepada seluruh warga yang terdampak.
Selain kebutuhan pangan dan perlengkapan tempat tinggal sementara, bantuan obat-obatan dan layanan kesehatan juga dinilai sangat penting mengingat masih banyak warga yang mengalami luka serta memilih bertahan di tenda karena khawatir terhadap gempa susulan.
Hingga Senin (17/8/2026), warga masih melakukan aktivitas dari tenda darurat sambil menunggu penanganan lebih lanjut terhadap rumah dan fasilitas yang terdampak gempa.
Masyarakat berharap proses pendataan kerusakan, penanganan korban, serta distribusi bantuan dapat dilakukan secara cepat dan merata agar warga Desa Beamese yang terdampak bencana tidak semakin kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Yos Geong dan tim.





Posting Komentar untuk "Gempa Flores M 7,7 Rusak Ratusan Rumah di Beamese, Satu Anak Meninggal Dunia"