Kuala Simpang. Indometro. Id - Ketahanan psikologis guru menjadi faktor penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman pascabencana melalui konsep self-compassion.
Atas dasar itu, Tim PKM UNESA menggelar kegiatan “Pendampingan Guru dalam Psikososial Siswa Satuan Pendidikan Terdampak Bencana” di SD Negeri 2 Percontohan, Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang.
Kegiatan ini diikuti oleh 30 guru dari berbagai sekolah di wilayah tersebut pada beberapa hari lalu.
Ketua Tim PKM UNESA, Dr. Wiryo Nuryono MPd yang beranghotakan Muchammad Syuhada’, MPd, Restu Dwi Ariyanto MPd, dan Ela Nur Fadilah MPd kepada media ini, Sabtu (21/2/2026) mengatakan, kegiatan ini memfokuskan pendampingan pada penguatan self-compassion sebagai fondasi kesehatan mental pascabencana.
Katanya, Ela Nur Fadilah MPd menjelaskan, bahwa self-compassion merupakan kemampuan untuk bersikap ramah dan penuh penerimaan terhadap diri sendiri, terutama ketika berada dalam situasi sulit.
“Self-compassion adalah kemampuan untuk memahami bahwa rasa lelah, sedih, dan terluka adalah hal yang manusiawi, sehingga kita tidak menghakimi diri sendiri, tetapi justru merawat diri agar tetap kuat,” ujarnya.
Dijelaskannya, para guru kemudian diajak mempraktikkan teknik pernapasan sederhana untuk membantu menenangkan diri dan mengelola emosi saat menghadapi tekanan maupun persoalan sehari-hari.
Dr Wiryo menuturkan, sesi praktik berlangsung tenang, memberi ruang bagi para guru untuk sejenak berhenti dan menyadari kondisi emosional masing-masing.
Diungkapkannya, kegiatan ini juga diselingi dengan permainan edukatif yang mengangkat nilai-nilai anti kekerasan dalam praktik pembelajaran.
"Melalui games tersebut, guru diajak merefleksikan bahwa dalam membimbing siswa, pendekatan yang digunakan seharusnya berbasis kelembutan, empati, dan komunikasi positif," kata Wiryo.
Dikatakannya, skap tegas tidak harus diwujudkan dalam bentuk hukuman fisik maupun verbal, melainkan melalui keteladanan.
Pada sesi terakhir ujarnya, peserta mengikuti sesi refleksi diri yang diiringi alunan musik lembut.
"Dengan mata tertutup, para guru dituntun untuk berterima kasih kepada diri sendiri dan menerima pengalaman yang telah dilalui," ungkap Wiryo.
Diungkapkannya, sesi ini berlangsung haru, beberapa peserta tampak meneteskan air mata karena teringat bencana banjir yang menimpa dua bulan silam.
Ia mengharapkan, pendampingan ini tidak hanya membantu pemulihan kondisi psikologis guru, tetapi juga memperkuat peran mereka dalam memberikan dukungan psikososial kepada siswa.
Wiryo menambahkan, dengan kondisi emosional yang lebih stabil, guru diharapkan mampu menciptakan ruang belajar yang suportif dan penuh empati bagi siswa di wilayah terdampak bencana.
Sementara itu salah seorang peserta, Irawati guru SD Negeri 4 Kuala Simpang mengungkapkan, bahwa sesi tersebut memberinya ketenangan baru.
“Setelah menutup mata, saya merasa lebih tenang. Terbayang masa pengungsian dan musibah yang kami alami, tapi sekarang rasanya jauh lebih rileks dan aman,” ucapnya.(*)




Posting Komentar untuk "Tim PKM UNESA Bangun Ketahanan Mental Guru Pascabencana di Aceh Tamiang "