Komisaris PT Trinitan - Vice Presiden HMI Ke DPP APNI, Bincang Hangat Bersama Sekjen APNI

Komisaris PT Trinitan - Vice Presiden HMI Ke DPP APNI, Bincang Hangat Bersama Sekjen APNI 


Jakarta, indometro.id - Kunjungan Komisaris PT Trinitan Metals and Minerals (TMM) Richard Tandiono dan Vice President Hydrotech Metal Indonesia (HMI) Romy Ramadhani ke Sekretariat Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) disambut hangat oleh Sekretaris Jenderal APNI Meidy Katrin Lengkey dalam rangka memperkenalkan teknologi Step Temperature Acid Leach (STAL) kepada publik terutama kepada para pengusaha tambang nikel. 

Kunjungan itu dilanjut dengan perbincangan hangat bersama Sekjen APNI Meidy, dimana Richard diberikan pertanyaan awal mengenai sejarah PT Trinitan dan teknologi STAL.

"Trinitan itu apa sih, perusahaan ini apa sih, dia ngapain aja, apa dia penambang juga?" tanya Meidy sapaan akrab dalam bincang hangat tersebut, di kantor DPP Sekjen APNI Jalan Batu Tulis, Jakarta Pusat, Selasa (7/9/2021). 

Menurut Richard, Trinitan Group adalah  perusahaan yang berdiri tahun 1970 lebih dari 50 tahun yang merupakan holding company. Awal perusahaan bergerak bukan pada processing nikel atau STAL teknologi. Dimulainya itu dari baterai atau aki dengan merck NS. 

"Perusahaan kami masuk dari industri, mulai dari manufaktur berjuang bersama perusahaan lokal dan kita mengembangkan teknologi aki. Keberhasilan di industri aki dan berkembang dihulu. Akhirnya masuk ke perusahaan yang akhirnya kita dirikan perusahaan Trinitan metal pada tahun 2007," kata Richard menjawab pertanyaan Sekjen APNI. 

Richard menjelaskan, disisi hilir selain energi baterai Trinitan juga mendirikan perusahaan yang bergerak dibidang solar panel didalam industrinya. 

Akan tetapi industri dengan tambang itu praktek dan cara kerjanya berbeda. Jadi Trinitan tidak mempunyai keinginan untuk masuk ke tambang, tapi Trinitan mempunyai keinginan bagaimana caranya mengembangkan prossecing-prossecing yang bisa dimanfaatkan untuk tambang-tambang yang ada di Indonesia. 

Dari berbagai kondisi pertambangan yang ada di Indonesia, akhirnya Trinitan menyesuaikan dengan kondisi yang seperti itu. Untuk mengakomodir itu Trinitan melihat teknologi yang harus dikembangkan harus yang fleksibel, menyesuaikan dengan kondisi yang ada di Indonesia. 

"Untuk membuat seperti itu, akhirnya memilih hydro pyrometallurgy secara natural. Jadi awal permulaan kita melakukan ekstrasi itu hydro-metallurgy itu dari PB," jelasnya. 

Mulai dari 2007 - 2012 selesai melakukan validitasi di pilot masuk kepada komersialisasi untuk PB. Ketika PB sudah komersialisasi dan selesai pada tahun 2016. Setelah pilot PB diperbolehkan untuk melakukan pengembangan lainnya, akhirnya Trinitan memilih nikel karena nikel di Indonesia sangat besar. 

"Akhirnya mengembangkan nikel di pilot skill hingga sampai tahun 2019 dimana saat itu pemerintah mempercepat larangan ekspor nikel. Akhirnya memilih industri pilot," ujar Richard. 

Meidy melanjutkan, pada tahun 2019 pemerintah mempercepat larangan ekspor yang diterbitkan pada 12 Januari 2017 yang tadinya untuk nikel ore yang tadinya pengusaha pertambangan mendapat waktu 5 tahun untuk ekspor biji nikel sampai pada 12 Januari 2022 tapi oleh pemerintah dipercepat yang akhirnya berhenti di akhir tahun 2019.

"Pada 1 Desember 2020 kami totally tidak bisa mengekspor nikel ore lagi keluar. Itu memaksa kami membangun industri hilirisasi sesuai dengan UU nomor 4 tahun 2009 dimana harus ada value addict (nilai tambah), harus ada pengolahan. Jadi jangan kita melulu itu ekspor tanah air, yaitu tanah nikel yang mengandung kandungan air," lanjutnya. 

Meidy mengungkapkan, beberapa bulan lalu pemerintah sudah melaunching salah satu pabrik STAL, yaitu industri pyrometallurgy. Ketika berbicara baterai, mengolah baterai dari nikel yaitu, nikel mangan dan kobalt. Dua tipikel baterai nikel mangan dan kobalt atau nikel kobalt aluminium. 

Dimana pemerintah juga baru-baru ini mempublikasi adanya pabrik pengolahan untuk baterai yaitu, hydro metallurgy atau teknologi STAL yang salah satunya berada diareal Maluku Utara. 

Dengan skala yang besar, dengan kapasitas yang besar, dengan investasi yang besar. Para pengusaha tambang juga kalau bergabung belum tentu sanggup untuk membangun skala besar seperti itu. 

"Menurut kami investasinya cukup menarik untuk kami ikutan dalam industri hilirisasi. Maksud kami mbo jangan melulu teknologi asing atau orang asing yang menguasai industri hilir nikel. Tapi ada juga teknologi yang dari anak bangsa, teknologi merah putih yang ikut berpartisipasi, ikut mengolah sumber daya alam Indonesia khususnya nikel," ungkapnya. 

Kemudian, Richard menyampaikan pandangannya mengenai pengolahan nikel limonit di Indonesia. salah satunya mengembangkan pilot dengan melakukan pendalaman bisnis suspek. Karena dari awal Trinitan tidak ada niat masuk ke tambang. Akan tetapi smelter ini tidak bisa berdiri sendiri tanpa tambang. 

Pada saat mendalami pengolahan  Trinitan menemukan banyak aspek yang sangat disayangkan. Kalau secara karakteristik Indonesia mempunyai pertambangan yang kekayaan alamnya itu terbesar didunia.

Tapi pada prinsipnya dalam kekayaan alam itu sekitar 80 persennya terkandung nikel yang namanya limonit. Untuk saat ini, industri nikel sangat banyak yang sudah terbangun namun orientasinya kebanyakan pada stainless steel. 

Karakteristik yang dibutuhkan ore itu specific hanya bisa menggunakan saprolit yang terkandung dalam nikel hybrid. Sehingga hampir 80 persen industri nikel mempunyai ore tidak terpakai. 

Kalau berbicara industri, laterit itu sangat cocok untuk baterai. Karena laterit itu mengandung nikel yang berikut serta kobalt, mangan dan lain-lain. 

Hal-hal itu kalau kita simpulkan itu yang membuat vallue ini sangat baik untuk baterai grit yang kedepannya itu akan menggunakan karakteristik NCM (nikel, kobalt, mangan). 

"Jadi dalam satu kandungan itu sudah banyak memiliki kekayaan yang dibutuhkan persis untuk baterai," tukasnya. 

Banyak biji nikel kadar rendah yang tidak teroptimalkan, terbuang percuma karena tidak bisa diserap oleh smelter saat ini, dan ore kadar rendah yang tertumpuk banyak di stokhall penambang menjadi jawaban atas teknologi STAL, dan yang dibutuhkan adalah limonit. 

Kemudian mengenai antara STAL dan SPAL, Richard menerangkan bahwa pada prinsipnya STAL dan SPAL itu tidak jauh beda sebelas duabelas. Seperti pada kimia itu ada bahan yang direaksikan dengan reagen untuk melakukan ekstrasi harus melakukan pelarutan kedalam reagen. 

"Berbicara STAL teknologi yang kami kembangkan reagennya sama. Jadi prinsipnya itu kalau kita membuat minuman teh, tehnya itu di campur gula, nah itu sama. Yang membuat beda itu adalah kalau kita mau membuat ekstrasi nikel yang tinggi, banyak kandungan nikel didalam ore itu terbungkus dan itu tidak bisa hanya dengan secara prinsip dilarutkan saja," terangnya. 

Menurut Richard, untuk mendapatkan ekstrasi yang tinggi harus ada intervensi. Intervensi itu kalau di HPAL (High Pressure Acid Leach) menggunakan hyperpressur tinggi untuk membungkusnya. Sehingga dengan adanya intervensi itu terbuka dan kemudian bisa diekstraksi dengan recovery yang maksimal. 

"Kalau di HPAL kan sudah terbukti hampir 60 tahun pengembangannya sekarang rata-rata sekitar 95 persen ekstrasinya. Konsep itu sebenarnya adalah konsep yang benar. Bahwa kita harus melakukan Intervensi untuk memecahkan itu untuk mendapatkan ekstrasi yang tinggi. Tapi kita temukan diluar pressure yang tinggi ada alternatif lain yaitu dengan intervensi temperatur," tandasnya. 


Baca Juga :

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama