Buronan! Polri Rilis Foto 11 DPO Teroris MIT

 


Sulawesi.Indometro.id - Polisi Indonesia (Polri) mencari 11 anggota jaringan teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso, Sulawesi Tengah. Ke-11 wajah anggota jaringan MIT ini pun telah dirilis Polri dan masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).

Buronan terkait kasus dugaan tindak pidana terorisme itu saat ini disinyalir tengah bersembunyi dan beroperasi di tiga kabupaten di Sulawesi Tengah, yakni Sigi, Poso, dan Parigi Moutong, artinya mereka berada di area Taman Nasional Lore Lindu yang membentang dari Sigi hingga Poso. 

"Saat ini sedang dilakukan pengejaran dalam kasus terakhir di Sigi, bahwasanya kelompok MIT dan yang dipimpin oleh Ali Kalora seperti DPO yang sudah disebarkan masih tersisa 11," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Awi Setiyono dalam keterangan pers di Bareskrim Polri, Selasa (2/12/2020).

"Selama ini berkat penegakan hukum dari tim gabungan Desnsus 88 Anti teror dan Satgas Tinombala telah melakukan penangkapan beberapa 7 orang DPO mulai tahun 2017 sampai dengan 2020," lanjut dia.

Nama-nama 11 anggota MIT yang masih diburu

Sebanyak 11 buronan yang terus dicari itu adalah Ali Ahmad alias Ali Kalora yang merupakan pimpinan kelompok tersebut, sepeninggalan Santoso. Kemudian ada nama lainnya, yakni Qatar alias Farel; Askar alias Jaid alias Pak Guru; Abu Alim alias Ambo; Nae alias Galuh alias Mukhlas; Khairul alias Irul alias Aslan; Jaka Ramadhan alias Ikrima alias Rama; Alvin alias Adam alias Musab; Rulli; Suhardin alias Hasan Pranata; dan Ahmad Gazali alias Ahmad Panjang.

"Penyebaran DPO tindak pidana terorisme diharapkan kepada masyarakat secara luas apabila menemukan DPO tersebut untuk menginformasika kepada Polri baik kepada Satgas Tinombala, Densus 88 Anti teror maupun Polda Sulteng dan jajaran," kata Awi.

Daftar 7 DPO yang sudah ditangkap sejak 2017


Dalam foto DPO tersebut sebetulnya menunjukkan 11 foto wajah anggota jaringan MIT. Namun, tujuh orang di antaranya sudah disilang, karena sudah berhasil ditangkap dan ditembak aparat.

Mereka adalah Moh. Faizal alias Namnung yang berstatus tanda tanya, karena pada tahun 2017 terlibat kontak senjata dan terkonfirmasi terkena tembakan serta beberapa tersangka yang tertangkap menyatakan dia sudah tidak berada di lapangan, namun sampai saat ini tidak ditemukan jenazahnya.

Ada juga Rajif Gandi Sabban alias Rajes MD yang ditangkap pada 25 April 2020, Udin alias Usman menyerahkan diri pada 17 Maret 2020; Ali alias Darwin Gobel MD ditangkap pada 15 April 2020; Muis Fahron als Abdullah MD ditangkap pada 15 April 2020; Wahid alias Aan alias Bojes MD; dan Azis Arifin alias Azis MD pada saat kontak tembak di Parigi tanggal 17 November 2020.

Pembunuhan satu keluarga dan pembakaran tujuh bangunan

Awi juga menjelaskan, beberapa anggota MIT yang sudah ditangkap mengatakan kenapa mereka kerap tak terlihat petugas meski jaraknya hanya 10-20 meter. Mereka bertiarap sehingga tak terlihat petugas, karena hutan di sana terbilang lebat.

Tak hanya itu, Awi menyebut kelompok teroris ini kerap turun ke pemukiman warga untuk merampas makanan.

"Memang dia (MIT) bergerak terus, sementara istilah kami itu kan mereka sudah terdesak karena kehabisan bekal," ujar dia.

Baru-baru ini, kelompok teroris MIT membuat aksi teror dengan membunuh empat warga di Desa Lemban Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, terjadi pada Jumat (27/11/2020).

Korban merupakan satu keluarga, terdiri dari pasangan suami istri, anak, dan menantu. Tujuh bangunan juga dibakar, terdiri dari enam rumah warga dan satu rumah ibadah.

Persembunyian mereka yang berada di gunung dan hutan membuat satgas Tinombala cukup kesulitan.

"Tidak mudah, karena memang tadi disisir, dipatroli satu persatu jalan tikus semua di dalam hutan itu harus dilewati," tukas Awi.


(Musyanto.SE)


Baca Juga :

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama