Ticker

6/recent/Ticker-posts

Politik Optimistik, Loyalis dan Komitmen

foto : (Bung Ode) Penulis adalah penikmat baca politik

indometro.id - Memasuki era reformasi, Demokrasi menjadi intens ketika para elektoral menciptakan budaya politik berdasarkan upaya kritisisme kepada rezim yang nakal dengan berlandaskan regulasi adalah hak setiap warga negara, para pemuda sampai lansia akan tangguh menggaungkan narasi politik sampai ke klimak peradaban baru bagi para pemangku-pemangku kepetingan.

Salah satu filsuf besar yakni Plato yang berasal dari Athena, dalam tulisan nya mengenai 'Negara Ideal' merilis bahwa idealnya satu Negara di dalamnya termasuk peran maksimal dari kaum Filsuf yang merupakan orang-orang cendekiawan, hal ini menjadi potensi bagi para Pelajar yang memliki kapasitas mumpuni dalam membangun arah dan kebijakan Negara yang lebih baik.

Mirisnya, aktualisasi dalam menjemput kontestasi politik yang bermartabat dan demokratis, selalu ada balon maupun pion dalam menunggangi politik etis sehingga bermutasi menjadi politik kebohongan, walaupun sedemikian yang diungkapkan oleh Benjamim Franklyn bahwa "Seni dalam berpolitik adalah menghalalkan segala cara," namun sebagai Negara yang berkonstruksi aturan polarisasi politik tidak bisa mengelabui dokumen normatif.

Tidak bisa dipungkiri, Indonesia adalah negara yang khazanah dengan suku, budaya, adat-istiadat dan segala bentuk norma-norma, kita ketahui bersama bahwa dalam bentuk apapun untuk menciptakan integrasi politik selalu adanya kepentingan kelompok, kepentingan tersebut bukan saja dari aspek partai politik (parpol), tetapi hal yang berbentuk kedaerahan dilingkup sosial akan terus digaungkan secara optimis.

Loyalis dan Komitmen

Siapa saja dalam menentukan arah kecintaanya terhadap suatu objek pasti akan setia dan komitmen, namun jika dikaji dari aspek politik terkadang halusnya Bulu Domba akan bermetamorfosis menjadi Serigala yang siap menyantap, sebab dengan kepentingan besar apapun, pengaruh kekuasaan dapat memusnahkan akal sehat sehingga upaya membesarkan negeri di nomor duakan dan yang diutamakan isi dari kantong perut.

Tak heran bahwa keadaan ekonomi yang secara person mengecil, desakan menghalalkan segala cara potensi menjadi senjata dalam nuansa politik, akibatnya kesempatan bagi para kelompok kepentingan memenjarakan suasna tersebut dengan memberika free dana (Money Politic) ke setiap yang membutuhkan.

Uang bukan jaminan dalam Pemilihan, tetapi aktor dan figur lah yang menjadi penentu utama tercapainya sebuah kemajuan suatu negeri, jika tabiat serta niat baik dari para jargon untuk membangun negeri maka dorongan dari masyarakat sangat diharapkan secara maksimal.

Elitisme sebaiknya sebaiknya memikirkan keadaan negeri dan masyarakat saat ini, sebab kaum elit sebagai penyuplai anggaran serta memliki gagsan berdampak pada kebaikan pembangunan sebuah negara, Getano Mosca menyebutkan ada dua kelas dalam mendistribusikan kekuasaan, pertama orang yang memerintah dan yang kedua orang yang diperintah. Orang yang memerintah kaya akan konseptual maka sangat etis ketika yang diperintah selalu diberi perhatian. (Bung Ode)