Terkait Kematian Hakim PN Medan, Polisi Jangan Cuma Lempar Opini - Indometro Media

Berita Terbaru

Tuesday, December 17, 2019

Terkait Kematian Hakim PN Medan, Polisi Jangan Cuma Lempar Opini

Baca Juga

Redianto Sidi
Krimonolog dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
ist

INDOMETRO.ID – Hampir tiga pekan, kasus kematian Hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan, Jamaluddin, belum juga terungkap. 

Masyarakat sangat menanti kinerja Kepolisian agar kasus ini segera terungkap, sehingga diketahui siapa pelaku maupun motifnya.
 
Krimonolog dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Redianto Sidi meminta agar Kepolisian jangan sekadar melempar opini ke masyarakat.

Dimana sebelumnya, polisi menduga dan meyakini kasus tersebut merupakan pembunuhan berencana. Bahkan, sempat disampaikan bahwa diduga kuat pelakunya adalah orang dekatn
“Kita mengapresiasi, sejak 29 November peristiwa itu terjadi, dilakukan penyelidikan. 

Boleh saja ada statement yang menggembirakan oleh Polda Sumut kepada masyarakat, akan tetapi jangan hanya bersifat opini dan asumsi,” kata Redianto saat dihubungi via selulernya, Senin (16/12).

Kata Redianto, kalau memang sudah terencana, maka segera tingkatkan ke penyidikan. Siapa yang merencanakan? Siapa yang membantu merencanakan? Siapa yang melakukan eksekusi? Dan sebagainya, harus terang-benderang. 

“Sehingga, publik tidak merasa dalam kasus ini hanya diberikan ‘angin surga’ dan statement-statement yang menunda-nunda, yang akhirnya membuat praduga-praduga yang liar di tengah masyarakat. Hal ini tentunya bisa berbahaya,” ungkap Redianto.

Untuk itu, sambung dia, polisi diminta mengungkapkan fakta dan peristiwa hukum dalam kasus tersebut sesuai dengan apa yang telah ditemukan dalam penyelidikan. Dengan begitu, masyarakat tidak berpikir dan adanya opini liar di masyarakat. 

“Jangan hanya melempar opini, melempar statement yang akhirnya bersifat mengulur waktu karena masyarakat sangat menunggu. Sebab, bagaimana mungkin hakim saja yang merupakan wakil Tuhan tidak aman di wilayah kita. 

Bagaimana lagi kita seorang masyarakat biasa, dan ini sangat meresahkan,” cetusnya.

Redianto menegaskan, apabila memang ada pembunuh berencana, maka siapa itu pelakunya? Apakah kelompok pribadi atau jangan-jangan kelompok bayaran, atau bahkan kelompok yang terorganisir? “Ini kan berbahaya kalau tidak ditangkap, bisa saja kejadian yang berikutnya pelaku tersebut diduga dibayar untuk peristiwa-peristiwa lainnya,” ucap dia.

Ia menyatakan, kalau memang pelaku pembunuhan tersebut kabarnya terkait dengan orang-orang dekat, maka tingkatkan ke penyidikan siapa yang dimaksud pelaku tersebut. Hal ini agar masyarakat bisa tenang dan mengapresiasi. 

“Intinya, jangan melempar opini liar. Padahal, kasusnya masih dalam tingkat penyelidikan,” tutur Redianto sembari menambahkan, Kapolda Sumut yang lama Irjen Pol Agus Andrianto pernah menyatakan, bahwa kasus ini akan diungkap sebelum masa jabatannya berganti dengan yang baru. “Masyarakat menunggu itu, makanya harus direalisasikan,” tukasnya.

Tak jauh beda disampaikan praktisi hukum, Julheri Sinaga. Kata Julheri, bagi masyarakat yang terpenting pelakunya ditangkap. 

“Naluri hukum kita meyakini memang seperti itu (diduga pembunuhan berencana). Namun, bagi masyarakat tak penting itu, apakah pembunuhan berencana atau pembunuhan lainnya. 

Sebab, yang terpenting adalah terungkap siapa pelakunya. Masyarakat hanya ingin pelakunya ditangkap, itu saja,” ujar Julheri yang juga dihubungi.

Ia menyatakan, dalam kasus tersebut memang membutuhkan kerja keras pihak kepolisian. Hal itu tak lain agar masyarakat tidak merasa was-was karena pelakunya berkeliaran. 

“Kalau dugaannya pembunuhan terencana, maka pelakunya tentu tidak satu orang. Untuk itu, masyarakat butuh kepastian dan jangan hanya berkutat seakan-akan mencari-cari alasan guna menenangkan masyarakat,” pungkas dia.

Diberitkana sebelumnya, Kapolda Sumut yang lama Irjen Pol Agus Andrianto mengatakan, pihaknya masih terus mendalami kasus tersebut. Bahkan, menguji alibi-alibi sehingga segera bisa menyimpulkan siapa tersangkanya. “Dalam perkara-perkara perencanaan, hasil keterangan saksi, alat bukti yang ada, analisis terhadap (jenazah) korban baik itu secara laboratoris forensik maupun kedokteran forensik, ini pembunuhan berencana. 

Pembunuhan berencana itu agak relatif butuh waktu. Jadi mohon bersabar, kita tetap konsen untuk bisa segera mengungkap kasus ini,” ujar Agus diwawancarai saat menghadiri acara family gathering dengan wartawan di Budaya Resto, Sabtu (14/12).

Kata Agus, dalam kasus ini pihaknya tidak bisa mengambil langkah cepat untuk menentukan pelakunya karena diduga kuat terencana. Karena itu, harus menggunakan teknik ilmiah. 

“Kita akan gunakan scientific investigation, artinya menggunakan teknik-teknik ilmiah untuk membuktikannya.

Sebab tidak bisa sembarangan, pelan-pelan karena kasus ini sangat rapi, halus kejadiannya, sehingga kita meyakini bahwa pembunuhan berencana. Oleh karenanya, butuh waktu untuk menetapkan siapa pelakunya,” papar Agus.

Menurut jenderal berpangkat bintang dua ini, penyidik punya keyakinan dan perkiraan akan tetapi hal itu tidak boleh diungkapkan. 

“Kita akan terus melakukan pendalaman dari feeling penyidik, mudah-mudahan kita bisa segera menentukan pelakunya,” ucapnya.

Ditanya kesulitan dalam mengungkap kasus ini? “Masalahnya belum ada titik masuknya aja. Namun, ada yang menyampaikan bahwa kalau bisa mengungkap kasus-kasus yang sulit, maka itu berarti pintar. Jadi, kita belajar dengan kasus-kasus yang terjadi,” jawabnya.

Karena terencana, sambung Agus, maka pihaknya harus berhati-hati. 

“Alat bukti yang ada, keterangan saksi, terus didalami, dievaluasi, supaya apakah kecurigaan penyidik ini atas suatu motif yang kemungkinan-kemungkinan menjadi faktor penyebab dibunuhnya korban bisa kita buktikan. 

Jadi, intinya mohon waktu,” ungkapnya lagi.

Diutarakan Agus, dalam beberapa kasus pembunuhan ada yang cepat terungkap karena kejadiannya spontan, pelakunya jelas, keterangan saksinya kuat. 

“Nah, ini kan kita tidak bisa menduga-duga karena menyangkut praduga tak bersalah,” pungkasnya

berita ini bersumber dari sumutpos

No comments:

Post a Comment