Maratapi Nasib Ternak Kuda Di Mausui - Indometro Media

Berita Terbaru

Thursday, May 2, 2019

Maratapi Nasib Ternak Kuda Di Mausui

Baca Juga


FLORES NTT,INDOMETRO.ID -  Salah satu jenis hewan yang menjadi kebanggan bagi masyarakat  etnik Rongga di wilayah selatan, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Propinsi Nusa Tenggara Timur adalah ternak kuda. 

Pasalnya jenis ternak ini memiliki nilai historis yang tinggi, nilai sosial ekonomi sekaligus menunjukkan peradaban masyarakat setempat.

Namun terpaaan bencana panas panjang pada tahun 2015 lalu mengakibatkan ternak  yang umumnya  dipelihara dengan cara membiarkan di padang savanna Maususi, Kelurahan Watungge itu mati semuanya. 


Tidak ada ternak yang diselamatkan meski berbagai upaya telah dilakukan. Hingga saat ini  belum ada warga yang mampu mengadakannya kembali karena kondisi ekonomi yang memrihatinkan. Ancaman akan punahnya ternak tersebut pun tidak bisa dihindarkan.

Dari sisi sejarah, sejak leluhur  Etnik Rongga menempati wilayah pesisir selatan Kecamatan Kota itu,  ternak kuda merupakan  tanda peradaban seseorang. 


Selain berfungsi  sebagai alat transportasi, mengangkut bahan-bahan makan dari kebun, mahar perkawinan juga menunjukkan predikat secara ekonomi. Karena itu setiap warga, apabila memiliki pendapatan yang lebih dari hasil pengolahan kebun ladang, menyadap nira atau  berburu ikan di laut mereka berusaha untuk menukar dengan ternak kuda. 

Jika sudah mendapatkannya mereka memelihara secara telaten hingga berkembang pesat, budidaya ternak tersebut pun selalu dipertahakan  dari generasi ke generasi hingga saat ini.




Hasil penelusuran media ini  dari isis  perjalanan waktu  bencana yang menimpah ernak kuda bukan hanya terjadi pada  tahun 2015 lalu. Jauh sebelum itu sekitar tahun 1969 pernah terjadi bencana berupa serangan penyakit antraks. 


Saat itu banyak ternak kuda yang mati, tetapi dari sekian banyak ternak yang menjadi korban keganasan penyakit tersebut, beberapa diantaranya  bisa diselamatkan karena berhasil mereka ungsikan ke tempat lain.  Dari sisa ternak yang ada itu, kemudian dibudidayakan secara tradisional sehingga perkembangan ternak tersebut bisa dipulihkan.

Untuk diketahui tidak semua warga etnik itu  memiliki ternak tersebut, hanya orang-orang tertentu saja. Tetapi ikatan kekerabatan yang kuat antar warga maka para pemilik hewan itu   akan menyerahkan sebagian induk ternak kudanya kepada warga lain untuk dipelihara. Kebijkan ini mencerminkan rasa solidaritas  serentak memberi ruang kepada warga yang lain agar ternak tersebut memasyarakat dan menjadi  kebanggan bersama.

Dengan cara ini  bisa diamini betapa membanggakan memiliki ternak tersebut sehingga upaya membudidayakannya menjadi  ethos kebijakan bersama.  Apabila ada warga yang meminjam ternak  karena desakan kebutuhan berkaitan dengan urusan keluarga pemilik kuda akan memberinya dengan sukarela tanpa  kwitansi pinjam meminjam. Dan semua warga insaf akan kearifan tersebut, menghayati sebagai kebajikan bersama.

Pelaku pariwisata di Kota Komba, Fery Huick, yang ditemui wartawan menjelaskan, ternak kuda menjadi salah satu potensi wisata. Karena itu pihaknya senantiasa memperkenalkan  saarana transportasi kuda kepada wisatawan asing yang hendak mengaso di seputaran savanna Mausui. Namun belakangan ini tidak bisa efektif karena ternak kuda sudah tidak ada menyusul bencana panas panjang beberapa waktu lalu.

“Kepada wisatawan saya selalu perkenalkan alat transportasi kuda. Mereka senang dan sering menggunakan jasa kuda. Pemilik kuda pun mendapat penghasilan dari jasa kuda itu. Hanya perlu pemulihan keberadaan ternak itu menyusul bencana panas panjang beberapa waktu lalu. Saat ini agak sulit saya dapatkan kuda bila wisatawan manca Negara membutuhkannya,” ujarnya.

Kecuali itu dia mengharapkan agar masyarakat setempat dapat mencari solusi untuk mengadakan bibit ternak kuda sehingga hewan kebangaan tersebut tetap lestari. Jika tidak ada upaya menyelamatkan ternak itu maka bisa saja akan puna di wilayah ini.

Tokoh masyarakat Mausui, Markus Bana dan Simon Liko yang ditemui wartawan, mengaku ternak kuda hanya beberapa saja yang masih sisa. Itupun jenis jantan  dan karena saat  panas panjang masih bisa bertahan hidup di tempat pengasingan. Sementara yang betina dan anaknya mati karena tidak bisa bertahan dengan kondisi alam yang ganas.

Menurut keduanya, sepanjang sejarah, bencana beberap tahun lalu itu 
merupakan yang terbesar. Sebab hewan yang mati tidak hanya kuda tetapi termasuk sapi dan kerbau. Ternak kuda dilihat dari fakta historis, beber keduanya yang ditemui terpisah memiliki nilai lebih khusus dan khas karena keberadaan ternak tersebut menjadi kebanggan. Selain itu menjadi sumber pendapat ekonomi masyarakat menyusul daya beli warga Jene Ponto, Sulawesi Selatan sangat bagus.

Namun saat ini tidak bisa diharapkan lagi karena masyarakat setempat sulit mendapat bibitnya.   Keduanya mengharapkan agar di masa pemerintahan yang baru Bupati Manggarai Timur, Ande Agas, SH.MHum dan Wakil Bupati, Drs. Stefanus Jaghur bisa  menolong warga setempat dengan memberi bantuan kelompok bibit kuda  sehingga ternak yang menunjukkan peradaban etnik Rongga ini tetap lestari.

Untuk diketahui, komunitas  Rongga merupakan  salah satu etnik minoritas di wilayah Kabupaten Manggarai Timur. Sebelum-sebelumnya komunitas ini kurang diperhatiakn karena tidak popular. Baru  setelah Kabupaten Manggarai Timur  berdiri otonom, etnik tersebut mendapat perhatian  termasuk memberdayakan potensi dan kekayaan budayanya.
Bahkan salah satu tarian tradisional etnik tersbut yakni Vera sudah diakui sebagai tarian nasional.

Selain kekayaan budaya dan tarian daerah, etnik ini memiliki kebanggan terhadap ternak, terutama ternak kuda. Karena itu saat panas panjang beberapa waktu lalu mereka merasa sangat kehilangan karena banyak ternak kuda mati akibat bencana tersebut.  (Kanis Lina Bana)

1 comment:

  1. SISI.... BUKAN isis.. Hati2, awas dipelintir. Terimakasih

    ReplyDelete