Reduce bounce ratesindo Sudah Belajar 12 Tahun di Sekolah, Nyaris Tak Mampu Mengaktifkan Alat Indra - Indometro Media
☀️ --°C Medan
banner image

Sudah Belajar 12 Tahun di Sekolah, Nyaris Tak Mampu Mengaktifkan Alat Indra

Oleh : Zulkifli, M.Pd Kepala SMAN 1 Lhoksukon

Zulkifli, M.Pd

Sekolah jangan hanya melahirkan anak yang tahu banyak, tetapi anak yang mampu melakukan banyak hal.

Aceh. Indometro. Id - Bayangkan seorang anak menghabiskan 12 tahun di bangku sekolah (SD hingga SMA). Setiap hari ia datang membawa buku, duduk, mendengarkan ceramah guru, mencatat penuh halaman buku, mengerjakan soal setelah diberi contoh, menghafal teori, lalu mengikuti ujian. Namun setelah lulus, muncul pertanyaan besar:

Apakah ia benar-benar mampu menggunakan pengetahuan itu untuk menghadapi kehidupan nyata?

Di sinilah persoalan pendidikan kita yang perlu direnungkan.

Anak memiliki mata untuk mengamati, telinga untuk mendengar, tangan untuk mencoba, hidung untuk mengenali lingkungan, dan seluruh tubuh untuk mengalami kehidupan.

Tetapi dalam pembelajaran yang terlalu berpusat pada teori, alat-alat indra tersebut sering tidak digunakan secara optimal hanya sekedar menonton.

Anak lebih banyak melihat papan tulis daripada mengamati dunia nyata. Lebih banyak mendengar penjelasan daripada melakukan percobaan. Lebih banyak menulis rumus daripada menggunakan rumus untuk menyelesaikan persoalan kehidupan. Lebih banyak menghafal daripada menemukan.

Akibatnya, sekolah berpotensi melahirkan anak yang kuat dalam mengingat informasi, tetapi lemah dalam menggunakannya.

Seorang siswa mungkin mampu menghafal rumus luas, volume, kecepatan, gaya, energi, atau persamaan matematika. Ia bisa mendapatkan nilai tinggi ketika rumus tersebut muncul dalam soal ujian.

Tetapi ketika menghadapi persoalan nyata, seperti menghitung kebutuhan cat sebuah ruangan, memperkirakan konsumsi listrik, menentukan kekuatan sebuah struktur sederhana, membaca data, atau memecahkan masalah di lingkungan sekitar, ia justru kebingungan.

Masalahnya bukan karena anak tidak belajar. Masalahnya adalah pengetahuan yang dipelajari tidak cukup sering digunakan.

Pengetahuan seharusnya tidak berhenti di kepala. Pengetahuan harus turun menjadi keterampilan, tindakan, dan kemampuan memecahkan masalah. 

Sekolah Jangan Menjadi Pabrik Penghafal, karena Sekolah bukan tempat untuk mencetak manusia yang hanya pandai menghafal isi buku. Sekolah seharusnya menjadi tempat anak mengalami, mencoba, gagal, memperbaiki, menemukan, dan menciptakan.

Dalam pembelajaran matematika, anak tidak cukup hanya menghafal rumus. Mereka perlu berhadapan dengan persoalan kehidupan yang membutuhkan matematika.

Dalam fisika, anak tidak cukup menghafal persamaan. Mereka perlu mengamati mengapa benda bergerak, mengapa listrik digunakan, bagaimana energi bekerja, dan bagaimana konsep fisika hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam biologi, mereka tidak cukup menghafal nama organ. Mereka perlu mengamati kehidupan di sekitarnya.

Belajar harus membuat anak bersentuhan dengan kenyataan. Dari Tidak Mandiri Menjadi Mampu Memecahkan Masalah

Salah satu dampak pembelajaran yang terlalu teoritis adalah anak menjadi terbiasa menunggu instruksi. Ditanya guru, menunggu jawaban. Diberi tugas, menunggu contoh. Menghadapi masalah, mencari orang yang menyelesaikan.

Padahal dunia nyata tidak selalu memberikan soal pilihan ganda dengan empat jawaban. Kehidupan sering menghadirkan persoalan yang jawabannya belum tersedia di buku.

Karena itu, sekolah harus melatih anak untuk bertanya: Apa masalahnya? Mengapa terjadi? Apa yang bisa saya lakukan? Bagaimana saya mencobanya? Apa yang harus saya perbaiki? Inilah dasar kemandirian, Anak Harus Lebih Banyak Mengalami.

Pembelajaran yang baik bukan berarti guru berhenti menjelaskan. Guru tetap penting sebagai pembimbing. Tetapi anak harus mendapatkan ruang yang lebih luas untuk mengamati, berdiskusi, melakukan eksperimen, membuat proyek, menggunakan teknologi, bekerja sama, berkomunikasi, dan menyelesaikan persoalan nyata.

Kelas tidak harus selalu berupa empat dinding dan papan tulis. Halaman sekolah bisa menjadi laboratorium. Kantin bisa menjadi tempat belajar matematika dan ekonomi. Kebun bisa menjadi tempat belajar biologi. Bengkel sederhana bisa menjadi tempat belajar fisika dan teknologi. Lingkungan masyarakat bisa menjadi sumber belajar sosial. Dunia adalah laboratorium terbesar bagi pendidikan.

Ukuran keberhasilan bukan hanya nilai. walaupun nilai ujian penting, tetapi bukan satu - satunya ukuran keberhasilan pendidikan. Kita harus beryanya:

  • Apakah anak mampu berpikir?
  • Apakah anak mampu berkomunikasi?
  • Apakah anak mampu bekerja sama?
  • Apakah anak mampu menggunakan teknologi?
  • Apakah anak mampu mengambil keputusan?
  • Apakah anak mampu menyelesaikan masalah?
  • Apakah anak berani mencoba?
  • Apakah anak mampu belajar secara mandiri?

Jika jawabannya belum, maka pekerjaan pendidikan kita masih panjang.

Jangan Sampai 12 Tahun hanya menghasilkan anak mampu banyak  menghafal, karena Dua belas tahun adalah waktu yang sangat panjang.

Jangan sampai selama 12 tahun anak hanya belajar untuk menjawab soal, tetapi tidak belajar untuk menghadapi persoalan.

Jangan sampai mereka hafal banyak teori, tetapi tidak mampu menerapkannya.

Jangan sampai mereka memiliki ijazah, tetapi tidak memiliki keterampilan hidup.

Jangan sampai mereka terbiasa menunggu perintah, tetapi tidak mampu mengambil inisiatif.

Pendidikan harus mengubah pengetahuan menjadi kemampuan. Mengubah hafalan menjadi pemahaman. Mengubah pemahaman menjadi keterampilan. Dan mengubah keterampilan menjadi kemandirian. 

Kini sekolah Saatnya Menghidupkan Kembali Alat Indra Anak. SebabAnak-anak Indonesia tidak kekurangan rasa ingin tahu. Yang perlu kita lakukan adalah menciptakan pembelajaran yang memberi mereka kesempatan untuk menggunakannya.

  • Biarkan mereka melihat.
  • Biarkan mereka mendengar.
  • Biarkan mereka menyentuh.
  • Biarkan mereka mencoba.
  • Biarkan mereka bertanya.
  • Biarkan mereka melakukan kesalahan.
  • Biarkan mereka memperbaiki.
  • Biarkan mereka menemukan.

Karena pendidikan yang sesungguhnya bukan sekadar memindahkan isi buku ke kepala anak, tetapi membantu anak memahami dunia dan memiliki kemampuan untuk mengubahnya.

Sekolah jangan hanya melahirkan anak yang tahu banyak, tetapi anak yang mampu melakukan banyak hal.

Sebab kehidupan tidak pernah bertanya, “Berapa banyak rumus yang kamu hafal? ”Kehidupan justru bertanya: “Apa yang mampu kamu lakukan dengan semua yang telah kamu pelajari?”

Posting Komentar untuk "Sudah Belajar 12 Tahun di Sekolah, Nyaris Tak Mampu Mengaktifkan Alat Indra "

PELUANG TIAP DAERAH 1 ?