Oleh Zulkifli, M.Pd Kepala SMAN 1 Lhoksukon
Mengapa seseorang tetap melanggar aturan meskipun sudah mengetahui bahwa melanggar itu salah, bahkan akibat Pelanggaran terkadang dapat mencelakai dirinya atau yang lain.
Aceh Utara. Indometro. Id - Kita semua pernah berada di posisi ini: melihat lampu merah tetap diterobos, tanda "Dilarang Merokok" yang diabaikan tepat di bawah papannya, membuang sampah persis di sekitar tempelan "jangan buang sampah di sini", atau sesederhana menunda pekerjaan padahal tahu tenggat waktunya sudah memanggil.
Pertanyaannya mendasar: Jika manusia adalah makhluk berakal yang paham konsekuensi, mengapa pengetahuan tentang aturan tidak otomatis membuat kita mematuhinya?
Psikologi dan perilaku manusia ternyata punya jawaban yang jauh lebih kompleks daripada sekadar "karena tidak punya akhlak" atau "kurang disiplin".
Biaya vs. Keuntungan Seketika (Instant Gratification)
Otak manusia secara evolusioner didesain untuk menyukai imbalan instan. Ketika aturan dilanggar, biasanya ada keuntungan langsung yang dirasakan:
Ngebut atau menerobos lampu merah membuat kita hemat waktu 2 menit, terkadang demi mengejar hasrat pribadi tak peduli ada orang lain juga punya kepentingan. Bahkan menerobos lampu merah dapat berakibat celaka diri atau yang lain.
Membuang sampah sembarangan membuat tangan kita cepat bersih tanpa perlu mencari tempat sampah.
Sebaliknya, hukuman atau konsekuensi buruk dari melanggar aturan sifatnya belum pasti dan baru terjadi di masa depan. Otak kita sering kali gagal menimbang risiko jangka panjang jika dihadapkan pada kenyamanan jangka pendek.
"Optimism Bias": Merasa Tidak Akan Tertangkap
"Ah, sekali ini saja." "Lagipula tidak ada polisi."
Manusia mengidap optimism bias -kecenderungan psikologis untuk merasa bahwa hal-hal buruk (seperti ditilang, kecelakaan, atau tertular penyakit) lebih mungkin terjadi pada orang lain daripada diri sendiri. Kita tahu aturannya, tetapi kita merasa pengecualian dari aturan tersebut.
Aturan Tanpa Penegakan Adalah Saran
Aturan yang kuat tidak hanya bertumpu pada kesadaran moral, melainkan pada konsistensi penegakan hukum.
Ketika sebuah aturan sering kali dilanggar tanpa ada konsekuensi yang jelas atau tegas, secara bertahap aturan tersebut akan kehilangan wibawanya. Di mata masyarakat, aturan itu bergeser statusnya: dari kewajiban menjadi sekadar anjuran.
Pengaruh Lingkungan (Social Proof)
Manusia adalah makhluk sosial yang sangat terpengaruh oleh perilaku kelompoknya. Jika seseorang berada di lingkungan di mana semua orang melanggar aturan (misalnya, semua pengendara melawan arus), melanggar aturan justru terasa sebagai "hal yang normal".
Efek Psikologis Reactance (Reaksi Melawan)
Terkadang, melanggar aturan adalah bentuk perlawanan mendasar manusia terhadap kontrol. Dalam psikologi, ini disebut psychological reactance.
Ketika sebuah aturan dirasa terlalu mengekang, tidak masuk akal, atau dibuat oleh otoritas yang tidak dihormati, manusia cenderung ingin merebut kembali kebebasannya dengan cara melanggarnya secara sengaja.
Menyikapi Fenomena Ini
Mengetahui aturan hanyalah langkah pertama dari tatanan sosial; mematuhinya adalah masalah budaya, sistem, dan dorongan psikologis.
Untuk membuat orang mematuhi aturan, mengandalkan "kesadaran diri" saja tidak pernah cukup. Kita membutuhkan:
Penegakan yang konsisten dan adil tanpa pandang bulu.
Aturan yang masuk akal dan komunikatif.
Keteladanan dari lingkungan sekitar.
Sebab pada akhirnya, pengetahuan berada di dalam kepala, namun tindakan dipengaruhi oleh apa yang ada di depan mata dan apa yang terjadi setelahnya.



Posting Komentar untuk "Kalau Sudah Tahu Aturan, Kenapa Masih Melanggar?"