Reduce bounce ratesindo Korban-Korban Terus Berjatuhan: Ketika Persahabatan Dikorbankan Demi Kejar Ambisi dan Setoran - Indometro Media
☀️ --°C Medan
banner image

Korban-Korban Terus Berjatuhan: Ketika Persahabatan Dikorbankan Demi Kejar Ambisi dan Setoran

Oleh : Zulkifli


 

Cukuplah Allah menjadi Penolong bagi kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS.Ali Imran:173)

Aceh Utara. Indometro. Id - Di tengah kemewahan fasilitas jabatan dan tingginya kepemimpinan formal, sering kali tersembunyi realitas kelam yang menggerogoti integritas. Fenomena hilangnya rasa kemanusiaan demi akumulasi materi kini bukan lagi sekadar rahasia umum. 

Ketika seorang oknum pimpinan lebih mendewakan uang di atas nilai persahabatan, struktur organisasi berubah dari wadah kolaborasi menjadi arena eksploitasi. Sahabat masa lalu yang seharusnya menjadi pilar pendukung dalam kepemimpinan, kini dinilai semata-mata dari seberapa besar angka yang mampu disetorkan.

Kepemimpinan yang berlandaskan kerakusan cenderung menjadikan jabatan sebagai senjata intimidasi. Ancaman keselamatan, teror psikologis, hingga bayang-bayang celaka kerap ditiupkan kepada bawahan yang gagal memenuhi target setoran yang tidak masuk akal. 

Kekuasaan tidak lagi digunakan untuk memayungi dan memajukan tim, melainkan dipakai untuk menanamkan rasa takut. Dalam lingkaran setan ini, kedudukan formal bertransformasi menjadi sarana pemerasan terselubung, memaksa para pegawai berada di bawah cengkeraman kecemasan tiada henti.

Namun, keberlanjutan taktik pemerasan ini juga didorong oleh kerentanan dari sisi bawahan. Kerap kali, lemahnya pemahaman spiritual dan kurangnya keteguhan iman membuat seseorang lupa bahwa rezeki, kedudukan, dan perlindungan pada hakikatnya berada di tangan Pencipta.

Ketakutan berlebih akan kehilangan posisi atau ancaman fisik menutupi keyakinan mendasar bahwa tiada satu pun hal di dunia ini yang terjadi tanpa takdir Allah SWT. Ketidakpercayaan pada ketentuan Ilahi ini mendorong sebagian orang untuk menempuh jalan pintas yang merusak.

Dampaknya sangat fatal. Korban demi korban terus berjatuhan dalam siklus keputusasaan. Harta kekayaan dan uang simpanan—yang dikenal sebagai fulus—terus tergerus dan habis di penghujung jalan demi memuaskan ketakutan serta ambisi palsu. 

Tragisnya, janji manis berupa jabatan atau kepastian karir yang diharapkan tak kunjung didapatkan. Yang tersisa hanyalah penyesalan, kebangkrutan finansial, dan hilangnya martabat diri akibat mengejar sesuatu yang dibangun di atas fondasi kebohongan.

Sebagai makhluk ciptaan, manusia tidak sepantasnya memelihara keraguan terhadap Siapa yang mengatur roda kehidupan dan derajat seseorang. Jabatan dan rezeki bukanlah mutlak hasil dari manipulasi kekuasaan atau nominal setoran, melainkan ketetapan yang telah diatur oleh Sang Maha Kuasa. 

Menggantungkan nasib sepenuhnya kepada sesama manusia yang rakus hanya akan berujung pada kekecewaan yang tidak berkesudahan.

Sudah saatnya melepaskan rasa takut dan menyerahkan seluruh urusan kepada Pencipta semesta alam. Ketika Allah SWT berkehendak mengangkat atau menurunkan derajat seseorang, tidak ada kekuasaan manusia mana pun yang sanggup menghalanginya. 

Cukuplah keyakinan pada firman-Nya: apabila Dia telah menetapkan sesuatu, Dia hanya perlu berkata "Kun" (Jadilah!), maka "Fayakun" (Maka jadilah ia). Tanpa perlu ada keraguan, kebenaran dan keadilan akan senantiasa menemukan jalannya sendiri.

Posting Komentar untuk "Korban-Korban Terus Berjatuhan: Ketika Persahabatan Dikorbankan Demi Kejar Ambisi dan Setoran"

Berita Terkini

UPDATE BERITA
Berita Terbaru LIVE
  • Memuat berita...
Berita Terkini UPDATE
  • Memuat berita...
Ads :