KETAPANG-KALBAR-INDOMETRO
Ketika akses jalan rusak menghambat aktivitas masyarakat dan mengancam kelancaran anak-anak menuju sekolah, warga Desa Kesuma Jaya, Kecamatan Jelai Hulu, Kabupaten Ketapang, memilih untuk tidak tinggal diam.
Dengan keterbatasan yang ada, masyarakat bergerak melalui semangat gotong royong. Mereka memperbaiki gorong-gorong dan badan jalan yang menjadi akses penting bagi warga Desa Kesuma Jaya serta masyarakat dari Desa Limpang, Pangkalan Suka, Karang Dangin, Riam Danau Kanan, Tebing Berseri, Air Dua dan wilayah sekitarnya.
Ironisnya, di tengah persoalan infrastruktur yang menyangkut kepentingan masyarakat luas tersebut, perhatian dan keterlibatan Pemerintah Kabupaten Ketapang dalam penanganan darurat itu dinilai belum terlihat secara nyata oleh masyarakat.
Warga justru bergerak dengan dorongan hati nurani. Mereka bergotong royong karena menyadari bahwa jika jalan tersebut tidak segera ditangani, aktivitas masyarakat akan semakin terganggu.
Kegiatan kerja bakti tersebut dikoordinasikan oleh Pak Utih Herman dan Jack bersama warga lainnya. Perbaikan dilakukan terhadap gorong-gorong dan badan jalan yang mengalami kerusakan.
Jalan tersebut bukan sekadar akses antarpermukiman. Jalur ini menjadi salah satu akses penting masyarakat untuk berbelanja, bekerja, menjalankan aktivitas sehari-hari, sekaligus menjadi jalur pendidikan bagi anak-anak dari sejumlah desa.
Terlebih, di kawasan Riam Danau terdapat sejumlah sekolah negeri, di antaranya SMP Negeri 2 Jelai Hulu, SMK Negeri 1 Jelai Hulu, SDN 06 Jelai Hulu dan SDN 07 Jelai Hulu.
Artinya, ketika jalan mengalami kerusakan, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh pengguna kendaraan, tetapi juga oleh para pelajar dan keluarga yang setiap hari bergantung pada akses tersebut.
Masyarakat Bergerak, Perusahaan Turun Tangan
Semangat gotong royong masyarakat kemudian mendapat perhatian dari pihak perusahaan.
Keluhan masyarakat yang disampaikan oleh M. Habibi, Pengurus Koperasi Karya Maju Bersama, mendapat respons dari Uti Mas'ud, pimpinan PT FAPE.
Pihak perusahaan kemudian memfasilitasi kegiatan tersebut dengan mengirimkan alat berat excavator dan dump truck untuk membantu menimbun badan jalan yang rusak sekaligus mendukung proses perbaikan gorong-gorong.
Langkah tersebut mendapat apresiasi karena setidaknya membantu masyarakat mempercepat penanganan kondisi jalan secara darurat.
Namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang patut disampaikan kepada pemerintah daerah: sampai kapan masyarakat harus mengandalkan gotong royong dan bantuan pihak lain ketika menghadapi persoalan infrastruktur yang digunakan untuk kepentingan publik?
Gotong royong merupakan budaya luhur masyarakat. Tetapi gotong royong tidak semestinya dijadikan alasan untuk membiarkan masyarakat berjuang sendiri menghadapi persoalan infrastruktur.
Pemerintah daerah tetap memiliki tanggung jawab dalam memastikan tersedianya akses publik yang layak, aman dan mendukung aktivitas masyarakat.
Bukan Sekadar Jalan, Ini Akses Pendidikan dan Ekonomi
Kerusakan jalan tersebut menjadi semakin penting untuk diperhatikan karena jalur ini berkaitan langsung dengan aktivitas pendidikan dan ekonomi masyarakat.
Anak-anak sekolah harus melewati akses tersebut. Masyarakat menggunakannya untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Aktivitas ekonomi warga juga bergantung pada kelancaran jalan tersebut.
Karena itu, penanganan jalan seharusnya tidak berhenti pada perbaikan darurat.
Pemerintah Kabupaten Ketapang diharapkan dapat turun langsung melihat kondisi lapangan dan menyusun langkah penanganan jangka panjang agar persoalan serupa tidak kembali terjadi.
Masyarakat tidak sedang meminta sesuatu yang berlebihan. Mereka membutuhkan jalan yang layak untuk menjalankan kehidupan sehari-hari.
Pemkab Ketapang Diharapkan Tidak Menutup Mata
Kepala Urusan Pemerintahan Desa Kesuma Jaya, Agus, mengimbau masyarakat agar selama proses perbaikan berlangsung, pengendara menggunakan jalan alternatif di samping gedung SMK Negeri 1 Riam Danau.
"Kami mengupayakan semampunya agar masyarakat tetap mudah berlalu lalang melalui jalan tersebut," ungkap Agus.
Perbaikan darurat ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari sejak Minggu, 9 Agustus 2026.
Apa yang dilakukan warga Kesuma Jaya patut menjadi perhatian. Mereka tidak menunggu terlalu lama ketika akses vital mulai mengganggu kehidupan sehari-hari. Mereka memilih bergerak, bekerja bersama dan mencari solusi.
Dukungan PT FAPE melalui alat berat juga menunjukkan bahwa kepedulian terhadap masyarakat dapat datang dari berbagai pihak.
Namun, perhatian tersebut tidak seharusnya membuat pemerintah daerah merasa cukup hanya dengan melihat masyarakat mampu menyelesaikan persoalannya sendiri.
Pemkab Ketapang diharapkan hadir bukan hanya ketika persoalan sudah menjadi sorotan, tetapi sejak masyarakat pertama kali membutuhkan perhatian.
Sebab, pembangunan bukan hanya tentang proyek besar dan angka anggaran. Pembangunan juga tentang memastikan seorang anak dapat pergi ke sekolah dengan aman, seorang petani dapat membawa hasil usahanya, dan masyarakat dapat menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa harus berjibaku dengan jalan yang rusak.
Masyarakat sudah bergerak dengan hati nurani. Kini, publik menunggu kapan pemerintah benar-benar hadir.
Catatan redaksi: Pihak Pemerintah Kabupaten Ketapang belum memberikan keterangan dalam narasi ini. IndoMetro membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak terkait.
Reporter: Irfan
Kaperwil-Kalbar: Sadran


Posting Komentar untuk "Gotong Royong Warga Kesuma Jaya Perbaiki Akses Vital, Pemkab Ketapang Dinilai Belum Menunjukkan Perhatian"