Oleh Zulkifli, M.Pd Kepala SMAN 1 Lhoksukon

Zulkifli, M.Pd
Aceh. indometro. Id - Aceh bukanlah wilayah yang baru mengenal dunia ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Jauh sebelum Indonesia berdiri sebagai negara modern, Aceh telah menjadi salah satu pusat kekuasaan, perdagangan, keilmuan, dan diplomasi yang terhubung dengan berbagai kawasan dunia.
Sejarah mencatat bahwa Kesultanan Aceh Darussalam pernah tampil sebagai kekuatan politik penting di kawasan Asia Tenggara. Pada masa kejayaannya, Aceh memiliki hubungan perdagangan dan diplomatik dengan berbagai kerajaan serta kekuatan asing. Pedagang dari berbagai penjuru datang ke pelabuhan Aceh, sementara hubungan diplomatik Aceh menjangkau dunia yang jauh melampaui wilayah Sumatra.
Letak Aceh di ujung utara Sumatra memberikan posisi strategis di pintu masuk Selat Malaka. Jalur ini sejak berabad-abad menjadi salah satu jalur perdagangan terpenting dunia.
Karena posisi tersebut, Aceh tidak hidup dalam keterisolasian. Aceh berinteraksi dengan pedagang dan masyarakat dari India, Arab, Persia, Turki, Tiongkok, serta berbagai kawasan Nusantara. Barang dagangan, bahasa, gagasan, ilmu pengetahuan, agama, teknologi, dan kebudayaan bergerak melalui jaringan perdagangan tersebut.
Aceh juga memiliki hubungan diplomatik dengan kekuatan besar pada zamannya. Hubungan Kesultanan Aceh dengan Kesultanan Utsmaniyah di Turki menjadi salah satu contoh bagaimana Aceh telah memainkan diplomasi lintas kawasan jauh sebelum konsep hubungan internasional modern berkembang.
Dengan demikian, globalisasi bukan sesuatu yang sepenuhnya baru bagi Aceh. Dalam bentuk yang berbeda, masyarakat Aceh telah mengalami interaksi global berabad-abad lalu.
Aceh Pernah Menjadi Negara Berdaulat. Pernyataan bahwa Aceh pernah menjadi negara sebelum Indonesia ada perlu dipahami dalam konteks sejarah.
Sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia terbentuk pada 1945, telah ada Kesultanan Aceh Darussalam sebagai entitas politik yang memiliki pemerintahan, wilayah kekuasaan, hukum, militer, hubungan perdagangan, dan diplomasi dengan kekuatan lain.
Artinya, ketika berbicara tentang sejarah Aceh, kita tidak hanya berbicara mengenai sebuah daerah administratif sebagaimana provinsi sekarang. Aceh memiliki sejarah panjang sebagai sebuah kesultanan yang menjalankan pemerintahan dan hubungan luar negeri menurut tata politik zamannya.
Aceh pernah menjadi kesultanan yang berdaulat dan memiliki kapasitas politik internasional jauh sebelum Republik Indonesia berdiri.
Membicarakan kejayaan sejarah Aceh tidak berarti meniadakan posisi Aceh dalam sejarah Indonesia.
Sebaliknya, sejarah Aceh merupakan bagian penting dari perjalanan sejarah Nusantara menuju Indonesia modern. Aceh memiliki kontribusi besar dalam perkembangan Islam, perdagangan, pendidikan, kebudayaan, perlawanan terhadap kolonialisme, dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Tokoh-tokoh Aceh juga memiliki peran besar dalam sejarah perjuangan melawan kolonialisme. Perang Aceh menjadi salah satu perang panjang dan berat yang dihadapi pemerintah kolonial Belanda.
Karena itu, kebanggaan terhadap sejarah Aceh seharusnya tidak diarahkan untuk membangun permusuhan dengan daerah lain. Sejarah justru harus menjadi sumber pengetahuan bahwa wilayah-wilayah di Nusantara memiliki perjalanan sejarah yang panjang sebelum lahirnya Republik Indonesia.
Aceh dan Mentalitas Masyarakat Global. Sejarah tersebut memberikan pesan penting bagi generasi Aceh hari ini.
Aceh sebenarnya memiliki tradisi keterbukaan terhadap dunia. Dahulu orang Aceh berlayar, berdagang, belajar, berdiplomasi, dan membangun hubungan dengan masyarakat dari berbagai penjuru dunia.
Tantangannya sekarang adalah bagaimana warisan tersebut diterjemahkan ke dalam kehidupan modern.
Jika dahulu pelabuhan Aceh menjadi tempat bertemunya manusia dan gagasan dari berbagai bangsa, maka hari ini sekolah, perguruan tinggi, dunia usaha, teknologi digital, dan ekonomi kreatif harus menjadi pintu baru Aceh untuk bergaul dengan dunia.
Aceh tidak boleh hanya bangga pada masa lalu. Sejarah harus menjadi energi untuk membangun masa depan.
Aceh jangan hanya menjadi penonton globalisasi. Dunia sekarang jauh lebih terbuka dibandingkan masa lalu. Teknologi digital membuat seseorang di Aceh dapat berkomunikasi dengan manusia di berbagai negara dalam hitungan detik.
Namun, keterhubungan saja tidak cukup. Aceh harus memiliki sumber daya manusia yang mampu bersaing. Anak-anak Aceh harus menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, bahasa asing, keterampilan digital, kewirausahaan, sains, serta kemampuan berpikir kritis dan kreatif.
Jika dahulu Aceh mampu menjadi bagian dari jaringan perdagangan internasional, maka generasi sekarang harus mampu menjadi bagian dari jaringan ekonomi, teknologi, pendidikan, dan inovasi dunia. Jangan sampai Aceh hanya menjadi pasar bagi produk dan teknologi bangsa lain.
Sejarah sebagai modal masa depan karena sejarah Aceh menunjukkan bahwa masyarakatnya pernah memiliki keberanian untuk membuka hubungan dengan dunia.
Dari Aceh kita belajar bahwa sebuah masyarakat dapat memiliki identitas yang kuat sekaligus bergaul dengan dunia internasional.
Karena itu, kebanggaan terhadap Aceh tidak seharusnya berhenti pada cerita tentang kejayaan masa lalu. Kebanggaan itu harus diwujudkan dalam kualitas pendidikan, kemajuan ekonomi, kemampuan teknologi, integritas pemerintahan, dan kualitas manusia.
"Aceh pernah dikenal dunia. Tugas generasi sekarang adalah membuat Aceh kembali diperhitungkan dunia ,bukan hanya karena sejarahnya, tetapi karena prestasi generasinya."
Aceh memiliki masa lalu yang panjang sebelum Republik Indonesia lahir. Aceh pernah menjadi kesultanan yang berdaulat, memiliki hubungan diplomatik dan perdagangan lintas negara, serta menjadi bagian dari jaringan dunia pada zamannya.
Maka, sejarah tersebut bukan alasan untuk hidup dalam romantisme masa lalu. "Sejarah adalah cermin. Masa depan adalah pekerjaan."
Aceh pernah bergaul dengan dunia jauh sebelum Indonesia merdeka. Sekarang pertanyaannya: "mampukah generasi Aceh membawa kembali nama Aceh ke panggung dunia dengan ilmu, keterampilan, prestasi, dan peradaban?"


Posting Komentar untuk "Aceh Sudah Bergaul dengan Dunia Global Jauh Sebelum Indonesia Merdeka"