Reduce bounce ratesindo Warisan Budaya Melayu Riam Danau Sejak 1847 Kembali Dihidupkan, Simbol Persatuan Antar Etnis di Jelai Hulu - Indometro Media
banner image

Warisan Budaya Melayu Riam Danau Sejak 1847 Kembali Dihidupkan, Simbol Persatuan Antar Etnis di Jelai Hulu




Ketapang – IndoMetro.

Tradisi Bubur Asyura 10 Muharram khas Melayu Riam Danau yang telah diwariskan sejak tahun 1847 Masehi kembali digelar di Riam Danau, Kecamatan Jelai Hulu, Kabupaten Ketapang. Kegiatan yang sarat nilai sejarah dan budaya ini menjadi momentum mempererat persaudaraan lintas suku, agama, dan etnis di wilayah Jelai Hulu.


Sabtu-27-Juni-2026

Tradisi tersebut merupakan warisan budaya peninggalan Kesultanan Kotawaringin dan Simpang Matan Tanjungpura yang diwariskan secara turun-temurun dari Pangeran Mangkurat atau Gusti Hidayat, Perdana Menteri Matan Tanjungpura, putra Pangeran Kusuma Agung Ningrat Kotawaringin dan Ratu Jamilan, hingga terus dilestarikan oleh para keturunannya sampai saat ini.


Ketua Panitia Pelaksana, Uti Muhammad Ehsan, mengatakan bahwa penyelenggaraan tahun ini menjadi kegiatan perdana dalam skala besar dan diharapkan dapat menjadi agenda budaya tahunan di Kecamatan Jelai Hulu. Pemerintah Kecamatan Jelai Hulu yang diwakili Kepala Seksi Tata Pemerintahan turut hadir dan menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut.

Acara dihadiri berbagai tokoh adat, tokoh masyarakat, serta perwakilan juriat dari Kotawaringin, Sukamara, Manis Mata, Tumbang Titi, Pesaguan, Sandai, hingga Sentiman Semenjawat. Kehadiran Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kecamatan Jelai Hulu, Muliadi, menjadi simbol eratnya persaudaraan antara masyarakat Melayu dan Dayak dalam menjaga nilai-nilai kebhinekaan.


Kegiatan tersebut juga memperoleh dukungan dari Presiden Majelis Adat Dayak Nasional, Dr. H. Rahmat Nasution Hamka, SH., M.Si., MH., CRGP., BCMCP., CRM, serta Raja Simpang Matan, Gusti Muhammad Hukma, SE atau Sultan Muhammad Jamaluddin III dari Kabupaten Kayong Utara.

Selain tradisi Bubur Asyura, rangkaian kegiatan diisi dengan pemasangan tiang nisan Nek Cawan, istri Pangeran Kusuma Agung Ningrat yang merupakan seorang putri Dayak asal Air Upas. Prosesi diawali dengan ziarah ke makam Pangeran Kusuma Agung Ningrat dan Ratu Jamilan di Sungai Kabung, Sengkerupi, Desa Kusuma Jaya.


Dalam kesempatan itu, perwakilan juriat Nek Cawan dari keturunan Raden Panji, Gusti Sairus Salikin, menyampaikan sambutan. Acara juga diisi penyerahan cendera mata oleh Gusti Sudirman dari Manis Mata kepada perwakilan Pemerintah Kecamatan Jelai Hulu, pimpinan perusahaan setempat, Ketua DAD Jelai Hulu, Plh. Ketua MABM Jelai Hulu, serta tokoh masyarakat Madura.


Suasana semakin khidmat dengan tausiah yang disampaikan oleh ulama kharismatik, Syaikh Muhammad Abdul Quddus, S.Th.I, Rois Syuriah PCNU Kabupaten Ketapang sekaligus pimpinan Pondok Pesantren Darul Fadhilah. Dalam ceramahnya, ia menekankan pentingnya menjaga persatuan, toleransi, dan keharmonisan antarumat beragama serta antar suku yang hidup berdampingan di Kabupaten Ketapang.


Namun demikian, panitia pelaksana yang juga tokoh pemuda Jelai Hulu, Alipiddin, S.Sos, menyayangkan ketidakhadiran perwakilan Polsek Jelai Hulu, meskipun undangan telah disampaikan. Menurutnya, kehadiran seluruh unsur Forkopimcam sangat penting sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan yang bertujuan memperkuat persatuan masyarakat.


Pada kesempatan yang sama, salah seorang juriat Pangeran Kusuma Agung, Utin Tahra binti Uti Badru Zaman, menghibahkan lahan seluas 2,83 hektare kepada Yayasan Darul Fadhilah. Tanah tersebut direncanakan menjadi lokasi pembangunan Madrasah Darul Fadhilah Riam Danau, sebagai bentuk kontribusi nyata bagi pengembangan pendidikan keagamaan di wilayah tersebut.

Pelaksana Harian Ketua MABM Kecamatan Jelai Hulu, Uti Dartani, mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut dan berharap tradisi Bubur Asyura terus dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharram sebagai agenda budaya tahunan.


Hal senada disampaikan tokoh masyarakat Dusun Kesuma Agung, Syamsir, serta tokoh Desa Kusuma Jaya, Suparjo dan Herman. Mereka menilai kegiatan tersebut tidak hanya melestarikan warisan sejarah Melayu Riam Danau, tetapi juga memperkuat semangat persaudaraan, gotong royong, dan kebersamaan antar suku, agama, dan etnis yang selama ini hidup harmonis di Kecamatan Jelai Hulu.


(Pablis:Irfan)

Posting Komentar untuk "Warisan Budaya Melayu Riam Danau Sejak 1847 Kembali Dihidupkan, Simbol Persatuan Antar Etnis di Jelai Hulu"

PELUANG TIAP DAERAH 1 ?