Indometro.id Paser - Sektor perikanan di Kabupaten Paser tengah menghadapi tantangan serius. Ratusan nelayan di wilayah pesisir, seperti di Kecamatan Kuaro dan Tanjung Harapan, mengeluhkan masih minimnya pasokan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN). Kuota yang tersedia saat ini dinilai tidak mampu mengakomodasi kebutuhan seluruh armada kapal nelayan yang ada.
![]() |
| Ilustrasi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan |
Menurut Pengelola SPBN Lukman Rabu (22/04/26) menyebutkan, bahwa keterbatasan ini disebabkan oleh beberapa faktor teknis dan administratif seperti Ketimpangan Data Adanya selisih antara jumlah nelayan yang terdaftar dengan kuota yang dialokasikan oleh pusat, Peningkatan Aktivitas Memasuki musim ikan, intensitas nelayan untuk melaut meningkat, sehingga kebutuhan BBM melonjak drastis danKendala Distribusi ke Lokasi geografis beberapa desa nelayan yang jauh membuat distribusi logistik terkadang mengalami keterlambatan.
Selain itu jelas Lukman, Keterbatasan kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) Kabupaten Paser kian menjadi persoalan serius. Pihak pengelola dan masyarakat nelayan kini mendesak adanya langkah nyata dari pemerintah untuk segera mengusulkan penambahan kuota guna menjamin keberlangsungan ekonomi sektor perikanan. Terang Lukman
Saat ini, alokasi yang diterima SPBN dinilai sudah tidak relevan dengan jumlah armada nelayan yang terus berkembang di wilayah pesisir Paser. Kesenjangan antara ketersediaan stok dengan kebutuhan riil nelayan di lapangan menyebabkan stok solar bersubsidi sering kali habis dalam waktu singkat.
"Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa kebutuhan nelayan kita jauh di atas kuota yang ada saat ini. Perlu ada evaluasi menyeluruh dan pengusulan kuota tambahan ke BPH Migas agar aktivitas melaut tidak terhambat," Kata Lukman
Akibat kuota yang terbatas, tambah Pengelola SPBN Lukman, banyak nelayan di Kabupaten Paser terpaksa Membatasi Jarak Tempuh, Nelayan tidak bisa menjangkau wilayah tangkapan yang lebih jauh (fishing ground) karena khawatir kehabisan bahan bakar, sehingga pendapatan bersih mereka merosot tajam. Nelayan juga kehilangan waktu produktif karena harus menunggu pasokan BBM dari pihak Pertamina.
Pengurus SPBN Lukman meminta Pemerintah Kabupaten Paser melalui Dinas Perikanan diharapkan agar segera bersurat secara resmi kepada Pertamina dan BPH Migas dengan melampirkan data riil kekurangan di lapangan.
Dia berharap penambahan kuota ini bisa terealisasi ketersediaan BBM bukan sekadar komoditas, melainkan nadi utama untuk menggerakkan ekonomi keluarga nelayan yang ada di Kabupaten Paser. Tutup Lukman
(fbn/red***)



Posting Komentar untuk "Kuota BBM di SPBN Masih Jauh dari Mencukupi"