Ticker

6/recent/Ticker-posts

Kabupaten kota punya peranan sama membangun Industri di Aceh


Kepala Dinas Perindustrian dan Perdangangan Aceh, Ir.      Mhoch Thanwier. (Dok/foto)

Banda Aceh, indometro.id- Kepala Dinas Perindustrian dan Perdangangan Aceh, Ir. Mhoch Thanwier, MM, menyatakan membangun Industri di Aceh harus menyeluruh dan bersama-sama dengan kabupaten/kota. “Kenapa ini dilakukan karena membangun industri terutama industri Agro harus sama-sama karena sumber daya ada semua di tiap kabupaten kota,” katanya Ketika membuka Acara Rapat Koordinasi dan Sinkronisasi di Hermes Hotel Kamis, (25/2/2021), di Banda Aceh.

Acara yang dihadiri kepala dinas, kepala bidang Industri Agro dan Kasubbang program Dinas Perindustrian dan Perdangangan kab/kota turut membahas bagaimana Langkah-langkah kedepan agar Aceh terbebas dari masalah kemiskinan. “Saya menghimbau agar kadis kabupaten kota memanfaatkan warung kopi dan café untuk menjual produk-produk lokal atau home industry dengan display yang menarik, sehingga perekonomian di Aceh dapat meningkat seperti di luar Aceh,” katanya.

Disela-sela setelah pembukaan acara yang bertemakan Mewujudken Sinkronisasi Dan Sinergisitas Program Dan Kegiatan Pengembangan Industri di Aceh, Kadis Disperindang Aceh secara otokritik meminta untuk segera membantu industri-industri yang saat ini masih belum mampu berkembang dan menbimbing terutama yang izin usahanya sudah mati. 

Menurutnya, Rakor ini menjadi salah satu silahturahmi semua kabupaten kota dalam menyampaikan permasalahan dan solusi kongkrit membangun industri di Aceh. “Saya minta maaf kepada kab/kota karena belum semua kabupaten/kota bisa saya kunjungi karena baru 7 bulan saya disini, insyaallah kedepan semua kabupaten saya kunjungin,” katanya dalam sambutan dan menyalami semua peserta dari kabupaten kota setelah selesai memberikan materi. Diakhir acara pembukaan semua kadis foto Bersama dan sharing informasi.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengembangan Industri Agro dan Manufaktur Disperindang Aceh, Ridhwan, M.Dev, menyebutkan, Aceh kini sudah mulai ketinggalan jauh sekali dalam industri. “Apalagi dana otsus kita hampir habis, mau kemana kita,” katanya. Di dalam paparanya sebagai narasumber, Ridhwan, menyebutkan, Pemerintah mempunyai beberapa sumber dana seperti APBN, APBA, DAK, dan DOKA, yang semuanya harus di raih oleh Aceh. “Apalagi sekarang ada istilah baru untuk sumber dana dengan Program PEN yaitu, Program Pemulihan Ekonomi Nasional,” katanya. 

Menurutt Ridhwan dalam Program PEN tersebut ada terdapat program strategis setor industry dan perdangangan seperti; pembinaan dan pendampingan IKM terhadap peningkatan produk, mutu, kemasan dan diversifikasi produk serta fasilitas perizinan, kemitraan, sertifikasi HAKI dan halal. Selanjutnya, perluasan akses pasar produk IKM dengan mengikutsertakan dalam even pameran lokal, nasional dan internasional serta fasilitas pasar digital. 

Acara yang dimoderatori sampai selesai, Kepala Seksi Industri Agro Disperindang Aceh Bidang Pengembangan Industri Agro dan Manufaktur, Umri Praja Muda, M.Si, sekaligus ketua panitia mengatakan, acara Rakoor dan Sinkronisasi ini merupakan salah satu sharing informasi terhadap perkembangan industri yang ada di Aceh. “ Selama ini kita hampir tidak pernah membuat acara Rakor dan Sinkronisas boleh dikatakan lebih 3 tahun, hari ini terungkap ternyata banyak sekali persoalan-persoalan di daerah yang tidak sampai ke Disperindang Aceh,” katanya usai menyampaikan sambutan panitia. Sehingga, kata Umri Praja Muda, acara ini akan menjadi agenda tahunan dimana setiap tahun akan dilakukan dua kali yang khsusus membicarakan perkembangan Industri Agro sampai turunannya. 

Umri praja muda dalam sambutanya juga menyebutkan bahwa, tujuan diadakan rakor dan sinkronisasi ini yaitu, pertama mengetahui kendala yang dihadapi terhadap pengembangan Industri Agro dan Manufaktur di Kab/Kota, kedua, agar terciptanya pengembangan industri yang dapat memberikan kemudahan dan memiliki daya tarik bagi investor, ketiga, terciptanya langkah/strategi bersama Kab/Kota untuk menarik investor di Aceh, dan keempat, terintegrasi Perencanaan dan Penganggaran di Sektor Industri antar Provinsi dan Kab/Kota.

"Umri Praja Muda menyebutkan, acara yang dihadiri 69 orang dari kab/kota, menampilkan beberapa narasumber selain kadis Disperindang Aceh, Kabid PIAM Disperindang Aceh, Bappeda Aceh dari Tim e-Planning dan SIPD Bappeda Aceh, Emi Riza, ST. Sedangkan narasumber lainnya berasal dari Kepala Kanwil Bea Cukai Aceh, Safuadi," sebutnya.

Artikel Terkait