Ticker

6/recent/Ticker-posts

Misteri Mimpi Dalam Islam

Dari pembahasan yang lalu telah kita pahami bahwa ada beberapa jenis mimpi, di antaranya ada yang Haq dan ada yang bathil, di mana kita sudah memahami ciri-ciri mimpi bathil begitu juga dengan dampak bahayanya dan cara mengatasinya.

Adapun mimpi yang Haq terbagi dua jenis mengenai isi pesan di dalamnya.
1. Memiliki arti yang jelas.
2. Dengan sebuah Simbol sehingga perlu di tafsirkan.

Isi pesan yang memiliki arti yang jelas sudah pasti tidak perlu di artikan atau di tafsirkan lagi, sehingga mimpi itu akan menceritakan apa adanya.
Sehingga umat Islam dapat memahaminya dengan mudah.

Apabila isi pesan dalam bentuk perintah, maka si pemimpi sebaiknya menjalankan perintahnya, setelah mimpi itu di teliti kemudian tidak di temukan bahwa mimpi itu bertentangan dengan syariat Islam.

Kemudian,  Apabila isi pesan di dalam mimpinya dalam bentuk kabar berita yang mengungkap sebuah rahasia, maka si pemimpi tinggal meyakininya saja.

Sebagaimana kisah pada zaman Rasulullah Saw, yang terdapat dalam hadits.

Riwayat dari Anas, dia berkata :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُعْجِبُهُ الرُّؤْيَا الْحَسَنَةُ فَرُبَّمَا قَالَ هَلْ رَأَى أَحَدٌ مِنْكُمْ رُؤْيَا فَإِذَا رَأَى الرَّجُلُ رُؤْيَا سَأَلَ عَنْهُ فَإِنْ كَانَ لَيْسَ بِهِ بَأْسٌ كَانَ أَعْجَبَ لِرُؤْيَاهُ إِلَيْهِ قَالَ فَجَاءَتْ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ رَأَيْتُ كَأَنِّي دَخَلْتُ الْجَنَّةَ فَسَمِعْتُ بِهَا وَجْبَةً ارْتَجَّتْ لَهَا الْجَنَّةُ فَنَظَرْتُ فَإِذَا قَدْ جِيءَ بِفُلَانِ بْنِ فُلَانٍ وَفُلَانِ بْنِ فُلَانٍ حَتَّى عَدَّتْ اثْنَيْ عَشَرَ رَجُلًا وَقَدْ بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَرِيَّةً قَبْلَ ذَلِكَ قَالَتْ فَجِيءَ بِهِمْ عَلَيْهِمْ ثِيَابٌ طُلْسٌ تَشْخُبُ أَوْدَاجُهُمْ قَالَ فَقِيلَ اذْهَبُوا بِهِمْ إِلَى نَهْرِ الْبَيْدَخِ أَوْ قَالَ إِلَى نَهَرِ الْبَيْدَجِ قَالَ فَغُمِسُوا فِيهِ فَخَرَجُوا مِنْهُ وُجُوهُهُمْ كَالْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ قَالَ ثُمَّ أَتَوْا بِكَرَاسِيَّ مِنْ ذَهَبٍ فَقَعَدُوا عَلَيْهَا وَأُتِيَ بِصَحْفَةٍ أَوْ كَلِمَةٍ نَحْوِهَا فِيهَا بُسْرَةٌ فَأَكَلُوا مِنْهَا فَمَا يُقَلِّبُونَهَا لِشِقٍّ إِلَّا أَكَلُوا مِنْ فَاكِهَةٍ مَا أَرَادُوا وَأَكَلْتُ مَعَهُمْ قَالَ فَجَاءَ الْبَشِيرُ مِنْ تِلْكَ السَّرِيَّةِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَانَ مِنْ أَمْرِنَا كَذَا وَكَذَا وَأُصِيبَ فُلَانٌ وَفُلَانٌ حَتَّى عَدَّ الِاثْنَيْ عَشَرَ الَّذِينَ عَدَّتْهُمْ الْمَرْأَةُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيَّ بِالْمَرْأَةِ فَجَاءَتْ قَالَ قُصِّي عَلَى هَذَا رُؤْيَاكِ فَقَصَّتْ قَالَ هُوَ كَمَا قَالَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sangat senang (taajub) dengan mimpi yang baik, dan sering-seringi beliau sabdakan: "Apakah salah seorang dari kalian bermimpi?" maka apabila ada seorang laki-laki yang bermimpi, beliau bertanya tentangnya, jika mimpi tersebut tidak negatif, beliau merasa senang terhadap mimpi yang diimpikannya. Anas berkata, "Lalu seorang wanita datang dan berkata, "Wahai Rasulullah, aku bermimpi seakan aku masuk ke dalam surga. Dan kudengar di sana suara benda jatuh yang menjadikan surga bergetar. Lantas kuteliti, ternyata telah dihadirkan si fulan, si fulan dan si fulan, " hingga ia sebutkan dua belas orang. Dan sebelum itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah mengirim sebuah ekspedisi militer. Kedua belas orang itu didatangkan dengan mengenakan pakaian kotor dan urat leher mereka mengalir." Anas berkata, "Lantas ada suara bergema; 'bawalah mereka ke sungai baidakh -atau ia mengatakan sungai baidaj-'. Di sana mereka ditenggelamkan (dicelup, dimandikan). Setelah itu mereka keluar dengan wajah yang telah berubah bagaikan bulan di malam purnama." Anas berkata, "Mereka lalu datang dengan membawa kursi-kursi emas seraya menjadikannya sebagai tempat duduk. Selanjutnya disajikan kepada mereka piring -atau kalimat yang semakna- yang berisi kurma, dan mereka pun memakannya. Tidaklah ia membolak-balikkan piring tersebut kecuali ia dapat memakan buah yang ia kehendaki. Maka aku pun makan bersama mereka." Anas berkata, "Lalu datanglah pembawa berita dari ekspedisi Rasulullah dan berkata, "Wahai Rasulullah, masalah kami begini dan begini, lalu fulan dan fulan terbunuh." Hingga ia menyebutkan dua belas orang sebagaimana yang telah dihitung oleh wanita tersebut. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian bersabda: "Panggilkan wanita itu kemari!" wanita itu pun dihadapkan. Beliau bersabda: "Ceritakanlah mimpimu kepada orang ini." wanita itu lalu menceritakan mimpinya. 
Anas berkata, "Kejadian itu sebagaimana yang dikatakan oleh wanita itu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam." 
(HR. Ahmad: 11937) 

Kemudian yang terakhir, jika isi pesan di dalam mimpi merupakan sebuah nubuah atau berita masa depan, maka mimpi itu akan menjadi kenyataan.
Dan inilah yang di maksud oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin jika seseorang bermimpi kemudian menjadi kenyataan, maka orang tersebut menandakan memiliki sifat yang jujur.

Dan bagi si pemimpi sudah sepatutnya meyakini isi pesan di dalam mimpinya sebagai bentuk Kabar berita masa depan yang pasti terjadi, alasan dia mendapatkan mimpi tersebut agar dirinya mengambil langkah untuk mempersiapkan diri menghadapinya.
Isi pesan di dalam mimpi ini bisa dalam bentuk takdir yang baik atau yang buruk.

Jika takdir yang buruk maka dengan informasi mimpinya dia dapat memanfaatkannya agar selamat dari takdir buruk tersebut.

Sebagai contohnya kisah pada zaman nabi Yusuf as.
Di mana takdir yang akan menimpa mereka ke depan adalah 7 tahun paceklik, karena mereka mengambil manfaat dari isi pesan di dalam mimpinya maka mereka selamat dari takdir buruk yang terjadi.

Adapun isi pesan di dalam mimpi dalam bentuk tafsiran maka inilah yang di sebutkan oleh nabi Muhammad Saw bahwa mimpi itu adalah misteri

sebagaimana riwayat dari Abu Razin dari Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: 

الرُّؤْيَا مُعَلَّقَةٌ بِرِجْلِ طَائِرٍ مَا لَمْ يُحَدِّثْ بِهَا صَاحِبُهَا فَإِذَا حَدَّثَ بِهَا وَقَعَتْ وَلَا تُحَدِّثُوا بِهَا إِلَّا عَالِمًا أَوْ نَاصِحًا أَوْ لَبِيبًا وَالرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ جُزْءٌ مِنْ أَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنْ النُّبُوَّةِ

"Setiap mimpi adalah sebuah misteri selama orang yang bermimpi belum menceritakannya. Jika dia telah menceritakannya, maka akan terjadi. Janganlah kalian menceritakannya kecuali kepada orang alim, atau orang yang bisa memberi nasehat atau orang yang berakal, mimpi yang baik adalah bagian dari empat puluh bagian kenabian
[Musnad Ahmad : 15594]


Maka, jika seseorang bermimpi berupa simbol, maka berhati-hatilah dalam menceritakannya kepada seseorang.

Agar orang yang memiliki sifat rasa dengki tidak membahayakan si pemimpi sebagaimana kisah nabi Yusuf as dan saudaranya.

Maka, mimpi harus di sampaikan kepada ahli tafsir, orang berakal, atau orang yang bisa memberikan nasehat dan kepada orang yang di cintai.

Karena mereka tidak akan membahayakan si pemimpi dengan sifat rasa ke dengkian dan jika mimpi itu bermakna takdir buruk yang bisa menimpa si pemimpi, maka mereka tidak akan menafsirkannya.

Semoga penjelasan singkat ini di pahami dan bermanfaat buat kita semua.


Artikel Terkait