-->

Iklan

Temukan Kami DI Fb

Halaman

Titipan Rindu

Jumat, 27 November 2020, November 27, 2020 WIB Last Updated 2020-11-27T19:31:16Z
iklan disini :




        Dingin menusuk tulangku bersamaan dengan rintikan hujan yang begitu deras. Hanya ada kursi tua dan secangkir kopi hangat yang menemaniku sekarang. Saat-saat dimana aku tak bisa lari dari kenyataan pahit yang harus kutelan secara paksa,  mungkin sudah nasibnya begitu. Setelah setahun ini, aku buta tanpa arah seperti di buang jauh dari kumpulan populasi yang kesepian.
“Seandainya aku mendengarkan perkataan wanita tua itu, memintaku agar tetap di kampung bersamanya hingga ia tiada, bergelut dengan kelapa-kelapa tua dan tanah yang hitam mungkin aku tidak seperti ini” Fikir ku berkata sambil menyeruput kopi pertama. 
Menghabiskan waktu 5 tahun menuntut ilmu di negri orang tidaklah mudah. Berulang-ulang kali ibuku menolak anak tunggalnya untuk pergi ke Australia. 
“Apa kau yakin?”, seperti tak rela anaknya pergi
“Tekadku sudah bulat bu!”, jawabku dengan tegas 
Aku menghela nafas, bayang-bayang kenangan tak mampu untukku buang terlalu jauh, mata ini sepertinya tak mampu menahan bendungan yang begitu hebat agar tak gugur dalam partikel-partikel bening. Jejak yang ku ukir dengan harapan indah berakhir dengan penyesalan akan kegagalanku untuk mencapai studi dan karirku disini, belum lagi asmaraku dengan pria asing berakhir dengan miris. Aku berdosa dengan menanggung beban moril dan batin untuk bertahan hidup bersama calon malaikat kecil dalam rahimku saat ini tanpa seorang pun yang mendampingi. Bayang-bayang wanita tua yang tak lain ibuku membuatku begitu gundah.
”Ah, sandainya saja dulu..” sambil merubah posisi duduk, aku mengeluh.
Tekadku kembali bulat, sekeras hatiku saat dulu aku meninggalkan wanita tua yang jauh disana, perasaan yang sama, sejak 5 tahun lalu aku meninggalkannya, sekarang aku akan datang kembali padanya. Kepergianku tanpa memberi dan mendapat kabar darinya menjadi beban bagiku sekarang.
“Aku akan pulang!” tekadku kesekian kalinya, bersamaan dengan uap yang mengepul dalam cangkir hangat ini kembali ku telan, masih terasa pahit. 
Hujan baru juga reda, koridor apartemen masih sepi, wajar saja masih terlalu pagi untuk melakukan segala aktifitas. Aku bergegas mengambil semua barang yang pernah ku bawa dan kudapatkan selama 5 tahun ini, bersamaan passport dan jaket biru kesayanganku. 
Perjalanan menuju bandara harus memakai taksi sekitar 30 menit, taksi melaju dengan tenang, walau jalanan masih licin, pria tua yang membawaku dalam perjalanan dengan hati-hati. Aku menikmatinya, rambu disisi jalan dipasang bertuliskan “Drive Carefully”. Imajinasiku terus berfantasi dalam pikiran membayangkan sambutan kebahagiaan ibuku menyambut kepulanganku setelah sekian lama. Di tikungan tajam, dari arah berlawanan muncul truk besar, dalam bayang-bayang kabut sisa air hujan yang menutupi pandangan kami, menyorot kearah taksi kami, aku menutup mata dengan punggung tanganku. Dalam keadaan gugup yang ku tahu taksi yang kutumpangi menabrak pembatas jalan keras sekali dan menyeretku keluar dari dalam taksi, tubuhku ambruk, masih dapat kurasakan pasir halus dalam genggaman tanganku yang basah dan semakin lemah, perutku nyeri sekali, sayup-sayup ku dengar suara ledakan disisi pembatas jalan, dan kemudian tak sadarkan diri bersama kenangan.
Aku tersadar dalam pandang samar-samar. Semua serba putih. Ternyata aku belum lagi mati. Kecewa? Pasti. Tubuhku kaku dalam pembaringan yang bersih dan rapi. Tak ada seorang pun menyertai. Pandangan ku paksakan melirik disekeliling hingga ku menyadari aku dirumah sakit. Hanya sendiri. Kepalaku sakit, ingatan melayang pada kecelakaan yang membawaku kemari. Sakit kepalaku tak tertahan. Mataku kembali terpejamkan. Dalam hati aku berharap hari besok masih ada, hanya untuk bertemu Ibu nan jauh di sana. Masih kah kau mendoakanku? Ingatan pahit tak mampu ku kibaskan. Aku harus hidup meminta pengampunanmu Ibu. Walau mungkin aku sudah tak seperti saat pergi, aku kembali bersama calon cucu yang ku harap akan kau anggap. Perjalanan pulang terasa begitu sulit, begitu banyak rintangan datang, aku benar-benar sendiri. Dimana keberanianku seperti dulu. Aku layu. Maut pun enggan menjemputku.
Enggan ku mengetahui siapa yang membawaku ketempat ini, yang penting aku harus kembali secepatnya. Kembali ketanah air, bertemu Ibu, tidak yang lain. Langkah ku paksakan kembali keapartemen, tiket harus ku atur ulang, tujuanku mungkin langsung kebandara. Entah bagaimana caranya.
Kaki ini berkali-kali jatuh, tak berdaya. Sebenarnya aku belum bertemu dokter, aku menghindari pertemuan itu, aku tak punya cukup uang untuk membayar. Aku keluar tanpa seorang yang mengenali, walau perawat berlalu lalang, sebisa mungkin ku hindari. Aku berhasil keluar. Tapi kesekian kali kaki ini bertambah lemah, hingga benar-benar tanpa daya, aku kembali jatuh. Pandanganku mulai buram. 
Berkali-kali pula lambaian tanganku tak mampu menghentikan taksi. Putus asa, semakin gelap. Aku sudah jatuh disisi jalan. Tanpa ku minta deru mobil berhenti, deru mobil saja yang ku dengar. Mungkin taksi atau siapa saja. Sakit benar, bukan saja kaki, tapi perut ini, perih sekali, kupegang dia dalam keadaan setengah sadar. Sesuatu mengalir deras, lengket dan basah. Ketakutan, teriakan samar-samar terdengar sesekali, aku berasa tuli karna kesakitan. Aku menyerah. Setengah sadar, seseorang meraih pergelangan tangan dan menuntunku masuk mobil. Aku masih bisa merasakan, aku tak sempat berpikir akan dibawa kemana. Kini air mata yang menetes, kerinduanku pada Ibu tak mampu diusik, belaiannya, tatapannya. Kini nafasku sesak, kata-katanya yang lembut terniang-niang dalam ingatan yang sempit. 
“Apa yang kau cari kenegri orang nak, apa Ibu belum cukup membahagiakanmu! Kau menjadi keras kepala, apakah kurang didikan Ibu dan ayah hingga kau mencari kebahagiaanmu sendiri. Cita-cita bukan kebutuhan hidupmu nak, berbahagialah kau anakku, jika ku mampu membahagiakan hati kami!”
Aku menyesal, memang benar cita-cita tak sepenuhnya menjadi prioritas dalam hidup. Keluarga adalah ikatan yang paling bahagia sepanjang hidup, bukan karna miskin, tapi hanya harus bersyukur. Kebersamaan tak bisa kau dapatkan dari kejauhan, bersama dalam susah senang dalam sebuah keluarga, sahabat, bahkan sanak saudara. Walau mereka menunggu dan menitip kerinduan pada waktu, sungguh tak dapat memberi rasa yang sebenarnya. Rindu ini pun kutitipkan pada waktu hingga nanti aku siap menemuimu sebelum ajalku benar-benar lenyap. Entah nanti aku tersadar atau tidak mungkin bisa saja kembali hidup dalam dunia yang baru.
Beri Komentar Dong!

Tampilkan

Terkini

Nasional

+