Ticker

6/recent/Ticker-posts

Ironis! Harga Cengkih Mencekik Petani Menjarit

Petani Cengkih sedang Menjemur Cengkih


Maluku, Indometro.id - Sejumlah petani cengkih di provinsi maluku meradang dengan semakin anjloknya herga cenkih di pasaran, berdasarkan hasil pantawan midia ini, pada beberapa penadah yang berada di Kota Ambon, Senin, (26/10/2020), sangat miris.

Pasalnya harga cengkih pada tingkat penadah semakin hari semakin menurun yakni ada pada kisaran harga Rp.50.000,- sapai dengan Rp.45.000,- harga itu belum termasuk dengan harga pembeli pada tinggkat pengempul di setiap daerah masing-masing yang berda pada 11 Kabupaten kota, di Provinsi Maluku.

Cengkih yang merupakan aikon komuditi utama dari Prov. Maluku, baru disusul dengan, Palah dan, Kelapa, seharusnya bisa menjadi perhatian pemerintah baik pemerintah pusat, maupun pemerintah daerah, dalam menjaga kestabilan harga pada tingkat penadah maupun tingkat pengempul, hal itu untuk menunjuang pendapatan per kapita dari masyarakat maluku yang rata-rata merupakan petani cengkih.

Sebab dengan semakin anjloknya herga maka akan berdapak besar, pada pendapatan dan belaja masyarkat yang secara otomatis, sangat berpengaruh pada Pandapatan Anggaran Belanja Dearah (PAD) Provinsin dan Kabupaten Kota.

Dengan anjloknya harga cengkih, hal itu dirasakan sangat merugikan petani pada tingkat paling bawa matarantai perdagangan cengkih, sebab sebagian besar masyarakat petani cengkih Maluku membiayayai perkuliahan dan sekolah anaknya dari hasil cengkih tersebut, hal ini seperti yang di sampaikan oleh salah satu petani cengkih asal Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) bapak La Hido saat di wawancarai media ini,

 "saya selaku petani cengkih sangat dirugikan dengan turunnya harga cengkih akhir-akhir ini, sebab kalau dihitung-hitung, kita petani tidak dapat apa-apa dari cengkih yang kita jual, bahkan kalau mau di bilang kita sangat rugi sekali" tuturnya.

"Sebab kalau kita yang punya kebun cengkih itu harus di bagi dengan mereka karyawan yang penjat cengki, misalnya kalau kita yang tuan dusun itu harus bagi dua hasil dengan mereka karyawan pemanjat, belum lagi ongkos makan suda otomatis kita tuan dusun yang tanggung" ungkap La Hido.

" itu belum di hitung dengan ongkos rokok, dan ongkos lain-lainnya, kasihan kita mau dapat berapa kalu mau di hitung dengan pengeluaran yang suda kita keluarkan, belum ditamba lagi denga adanya Corona kaya sekarang ini, mau cari karyawan saja paling susah, toh kalu dapatpun kita harus tanggu biayaya transport mereka dari kampung pulang pergi" paparnya.

" olehnya itu saya berharap pemerintah dalam hal ini pemerinta Kabupaten/Kota ataupun Provinsi dapat melihat keluhan kami masyarakat yang menggantungkan hidup pada hasil alam, selain itu pemerintah harus bisa perhatikan ini harga cengkih, supaya kita bisa dapat untung sedikit jua, setidaknya pulang modallah istilaanya begitu" tutup La Hido. 

(Alwi)

Artikel Terkait