Ticker

6/recent/Ticker-posts

Abrasi, Pantai Pebuahan Yang Terkenal Ini Semakin Tenggelam.

foto : pantai pebuahan

Jembrana, indometro.id - Pantai Pebuahan adalah pantai yang terkenal dengan ikan bakarnya yang segar dan murah, dan pantai ini menjadi satu-satunya ikon pariwisata yang dimiliki oleh Desa Banyubiru, Negara, Jembrana, yang nota bane masyarakat disana mata pencahariannya sebagai nelayan, di mulai pada tahun 2012 pantai ini sudah terkenal di masyarakat Jembrana khususnya, Bali pada umumnya.

Seiring berjalannya waktu dari tahun 2012 pantai ini mulai sedikit demi sedikit hilang akibat abrasi, banyak rumah warga pun yang tenggelam oleh abrasi yang semakin tahun semakin keras, puncak abrasi terjadi sehabis Hari Raya Idul Fitri 2020, menyebabkan sebagian rumah warga hanyut oleh air pasang.

"Bener mas rumah saya sudah hilang tenggelam, dulunya dibelakang rumah saya yang tenggelam ada kelapa 6 pohon, kejadian ini sudah berlangsung sudah bertahun-tahun dimulai, di timur rumah saya ada 10 rumah sudah tenggelam, banyak yang datang kesini dari pemerintah tapi hanya menjanjikan saja sampai sekarang tidak ada realisasinya, ungkap Balilah saat awak media mendatangi di rumah tetangganya.

Sementara salah warga yang lain bernama Soroso Juga menuturkan memang pada saat abrasi pak Kepala Desa sering kesini dan menginformasikan ke pusat tapi belum ada respon sampai saat ini, abrasi sudah bertahun-tahun sampai sekarang jarak abrasi masuk sudah kira-kira 40 meter daratan sudah tenggelam, dan juga hanya Desa Banyubiru saja yang pantainya belum mendapatkan pengamanan pantai (senderan), ucapnya.

Saat di konfirmasi Ketua RT 8 Dusun Pebuahan Sumiran, menjelaskan, terkait hal ini masyarakat meminta diperhatikan tentang bencana ini, selama ini belum ada tanggapan sama sekali terkait bantuan dari Pemkab, tentang bencana yang baru ini, memang kemarin pada saat bencana di mulai bulan Mei 2020, pihak Pemkab melalui Wakil Bupati, DPRD, DPD Pusat Haji Banbang, jelasnya.

Ia melanjutkan, memang meraka nanggapi dan katanya proposal sudah masuk ke Kementrian, sebenarnya tahun lalu sudah terealisasi, dengan adanya Covid-19 mungkin di pending, dan dikatakan tahun depan 2021 akan direalisasi, dan kata bapak Wakil Bupati anggarannya 100 M. Abarasi ini mulai tahun 2012, dari sekian tahun lamanya sama sekali tidak ada penanganan dari Pemkab,

Lebih jelasnya, dulu memang ada donatur yang memberikan bantuan pemecah ombak dan tanggul hanya panjang 80 meter, dan pesisir disini yang hancur panjang dari timur ke barat sekitar 2,6 kilo, terkait bantuan Covid-19, warga kami sudah mendapatkannya, ucapnya.

Sementara di tempat terpisah Kepala Dusun Pebuahan Kanzan mengatakan, ini menyangkut keputusan pusat, proposal sudah dikirim dan ditangani, dikarenakan masalah corona mungkin ini di pending, memang permasalahan ini sudah dari dulu tahun 2012, dari Pemkab, DPRD, DPD RI sudah kesana tapi disini kami sebagai masyarakat hanya bisa menunggu, ucapnya.

Di kesempatan yang sama hal senada juga disampaikan oleh Kepala Desa Banyubiru I Komang Yuhartono saat di konfirmasi di Kantor Desa mengatakan, abrasi di tahun ini memang sangat keras sekali, untuk hal penanganan kami pihak Desa sudah berusaha melobi dan melaporkan ke pemerintah Kabupaten, ini bukan wewenang Desa ini wewenang pemerintah pusat, jelasnya.

Lanjut Yuhartono, bulan yang lalu memang dari Pemkab, DPRD, DPD RI turun ke lapangan dan saya sendiri tidak tahu, karena ini wewenang pusat, diinformasikan kemarin bahwa bapak Wakil Bupati sudah mengajukan lansung proposal ke DPD RI Haji Bangbang pada tanggal 09 Januari 2020.  "Pantai Pebuahan memang aset satu-satunya Desa Kami, dan saya sendiri sudah berusaha keras agar aset satu-satunya Desa kami bisa maju dan memberi kontribusi ekonomi kepada warga kami disini, tutupnya.(Nugraha)

Artikel Terkait