Jembatan Ambruk, Warga Dua Desa Terisolasi - Indometro Media

Berita Terbaru

Sunday, April 28, 2019

Jembatan Ambruk, Warga Dua Desa Terisolasi

Baca Juga

Jembatan Wae Mokel dilihat dari jarak jauh pasca ambruknya jembatan itu

FLORES NTT, INDOMETRO.ID -  Ambruknya Jembatan Wae Mokel di Desa Mokel Morid, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur,  Flores, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengakibatkan warga dua desa di kecamatan tersebut terisolasi. 


Untuk memudahkan jalur transportasi warga terpaksa mengandalkan titian dari bambu yang dikerjakan  warga setempat. Padahal jalur  di jembatan tersebut sangat vital untuk menghubungkan warga Desa Mokel Morid dan Paan Leleng. 

Selain itu jalur tersebut juga memudahkan warga di dua desa itu  mendistribusikan produksi pertanian  baik antar  desa maupun menuju Borong Ibukota Kabupaten Manggarai Timur.

Informasi yang dihimpun wartawan  di tepi Sungai Wae Mokel, minggu (28/4/2019)  menyebutkan, ambruknya jembatan tersebut sudah terjadi beberapa waktu lalu akibat terpaan banjir. 


Namun sampai saat ini belum ada langkah perbaikan guna membantu warga dua desa itu. Warga terpaksa membangun jembatan bambu untuk memudahkan  transportasi bagi warga setempat.

Menurut mereka ancaman ambruknya jembatan tersebut sering terjadi setiap  tahun pada musin hujan tiba. Sebab pada hulu sungai tersebut ada beberapa sungai kecil yang menjadi titipan air banjir ke sungai Wae Mokel.  


Namun pada tahun ini jembatan tersebut ambruk karena derasnya air sungai. Volume banjir sangat besar dan deras hingga mengikis tebing sungai di sekitar jembatan.  Padahal pada ujung jembatan ada hambatan berupa batu besar, namun karena derasnya air sungai akibat  hujan berkepanjangan jembatan tersebut tidak bisa diselamatkan. Dampak ikutannya arus   lalulintas antar warga baik warga desa setempat maupun warga lain yang bepergian ke Mokel Morid
lumpuh total.

Dalam kondisi serupa itu  perbaikan jembatan tersebut sangat mendesak mengingat kebutuhan transportasi bagi  warga Paan Leleng  karena mereka memiliki lahan pertanian sawah di  Desa Mokel Morid.  


Pasalnya setiap kesempatan mengurus lahan dan memanen  hasil pertaniannya harus menyeberangi  lintasan jalan di sungai itu. Selama ini, terang mereka, apabila ada kebutuhan mendesak demi menyelamatkan hasil pertanian warga terpaksa menggunakan titian di jembatan itu. Titian tersebut sebatas lintasan jalan bagi pejalan kaki. 


Jembatan Wae Mokel dalam kondisi air berkurang. Tampakjembatan bambu yang dikerjakan masyarakat agar dapat dilintasi saatbanjir

Sementara warga yang menggunakan kendaraan roda dua, setibanya di tepi sungai harus mengeluarkan biaya tambahan. Biaya dimaksud, lanjut mereka,  sebagai jasa  melintasi titian kecil yang disiapkan warga sebesar Rp 10.000 per unit sepeda motor. 

Sementara bila volume air sedikit besar dan titian kecil tidak nyaman bagi pengguananya, maka biaya angkut menjadi besar karena menggunakan jasa manusia. Harga jasanya sesuai penawaran dari warga yang bersedia memikul kendaraan tersebut.

Yang lebih menyedihkan lagi, papar mereka, apabila ada kebutuhan mendesak dari warga di dua desa tersebut terpaksa harus menempuh perjalanan lebih jauh dengan durasi waktu yang lama. 


Selain lintasan jalannya  meliuk  hingga melintasi jalan di Desa Mokel, Desa Golo Meni, Desa Rana Mbeling dan Desa Rana Mbata biaya kendaraan menjadi mahal. Padahal jarak dari Desa Paan Leleng ke Desa Mokel Morid dekat
karena desa tetangga.

Menurut mereka, warga setempat merasakan betul tingkat kesulitan akibat ambruknya jembatan Wae Mokel. Karena itu merea mengharapkan agar pemerintah daerah setempat memperhatikan pembangunan jembatan tersebut agar arus transportasi bagi warga setempat menjadi lancar.

“Kita harapkan pemerintah daerah bisa perhatikan pembangunan jembatan ini. Karena lintasan jalan di jembatan tersebut  sangat penting bagi warga dua desa terkait dengan hasil pertanian sawah warga. 


Kalau hasil panen  diangkut menggunakan jasa kendaraan biayanya sangat mahal karena lintasan jalur tempuhnya panjang. Kalau tidak ada biaya kami pikul  pelan-pelan hantar ke sebelah jembatan baru pakai kendaraan pick up.  

Itu hanya mungkin terjadi bila musim hujan belum tiba. Kalau musim hujan dan sungai Wae Mokel banjir yang terpaksa harus keluarkan biaya yang besar. Kita harapkan jembatan itu bisa dibangun kembali,” pinta beberapa warga yang enggan menyebutkan namanya.

Hasil penelusuran wartawan media ini menyebutkan bahwa lintasan jembatan tersebut merupakan jalur jalan yang menjadi tanggung jawab pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Timur. Namun salah satu titik lintasan jalan di wilayah itu sebelum memasuki jembatan Wae Mokel sering anjlok terutama   di  wilayah Kampung Eduk, Kecamatan Kota Komba. 


Tekstur tanah di kampung tersebut  cendrung labil dan setiap tahun apabila hujan tiba selalu ada bencana.  Bahkan akibat sering terjadinya bencana tanah anjlok maka  pemukiman warga di kampung itu sudah dipindahkan. Yang tertinggal hanya lahan pertanian swah.

Kecuali itu untuk lintasan yang permanen pemerintah daerah setempat sudah mengantisipasi dengan membuka lintasan jalur alternatif yang menghubungkan arus transportasi ke wilayah utara Kecamatan Kota Komba dan warga Kecamatan Elar. Namun lintasan jalaur alternatif tersebut kurang menguntungkan bagi warga Desa Mokel Morid dan Desa Paan Leleng. Karena itu diharapkan apabila ada anggaran daerah bisa pikirkan untuk
bangun jembatan baru di sungai itu guna membantu warga di dua desa
tersebut.

Anggota DPRD Manggarai Timur, Tarsan Talus yang dihubungi pertelepon, Minggu sore  (28/4/20119) mengatakan, mengingat kondisi  alam  dan tekstur tanah di seputaran jembatan yang ambruk tidak memungkinkan,maka pemerintah daerah sudah memikir jalur alternatifnya. 


Sementara untuk perbaikan jembatan tersebut belum ada anggaran karena belum dibahas.  Pembangunan jembatan pada tahun ini hanya di lintasan yang lain yang menghubungkan warga Watu Rajong dengan warga Lendo, Desa Gunung Baru.

Khusus jalur jalan di jembatan Wae Mokel yang ambruk,jelas Talus, pemerintah daerah memindahkan jalur jalur tersebut  dengan membuka lintasan jalan baru. Jalur baru tersebut  melintasi wilayah Kampung Pejek, Wae Mokel, Angin dan Watu Mingan. 


Lintasan jalan baru  itu, jelasnya, tidak merugikan warga  Desa Mokel Morid dan Paan Leleng, karena  panjang lintasan  dari dank e dua desa itu  sama panjangnya.


“Untuk pembangunan jembatan Wae Mokel belum dianggarkan. Pemerintah membuka jalur baru yang tingkat kenyamannya lebih terjamin,” katanya. (Kanis Linabana)

No comments:

Post a Comment