Reduce bounce ratesindo Entah Kapan Negeriku Ini Menjadi Baldatun Tayyibatun wa Rabbun Ghafūr - Indometro Media
☀️ --°C Medan
banner image

Entah Kapan Negeriku Ini Menjadi Baldatun Tayyibatun wa Rabbun Ghafūr

 Oleh : Zulkifli Kepala SMAN 1 Lhoksukon

Zulkifli

Entah kapan negeriku ini benar-benar menjadi negeri yang baik, aman, adil, dan diberkahi Tuhan.

Aceh. indometro. Id - Pertanyaan itu mungkin terlintas di benak banyak rakyat biasa yang setiap hari harus berjuang menghadapi kerasnya kehidupan. 

Negeri ini memiliki kekayaan alam yang melimpah, tanah yang subur, laut yang luas, dan sumber daya manusia yang luar biasa. Namun, mengapa begitu banyak rakyat masih hidup dalam ketidakpastian?

Baldatun Tayyibatun wa Rabbun Ghafūr bukan sekadar ungkapan indah. Ia menggambarkan sebuah negeri yang baik, masyarakatnya hidup dalam kesejahteraan, keadilan menjadi fondasi, dan keberkahan Tuhan menyertai kehidupan rakyatnya.

Tetapi untuk sampai ke sana, negeri ini membutuhkan lebih dari sekadar slogan, pidato, seremoni, dan janji politik.

Ketika Rakyat Hidup dalam Ketidakpastian

Hari ini, sebagian rakyat kecil harus berpikir keras hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar. Harga kebutuhan hidup berubah, pekerjaan tidak selalu tersedia, pendapatan tidak selalu cukup, sementara berbagai beban kehidupan terus meningkat.

Bagi rakyat kelas bawah, kehidupan bukan sekadar persoalan statistik pertumbuhan ekonomi. Mereka merasakan langsung apakah ekonomi benar-benar tumbuh atau hanya tumbuh di atas kertas.

Ketika ekonomi sulit, rakyat kecil yang paling dahulu merasakan dampaknya.

Pedagang kecil kehilangan pembeli. Buruh kehilangan kepastian pekerjaan. Petani menghadapi harga hasil produksi yang tidak menentu. Nelayan menghadapi biaya operasional yang semakin berat. Anak-anak muda mencari pekerjaan di tengah persaingan yang semakin ketat.

Mereka tidak membutuhkan pidato panjang tentang pertumbuhan ekonomi.

Mereka membutuhkan pekerjaan, penghasilan yang layak, harga yang terjangkau, pendidikan yang bermutu, pelayanan kesehatan, hukum yang adil, dan masa depan yang pasti.

Hukum Jangan Hanya Tajam ke Bawah

Negeri yang baik tidak mungkin berdiri di atas hukum yang dirasakan tidak adil. Hukum seharusnya menjadi pelindung bagi semua orang, bukan menjadi alat yang terasa berat bagi mereka yang lemah tetapi lunak terhadap mereka yang memiliki kekuasaan, uang, dan jaringan.

Rakyat kecil sering kali tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi rumitnya sistem. Mereka hanya berharap satu hal: ketika berhadapan dengan hukum, perlakuannya sama (Eguality before the law).

Jika keadilan bisa dipengaruhi oleh kekuasaan dan kekayaan, maka kepercayaan rakyat kepada negara perlahan akan terkikis.

Negeri yang ingin menjadi Baldatun Tayyibatun harus memastikan bahwa hukum tidak mengenal kasta.

Yang kuat harus tunduk kepada hukum.

Yang kaya harus tunduk kepada hukum.

Pejabat harus tunduk kepada hukum.

Dan rakyat kecil pun harus mendapatkan perlindungan hukum yang sama.

Ketika Oligarki Mendapat Karpet Merah

Salah satu keresahan terbesar rakyat adalah munculnya kesan bahwa mereka yang memiliki modal, kekuasaan, dan jaringan politik mendapatkan jalan yang jauh lebih mudah.

Sementara rakyat biasa harus berjuang dari bawah, menghadapi birokrasi, mencari modal sendiri, membayar kebutuhan hidup sendiri, dan menanggung risiko sendiri.

Jika kepentingan kelompok kuat terlalu dominan dalam menentukan arah kebijakan negara, maka rakyat akan bertanya:

Untuk siapa sebenarnya negara ini bekerja?

Negara seharusnya tidak menjadi kendaraan bagi segelintir kelompok untuk memperbesar kekayaan dan kekuasaan.

Negara adalah milik rakyat.

Kekuasaan adalah amanah.

Jabatan bukan fasilitas untuk menikmati keistimewaan, melainkan tanggung jawab untuk melayani.

Karena itu, jangan sampai rakyat hanya mendapatkan sisa-sisa pembangunan, sementara kelompok yang memiliki akses kepada kekuasaan mendapatkan karpet merah.

Politik Seharusnya Mengurus Rakyat, Bukan Sekadar Mengurus Kekuasaan Politik seharusnya menjadi jalan untuk menghadirkan kebaikan bersama.

Namun ketika politik lebih sibuk dengan perebutan posisi, transaksi kepentingan, pencitraan, dan mempertahankan kekuasaan, rakyat kembali menjadi penonton.

Padahal, ukuran keberhasilan politik bukan seberapa banyak jabatan yang berhasil dibagi. Bukan pula seberapa megah seremoni yang dilakukan.

Ukuran keberhasilan politik adalah seberapa banyak rakyat yang hidup lebih baik, lebih aman, lebih sejahtera, dan lebih memiliki harapan terhadap masa depan.

Politisi seharusnya takut ketika rakyat kehilangan kepercayaan. Pejabat seharusnya gelisah ketika rakyat kesulitan. Pemimpin seharusnya tidak nyaman ketika masih banyak rakyat yang merasa tidak mendapatkan keadilan.

Baldatun Tayyibatun Tidak Akan Lahir dari Seremoni

Negeri yang baik tidak dibangun hanya dengan kata-kata.

Ia dibangun dengan kejujuran.

Dengan hukum yang adil.

Dengan pemimpin yang amanah.

Dengan birokrasi yang bersih.

Dengan pendidikan yang bermutu.

Dengan ekonomi yang memberikan kesempatan kepada rakyat kecil.

Dengan kebijakan yang berpihak kepada kepentingan masyarakat luas.

Dan yang tidak kalah penting, dengan masyarakat yang menjaga akhlak serta tanggung jawab sosial.

Jika korupsi masih dianggap biasa, ketidakjujuran masih ditoleransi, nepotisme masih dianggap lumrah, dan kepentingan kelompok lebih diutamakan daripada kepentingan rakyat, maka sulit berharap negeri ini menjadi negeri yang baik dan diberkahi.

Keberkahan tidak cukup diminta.

Keberkahan harus diusahakan melalui perilaku yang benar. 

Jangan Sampai Rakyat Hanya Menjadi Objek 

Rakyat jangan hanya dicari ketika pemilu. Jangan hanya didatangi ketika membutuhkan suara. Jangan hanya dipuji ketika berada di hadapan kamera. Setelah kekuasaan diperoleh, rakyat kemudian dilupakan.

Rakyat membutuhkan negara yang hadir bukan hanya ketika membutuhkan legitimasi, tetapi juga ketika mereka menghadapi kesulitan.

Negara harus hadir ketika petani kesulitan menjual hasil panennya.

Negara harus hadir ketika anak-anak rakyat membutuhkan pendidikan bermutu.

Negara harus hadir ketika masyarakat mencari pekerjaan.

Negara harus hadir ketika rakyat kecil berhadapan dengan ketidakadilan.

Negara harus hadir ketika masyarakat membutuhkan perlindungan.

Karena sesungguhnya kekuatan sebuah negara bukan hanya terlihat dari gedung-gedung megah dan proyek-proyek besar, tetapi dari bagaimana negara memperlakukan rakyatnya yang paling lemah.

Entah Kapan...

Entah kapan negeri ini benar-benar menjadi Baldatun Tayyibatun wa Rabbun Ghafūr.

Entah kapan rakyat kecil dapat hidup tanpa terlalu banyak rasa takut terhadap hari esok.

Entah kapan hukum benar-benar dirasakan adil oleh semua lapisan masyarakat.

Entah kapan politik benar-benar menjadi pengabdian.

Entah kapan kekayaan negeri ini dapat dirasakan secara lebih adil oleh seluruh rakyat.

Dan entah kapan mereka yang memegang kekuasaan benar-benar menyadari bahwa jabatan hanyalah sementara.

Namun kita tidak boleh kehilangan harapan. Sebab negeri yang baik tidak lahir hanya dari pemimpin yang baik. Ia lahir dari pemimpin yang amanah, hukum yang adil, institusi yang kuat, masyarakat yang berintegritas, dan rakyat yang terus menjaga harapan serta keberanian untuk memperbaiki keadaan.

Semoga suatu hari nanti kita tidak lagi hanya mengucapkan Baldatun Tayyibatun wa Rabbun Ghafūr sebagai doa.

Tetapi benar-benar dapat merasakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Negeri tempat rakyat kecil tidak perlu takut menghadapi hari esok.

Negeri tempat hukum tidak mengenal kasta.

Negeri tempat kekuasaan tidak menjadi alat memperkaya diri.

Negeri tempat politik kembali menjadi pengabdian.

Negeri tempat kekayaan alam dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Dan negeri tempat pemimpinnya memahami bahwa setiap kekuasaan pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Semoga negeri ini segera menemukan jalan pulang menuju keadilan, kesejahteraan, akhlak, dan keberkahan.

Karena rakyat tidak sedang meminta kemewahan. Rakyat hanya ingin hidup layak, diperlakukan adil, dan memiliki harapan terhadap masa depan.

Posting Komentar untuk "Entah Kapan Negeriku Ini Menjadi Baldatun Tayyibatun wa Rabbun Ghafūr"

PELUANG TIAP DAERAH 1 ?