TULANG BAWANG –Indometro. Pasca pemberitaan terpercaya mengenai persoalan kandang ayam yang mencemari lingkungan dan meresahkan warga setempat, tanggapan yang muncul dari pejabat justru memperparah citra pemerintahan yang seharusnya melayani. Andi, Camat Gedung Meneng, bukannya merespons dengan rasa tanggung jawab dan kepekaan tinggi terhadap keluhan masyarakat, justru melontarkan pernyataan yang dinilai angkuh, kasar, serta sangat tidak pantas keluar dari mulut seorang pelayan publik.
Hal ini ditegaskan oleh salah satu awak media terpercaya yang enggan namanya dipublikasikan, setelah berlangsung konfirmasi langsung. Red
“Secara terang-terangan Camat Andi mengakui bahwa kandang yang menjadi sumber masalah lingkungan itu adalah milik saudaranya. Lebih mencengangkan lagi, ia melontarkan ucapan yang sangat menantang dan tidak beretika: 'Silakan beritakan mau berapa kalipun, saya tidak takut, tidak goyah, dan tidak gentar.'”05/09/2026
Pernyataan ini bukan sekadar kurang sopania adalah bukti nyata keberanian yang disalahgunakan. Sikap ini menampakkan seolah jabatan dan wewenang yang diemban berfungsi sebagai benteng perlindungan bagi kepentingan kerabat, terlepas dari dampak buruk, gangguan kesehatan, serta pelanggaran hak-hak dasar warga yang sudah lama berteriak meminta perhatian.
Bahasa yang digunakan serta nada bicaranya mengandung pesan yang sangat meresahkan: seolah hukum berlaku di luar lingkaran dekatnya, seolah pengawasan pers maupun kepentingan umum bukan hal yang layak dihiraukan. Alih-alih menampakkan kewibawaan yang arif dan solutif, Camat Gedung Meneng justru menampakkan kesombongan yang telanjangmenganggap kedudukan sebagai kekebalan mutlak dari kritikan dan kewajiban menjawab keluhan rakyat.
Hubungan kekerabatan yang dijadikan alasan serta sikap menantang yang kasar ini menimbulkan pertanyaan tajam mendasar: apakah pelayanan publik di wilayah ini berlandaskan prinsip hukum dan keadilan, atau berjalan semata-mata atas dasar kepentingan pribadi serta keberanian yang buta terhadap aturan? Ungkapan “tidak takut, tidak goyah” yang terucap seharusnya ditujukan untuk melawan ketidakadilan, bukan menghadapi suara rakyat dan fakta lapangan dengan arogansi yang tak beralasan.
Kenyataan ini membuka luka terbesar dalam birokrasi, hilangnya rasa hormat terhadap hak warga dan peran pengawasan, serta keberanian terang-terangan melindungi persoalan yang menimpa lingkungan sendiri di bawah naungan kekuasaan jabatan.
( Robinsah)
Team: Yantoni



Posting Komentar untuk "Camat Gedung Meneng Andi, Klaim Hubungan Kekerabatan dan Sikap Menantang yang Mencoreng Wibawa Pejabat Publik."