TULUNGAGUNG –Indometro.id- Pengembangan industri kopi Tulungagung tidak bisa dilepaskan dari upaya menjaga kelestarian hutan.
Pesan tersebut mengemuka dalam Talk Show NGOPI (Ngolah, Pikir & Inovasi) yang digelar di Lapangan Desa Mulyosari, Kecamatan Pagerwojo, Sabtu (1/8/2026).
Mengusung tema "Konservasi Hutan untuk Mendukung Inovasi Industri Kopi Hulu-Hilir di Kabupaten Tulungagung", kegiatan ini menghadirkan akademisi, pemerintah, penyuluh kehutanan, pelaku usaha, dan petani kopi. Forum tersebut menjadi ruang berbagi gagasan untuk memperkuat sinergi dalam membangun industri kopi yang berdaya saing sekaligus berkelanjutan.
Talk show yang dimoderatori Maria Margaretha, Analis Kebijakan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Tulungagung, berlangsung interaktif. Para narasumber membahas peluang besar kopi Tulungagung agar mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan riset, inovasi, serta tata kelola lingkungan yang berkelanjutan.
Direktur Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia periode 2000–2005, Dr. Ir.
Zaenudin, mengatakan industri kopi Indonesia terus menunjukkan tren positif dalam satu dekade terakhir. Indonesia bahkan telah menjadi salah satu produsen kopi specialty terbesar di dunia dengan berbagai produk unggulan, seperti Aceh Gayo, Toraja Kalosi, dan Flores Bajawa.
Menurutnya, konsumsi kopi dunia meningkat sekitar empat persen setiap tahun. Bahkan, kopi premium Java Arabica mampu dipasarkan hingga sekitar delapan dolar Amerika Serikat di pasar internasional. Peluang tersebut, katanya, harus diimbangi dengan peningkatan kualitas produksi melalui riset, pengembangan sumber daya manusia, serta strategi adaptasi terhadap perubahan iklim.
"Tulungagung memiliki peluang besar menghasilkan kopi berkelas dunia. Namun, pengembangan industri kopi berkelanjutan harus diawali dengan riset serta kesiapan menghadapi tantangan perubahan iklim," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Kehutanan Wilayah Trenggalek, Ir. Agus Dwi Prasetyo, S.ST., M.Ling., menegaskan bahwa kopi dan hutan merupakan dua elemen yang saling berkaitan. Kelestarian hutan berperan menjaga ketersediaan air, keseimbangan ekosistem, sekaligus menciptakan lingkungan yang ideal bagi pertumbuhan tanaman kopi.
Ia menjelaskan, pohon penaung memiliki banyak manfaat dalam budidaya kopi, mulai dari menurunkan suhu, menjaga kelembapan tanah, memperkaya unsur hara, melindungi tanaman dari terpaan angin, hingga mempertahankan keanekaragaman hayati. Menurutnya, tantangan sektor kopi saat ini meliputi perubahan iklim, berkurangnya sumber air, meningkatnya lahan kritis, fluktuasi harga, serta produktivitas yang belum optimal.
Karena itu, penerapan sistem agroforestri dan pemanfaatan program Perhutanan Sosial dinilai menjadi solusi agar masyarakat dapat mengelola kawasan hutan secara legal sekaligus mengembangkan usaha dan hilirisasi produk kopi.
Pandangan tersebut diperkuat oleh Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, Slamet Wahyudi. Ia menyebut kawasan Pagerwojo dan Sendang memiliki potensi besar sebagai sentra kopi karena didukung kondisi alam yang sesuai.
Keberhasilan budidaya kopi, menurutnya, sangat bergantung pada keberhasilan menjaga kawasan hutan sebagai penyangga sumber mata air.
Suasana diskusi semakin hidup saat Mbah Badi, petani kopi asal Desa Nglurup, membagikan pengalamannya mengembangkan sekitar 5.000 pohon kopi di lereng Gunung Wilis. Hasil panennya kini telah menembus pasar ekspor ke California, Amerika Serikat, dan Belanda.
Selain talk show, kegiatan NGOPI juga diramaikan pameran produk kopi lokal yang menampilkan berbagai merek dan hasil olahan pelaku usaha Tulungagung.
Pengunjung tidak hanya mencicipi aneka varian kopi, tetapi juga berdialog langsung dengan petani untuk mengenal proses budidaya hingga pengolahan kopi.
Melalui kegiatan ini, para pemangku kepentingan menegaskan bahwa masa depan kopi Tulungagung tidak hanya bergantung pada meningkatnya permintaan pasar, tetapi juga pada komitmen menjaga kelestarian hutan.
Kolaborasi antara pemerintah, peneliti, penyuluh, petani, dan pelaku usaha diharapkan mampu memperkuat posisi kopi Tulungagung sebagai komoditas unggulan yang berdaya saing, bernilai tambah, dan berkelanjutan.



Posting Komentar untuk "Konservasi Hutan Jadi Kunci Pengembangan Kopi Tulungagung, Mengemuka dalam Talk Show NGOPI"