Ruteng, NTT, Indometro.id – Dalam rangka memperingati Pesta Emas 50 Tahun Paroki St. Antonius Padua Rii Beamese, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur digelar seminar bertema "Sinodalitas Gereja dan Pemerintah dalam Mewujudkan Indonesia Emas" pada Sabtu (25/7/2026) di Aula Santo Petrus, Paroki Rii.
Seminar menghadirkan dr. Maria Caecillia Stevi Harman dan Drs. Ansel Alaman sebagai narasumber, dengan Yoakim Yohanes Jehati, S.Ag. bertindak sebagai moderator. Kegiatan ini menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian perayaan usia emas paroki yang telah mengabdi selama lima dekade.
Dalam sambutannya, Pastor Paroki St. Antonius Padua Rii, Romo Tarsi Syukur, Pr, menegaskan bahwa gereja dan negara merupakan dua institusi yang memiliki peran berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama, yakni menghadirkan martabat dan kesejahteraan manusia.
Menurutnya, agama berperan membentuk hati nurani dan nilai-nilai moral, sementara negara bertugas menata kehidupan melalui hukum, keadilan, dan pelayanan publik. Keduanya tidak boleh saling mendominasi, melainkan saling melengkapi dalam membangun masyarakat.
Romo Tarsi mengakui bahwa hubungan agama dan negara dalam sejarah tidak selalu berjalan harmonis. Namun, pengalaman tersebut menjadi pelajaran untuk membangun relasi yang lebih sehat melalui semangat sinodalitas, yakni berjalan bersama, saling menghormati, dan memperkuat satu sama lain.
Ia juga mengingatkan bahwa cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya ditopang oleh kemajuan teknologi maupun kecerdasan buatan (AI), tetapi harus berorientasi pada pembangunan manusia secara utuh.
"Pendidikan harus melahirkan manusia yang berkarakter, kesehatan harus meningkatkan kualitas hidup, ekonomi harus berpihak kepada masyarakat kecil, sementara pembangunan infrastruktur tetap menempatkan manusia sebagai pusatnya," tegasnya.
Pastor Paroki St. Antonius Padua Rii, Romo Tarsi Syukur, Pr
Mengutip pesan Paus Leo XIV dalam ensiklik Magnifica Humanitas, Romo Tarsi mengajak umat agar tidak terjebak pada budaya yang hanya mengejar keuntungan ekonomi dengan mengorbankan nilai kemanusiaan.
Ia juga mengingatkan pentingnya meninggalkan "sindrom Babel", yakni sikap yang memuja kekuasaan, keseragaman, dan keuntungan semata, serta mengajak seluruh umat memilih semangat kerja sama seperti yang dicontohkan Nehemia dalam membangun kehidupan bersama.
Camat Cibal Ajak Warga Jaga Kedewasaan Iman
Camat Cibal, yang akrab disapa Pa Bertin, mengapresiasi pelaksanaan seminar sebagai bagian dari peringatan 50 tahun Paroki Rii.
Menurutnya, usia emas paroki harus dimaknai sebagai momentum pendewasaan iman sekaligus peningkatan kualitas kehidupan sosial di tengah masyarakat.
Ia mengajak seluruh warga menjaga ketertiban selama rangkaian pesta emas, terutama menjelang pelaksanaan pentas budaya Caci yang dijadwalkan berlangsung pada 28–29 Juli 2026.
"Warga harus menjadi tuan rumah yang baik dan menjaga keamanan serta ketertiban, khususnya saat menerima tamu dari Paroki Ranggu, Kabupaten Manggarai Barat," pesannya.
Sebagai tanda dimulainya seminar, Camat Cibal secara simbolis memukul gong pembukaan.
Pentingnya Kolaborasi Gereja dan Pemerintah
Dalam pemaparannya, dr. Maria Caecillia Stevi Harman menyoroti pentingnya sinergi antara gereja dan pemerintah dalam mempercepat pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.
Ia menilai berbagai program pemerintah, seperti pembentukan Koperasi Merah Putih di desa dan kelurahan serta program Makan Bergizi Gratis (MBG), memiliki tujuan yang baik untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Namun, menurutnya, implementasi program-program tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan sehingga membutuhkan evaluasi dan penguatan pelaksanaan di lapangan.
Selain itu, dr. Stevi mengingatkan masyarakat agar lebih bijak menggunakan media digital. Ia mengimbau masyarakat mewaspadai penyebaran hoaks, penipuan daring, hingga praktik judi online yang dinilai dapat merusak kondisi ekonomi keluarga.
"Indonesia Emas hanya dapat dicapai apabila masyarakat memiliki pendidikan yang baik, ekonomi yang kuat, dan karakter yang sehat," ujarnya.
Indonesia Emas Dimulai dari Ketahanan Keluarga
Sementara itu, Drs. Ansel Alaman menekankan bahwa keluarga menjadi fondasi utama dalam mempersiapkan Indonesia Emas 2045.
Ia mengajak masyarakat membangun ketahanan ekonomi rumah tangga melalui pertanian, perkebunan, tanaman produktif jangka panjang, serta pengembangan industri rumah tangga seperti menenun, menganyam tikar, dan kerajinan lainnya.
Dalam penyampaiannya, Ansel juga mengangkat filosofi lagu Manggarai "Doing Koe O Mese Ge" sebagai simbol pentingnya persiapan hidup, baik dalam bidang ekonomi, pendidikan, maupun kesehatan.
Ia turut menyinggung pentingnya penegakan hukum yang adil dan tidak dijadikan alat kepentingan politik.
"Hukum harus berdiri di atas keadilan, bukan menjadi alat tawar-menawar maupun sarana melanggengkan kekuasaan," tegasnya.
Seminar Berlangsung Meriah
Suasana seminar semakin semarak ketika dr. Stevi membawakan lagu daerah Manggarai berjudul "Kole Beo" yang disambut tepuk tangan meriah peserta.
Penampilan tersebut diiringi musik dari Saint Antoni Band yang dipimpin Ramli Budiman bersama Alfred Damar, Sleng, dan Paskalis.
Seminar diikuti sekitar 1.200 peserta, terdiri atas pelajar, Orang Muda Katolik (OMK), tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, guru TK hingga SMA, pengurus wilayah, stasi, komunitas basis gerejani (KBG), serta berbagai undangan lainnya.
Melalui seminar ini, Paroki St. Antonius Padua Rii berharap semangat sinodalitas tidak hanya menjadi tema perayaan, tetapi juga diwujudkan dalam kerja sama nyata antara gereja, pemerintah, dan masyarakat demi mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.
Yos Geong dan tim. (****)






Posting Komentar untuk "Pesta Emas Paroki Rii, Seminar Sinodalitas Tegaskan Kolaborasi Gereja dan Pemerintah Menuju Indonesia Emas 2045"