Oleh Zulkifli, M.Pd Kepala SMAN 1 Lhoksukon
Artikel ini bersifat reflektif dan mengandung pesan umum tentang pentingnya integritas, akuntabilitas, dan kepatuhan terhadap hukum bagi siapa pun yang memegang amanah kepemimpinan.
Aceh Utara. Indometro. Id -Kekuasaan sering dipersepsikan sebagai pelindung. Jabatan, kewenangan, pengaruh, hingga kedekatan dengan para pemegang keputusan terkadang membuat seseorang merasa aman. Seolah-olah selama masih berada di kursi kekuasaan, tidak ada yang mampu menyentuhnya.
Namun sejarah mengajarkan pelajaran yang berbeda. Tidak ada kekuasaan di dunia yang benar-benar menjadi tameng yang abadi. Kekuasaan dunia berbatas waktu. Jabatan memiliki masa berakhir. Hari ini seseorang bisa berada di puncak, tetapi esok hari ia kembali menjadi warga biasa yang harus mempertanggungjawabkan setiap keputusan dan tindakannya.
Ketika seseorang masih berkuasa, banyak orang mungkin memilih diam. Sebagian karena menghormati jabatan, sebagian lagi karena merasa tidak memiliki keberanian atau kesempatan untuk berbicara. Kondisi ini sering kali menimbulkan ilusi bahwa semua keputusan yang diambil telah benar dan tidak akan pernah dipersoalkan.
Padahal, setelah masa jabatan berakhir, situasinya bisa berubah. Keputusan-keputusan yang dahulu dianggap biasa dapat ditinjau kembali. Kebijakan yang pernah dipuji bisa dievaluasi. Bahkan, apabila ditemukan pelanggaran terhadap hukum atau penyalahgunaan kewenangan, proses pertanggungjawaban tetap dapat berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
Inilah sebabnya mengapa seseorang tidak boleh menjadikan kekuasaan sebagai tameng untuk bertindak semaunya. Kekuasaan hanyalah amanah, bukan hak istimewa untuk mengabaikan aturan. Semakin besar kewenangan yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikul.
Pemimpin yang bijaksana tidak hanya berpikir tentang bagaimana memimpin hari ini, tetapi juga bagaimana kelak dikenang setelah tidak lagi memegang jabatan. Warisan terbaik seorang pemimpin bukanlah lamanya ia berkuasa, melainkan integritas, kejujuran, dan manfaat yang ditinggalkannya bagi masyarakat.
Karena itu, setiap keputusan hendaknya didasarkan pada hukum, etika, dan kepentingan bersama, bukan semata-mata karena merasa memiliki kekuasaan. Jabatan dapat berakhir, tetapi rekam jejak akan tetap ada. Kepercayaan publik dibangun melalui konsistensi dalam bertindak benar, bukan melalui kekuatan untuk membungkam kritik.
Pada akhirnya, kekuasaan dunia bukanlah benteng yang menjamin seseorang selalu aman. Selama masih menjabat, seseorang mungkin merasa terlindungi oleh kewenangan yang dimilikinya. Namun ketika masa jabatan selesai, perlindungan yang sesungguhnya bukanlah bekas kekuasaan, melainkan integritas, kepatuhan terhadap hukum, dan hati nurani yang bersih.
Sebab, tidak ada kekuasaan di dunia yang benar-benar dapat menjadi tameng. Yang akan tetap melindungi seseorang hingga akhir adalah kejujuran, tanggung jawab, dan kesediaan mempertanggungjawabkan setiap amanah yang pernah diemban.
Oleh karenanya para sahabat yang hari ini diberi amanah, selalu komit dan taat azaz. Janganlah bertindak terlalu jauh dari rambu - rambu. Segera kembali jika anda sudah melangkah melampaui bingkai sebagai batas selamat dari jeratan hukum. Sekecil apapun pelanggaran, tetap akan dimnta pertanggungjawaban. Andai pun tidak di dunia percayalah bahwa pengadilan akhirat itu pasti adanya.




Posting Komentar untuk "Tak Ada Kekuasaan di Dunia yang Jadi Tameng Abadi"