Reduce bounce ratesindo Hasan di Tiro: “Menghipnotis” Bangsa Aceh untuk Berontak dan Memukau Diplomasi Dunia - Indometro Media
☀️ --°C Medan
banner image

Hasan di Tiro: “Menghipnotis” Bangsa Aceh untuk Berontak dan Memukau Diplomasi Dunia

Oleh : Zulkifli, M.Pd Kepala SMAN 1 Lhoksukon


Aceh. Indometro. Id -
Nama Teungku Hasan Muhammad di Tiro tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang konflik Aceh. Ia bukan sekadar tokoh yang mendirikan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), tetapi juga seorang ideolog dan komunikator politik yang mampu membangun narasi perjuangan begitu kuat sehingga memengaruhi cara sebagian masyarakat Aceh memandang sejarah, identitas, ketidakadilan, dan masa depan negerinya.


Istilah “menghipnotis” dalam tulisan ini tentu bukan dalam arti hipnosis secara harfiah. Ia merupakan metafora untuk menggambarkan kekuatan gagasan, retorika, simbol, dan narasi politik Hasan di Tiro dalam memobilisasi dukungan.

Pada 4 Desember 1976, Hasan di Tiro mendeklarasikan Aceh Sumatra National Liberation Front (ASNLF) di Gunung Halimun, yang kemudian dikenal luas sebagai GAM. Gerakan itu mengusung gagasan kemerdekaan Aceh dari Indonesia. Konflik bersenjata yang kemudian berlangsung selama hampir tiga dekade membawa perubahan besar bagi masyarakat Aceh.

Mengubah sejarah menjadi kekuatan politik

Salah satu kekuatan Hasan di Tiro adalah kemampuannya mengemas sejarah Aceh menjadi sebuah narasi politik. Ia tidak sekadar berbicara mengenai kemiskinan atau ketidakpuasan terhadap pemerintah pusat. Ia membawa persoalan Aceh ke dalam bingkai yang lebih besar: sejarah kesultanan, identitas bangsa Aceh, kedaulatan, martabat, dan hak menentukan nasib sendiri.

Kajian mengenai pemikiran Hasan di Tiro menunjukkan bahwa gagasan tentang Aceh sebagai successor state atau penerus negara Aceh masa lalu menjadi bagian penting dari konstruksi nasionalisme Aceh yang ia kembangkan. Gagasan-gagasan tersebut banyak dirumuskan ketika ia berada di luar negeri.

Inilah yang membuat sebuah konflik politik tidak lagi sekadar terasa sebagai persoalan kebijakan pemerintah. Ia berubah menjadi persoalan identitas dan harga diri.

Ketika seseorang berhasil membuat masyarakat percaya bahwa perjuangan politik merupakan bagian dari mempertahankan martabat bangsanya, maka perjuangan itu tidak lagi mudah dihentikan hanya dengan pendekatan keamanan.

Dari hutan Aceh menuju panggung internasional

Menariknya, Hasan di Tiro tidak hanya mengandalkan perjuangan bersenjata. Setelah meninggalkan Aceh dan kemudian menetap di Swedia, ia terus membangun jaringan dan membawa isu Aceh ke forum internasional. Kajian tentang diplomasi GAM mencatat bahwa sejak awal Hasan di Tiro menempatkan diplomasi internasional sebagai salah satu bagian penting perjuangan, dengan harapan memperoleh pengakuan dan dukungan internasional bagi tuntutan Aceh. 

Di sinilah kemampuan politiknya terlihat. Ia berusaha mengubah persoalan yang sebelumnya dipandang sebagai urusan dalam negeri Indonesia menjadi persoalan yang menarik perhatian masyarakat internasional.

Dalam berbagai forum, argumentasi mengenai sejarah, hak menentukan nasib sendiri, dan kondisi Aceh terus dikemukakan. Bahkan tercatat bahwa Hasan di Tiro membawa persoalan Aceh ke forum Perserikatan Bangsa-Bangsa dan pada 1992 menyerukan referendum untuk menentukan masa depan Aceh.

Walaupun perjuangannya tidak menghasilkan pengakuan internasional terhadap kemerdekaan Aceh, strategi tersebut berhasil membuat nama Aceh semakin dikenal dalam percakapan internasional.

Itulah bagian yang disebut dalam judul sebagai “memukau diplomasi dunia” bukan berarti dunia menerima seluruh tuntutan Hasan di Tiro, tetapi ia berhasil membawa isu Aceh keluar dari ruang konflik lokal dan masuk ke ruang diplomasi internasional.

Hasan di Tiro memulai perjuangan dengan gagasan kemerdekaan Aceh. Namun perjalanan panjang konflik akhirnya berujung pada meja perundingan.

Setelah gempa dan tsunami 2004, proses perdamaian kembali bergerak dan pada 15 Agustus 2005 Pemerintah Republik Indonesia dan GAM menandatangani MoU Helsinki. Kesepakatan itu menghasilkan kerangka baru bagi kehidupan politik Aceh dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, termasuk pemberian kewenangan pemerintahan yang lebih luas kepada Aceh.

Dengan demikian, sejarah memperlihatkan sebuah pelajaran penting:

Perjuangan yang dimulai dengan senjata pada akhirnya harus diselesaikan melalui meja diplomasi.

Dan sementara ini justru di meja perundingan itulah masa depan rakyat harus ditentukan.

Terlepas dari apakah seseorang mengagumi atau mengkritik Hasan di Tiro, ada satu hal yang sulit dibantah: ia memahami kekuatan gagasan, beliau sukses mengajak banyak pemuda Aceh ikut dengan ide - idenya. Beliau sukses membuat pemerintah pusat kalang kabut dan operasi bersenjata di Aceh berdurasi panjang dan menelan banyak korban jiwa dan harta benda.

Ia mengetahui bahwa manusia tidak mudah digerakkan hanya dengan perintah. Manusia bergerak karena percaya pada sebuah cerita, identitas, cita-cita, dan harapan.

Beliau mewariskan semangat menjaga martabat Aceh untuk mandiri, berkeadilan, dan semua bangsa Aceh sejahtera.

Hasan di Tiro sendiri, ketika kembali ke Aceh pada 2008, menyerukan agar perdamaian dijaga dan tidak dihancurkan. Ia menyebut perdamaian sebagai nikmat dan menekankan pentingnya memelihara perdamaian untuk kesejahteraan bersama.

Maka, mungkin inilah pembacaan paling penting terhadap sejarahnya:

Dulu Hasan di Tiro mampu menggerakkan bangsa Aceh untuk melawan. Kini generasi Aceh harus mampu menggerakkan bangsa Aceh untuk membangun.

Dulu diplomasi digunakan untuk memperjuangkan pengakuan atas Aceh. Kini diplomasi, pendidikan, ekonomi, dan politik harus digunakan untuk memastikan Aceh dihormati karena kemajuan dan kesejahteraan rakyatnya.

Sebab kemenangan terbesar sebuah bangsa bukan ketika mampu membuat dunia takut kepadanya. Kemenangan terbesar adalah ketika rakyatnya hidup aman, bermartabat, berilmu, sejahtera, dan mampu menjaga perdamaian yang telah dibayar dengan harga yang sangat mahal.

Sejarah Hasan di Tiro adalah sejarah tentang kekuatan gagasan. Tetapi sejarah Aceh setelah perang harus menjadi sejarah tentang kekuatan perdamaian.

Kini Beliau telah tiada, adakah orang  sekaliber beliau di Aceh di masa mendatang?

Posting Komentar untuk "Hasan di Tiro: “Menghipnotis” Bangsa Aceh untuk Berontak dan Memukau Diplomasi Dunia"

PELUANG TIAP DAERAH 1 ?