Ruteng, NTT, Indometro.id — Ketua Kelompok Tani (Poktan) Wira Sakti, Lambertus Enga (Purn. TNI) menyesalkan keberadaan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Manggarai yang hingga kini belum memberikan dampak nyata terhadap pemberdayaan petani lokal, khususnya para anggota kelompok tani yang dipimpinnya.
“Semestinya program MBG, sebagai program unggulan nasional, bisa memberi dampak positif bagi usaha hortikultura yang sedang kami kembangkan,” ujar Lambertus kepada wartawan, Senin (10/11/2025), saat ditemui di lahan usahanya di Ruteng.
Produksi Lancar, Pemasaran Masih Terkendala
Lambertus menjelaskan bahwa kelompok taninya saat ini fokus pada budidaya berbagai komoditas hortikultura, seperti buncis, brokoli, cabai, vanbok, kacang panjang, pakcoy, mentimun, wortel, sawi, tomat, dan daun bawang.
“Dari sisi produksi kami tidak mengalami kendala. Hambatan utama justru di pemasaran, karena harus menjual hasil panen hingga ke Labuan Bajo Kabupaten Manggarai Barat,” ungkapnya.
Jarak yang jauh, lanjutnya, menyebabkan biaya transportasi meningkat, sehingga harga jual di tingkat petani menjadi rendah. “Harga sayur ditekan karena ongkos kirim besar. Kami terpaksa menjual murah,” keluh Lambertus.
Petani Harapkan Kerja Sama Langsung dengan SPPG
Senada dengan Lambertus, Ketua Kelompok Tani Kartika, Yosefina Mali, yang membawahi 27 anggota, juga berharap agar pihak Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG) membangun kemitraan langsung dengan para petani lokal.
“Kami ingin ada kerja sama yang jelas dan saling menguntungkan antara petani hortikultura dan SPPG,” kata Yosefina.
Lambertus menambahkan, sejauh ini belum ada perjanjian kerja sama resmi antara pihak petani dengan SPPG. “Kami berharap hubungan kerja yang langsung, tanpa melalui pihak perantara,” tegasnya.
Menurutnya, beberapa kali pekerja MBG datang membeli hasil pertanian, namun dengan harga penawaran yang rendah. “Harga yang ditawarkan belum menutupi biaya produksi. Kadang hanya 10 persen dari modal,” katanya.
Lambertus optimistis, jika ada kemitraan langsung antara petani dan SPPG, harga jual akan lebih layak dan memberi keuntungan yang pantas. “Kami siap menjadi pihak produksi, sementara SPPG menangani pemasaran. Buat saja perjanjian kerja sama yang saling menguntungkan,” pungkasnya.
Ketua Poktan Wira Sakti Lambertus Enga dengan jurnalis di lokasi usahanya
Lokasi Praktek bagi Siswa dan Mahasiswa
Selain kegiatan produksi, kelompok tani binaan Lambertus dan Yosefina juga menjadi lokasi praktik lapangan bagi siswa SMKN Restorasi Timung program studi Pertanian serta mahasiswa Fakultas Pertanian Unika Santu Paulus Ruteng.
“Mahasiswa dari Unika biasanya ikut membantu kegiatan bersama adik-adik dari SMKN Timung, tapi hari ini mereka izin kuliah,” ujar Lambertus, yang juga merupakan purnawirawan TNI AD. (****)




Posting Komentar untuk "Ketua Poktan Wira Sakti Sesalkan Program MBG Belum Sentuh Pemberdayaan Petani Holtikultura Manggarai "