Reduce bounce ratesindo Sebuah Epilog : Komunikasi Pejabat Urakan Pasca "Ndasmu" - Indometro Media
☀️ --°C Medan
banner image

Sebuah Epilog : Komunikasi Pejabat Urakan Pasca "Ndasmu"



Indometro.id – 

Komunikasi bukan sekadar berkata-kata, tetapi tentang bagaimana kita memberi ruang untuk mendengar. Bukan mendengar sekadar menangkap suara, melainkan memahami maksud di baliknya. Ada kebahagiaan dalam mendengar—seperti saat seorang anak pertama kali menyebut kata “ibu” atau “ayah.” Namun, mendengar tanpa memahami hanya menjadikan komunikasi sebagai ajang adu suara, bukan pertukaran makna.

Sering kali, reaksi lebih cepat dari pemahaman. Lihat saja bagaimana tagar #kaburajadulu ditanggapi. Bukannya direnungkan, justru langsung dibalas dengan amarah: “Kalau mau pergi, jangan kembali!” atau “Ini soal nasionalisme!” Padahal, di balik kata-kata itu, ada kecemasan, ada harapan yang mulai pudar. Begitu pula dengan ungkapan tentang kegelapan di negeri ini—alih-alih bertanya mengapa seseorang merasa demikian, justru yang muncul adalah pembelaan defensif: “Bukan Indonesia yang gelap, tapi kamu!” Seolah-olah kritik adalah ancaman, bukan ajakan untuk berpikir.

Empati adalah jantung dari komunikasi yang sehat. Jika kita terus-menerus menutup telinga dan hanya sibuk menyusun jawaban, maka yang terjadi bukan percakapan, melainkan pertarungan. Kita kehilangan kesempatan untuk memahami, untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda.

Anak muda hari ini berbicara dengan cara mereka sendiri. Tidak frontal, tetapi tetap tajam. Tidak kasar, tetapi tetap menggugah. Nasionalisme bukanlah perkara siapa yang paling keras berteriak di depan panggung, tetapi siapa yang benar-benar berbuat untuk negeri ini, meski tanpa sorotan.

Kita hidup di era di mana suara semakin banyak, tetapi makna semakin langka. Seperti kata Stephen R. Covey, “Most people do not listen with the intent to understand; they listen with the intent to reply.” Jika kita terus mendengar hanya untuk membalas, bukan untuk memahami, maka bukan komunikasi yang kita bangun, melainkan dinding pemisah. Pertanyaannya, apakah kita masih punya keberanian untuk mendengar yang tak ingin kita dengar? 

Sumber : fusilatnews

 


Posting Komentar untuk "Sebuah Epilog : Komunikasi Pejabat Urakan Pasca "Ndasmu""

Berita Terkini

UPDATE BERITA
Berita Terbaru LIVE
  • Memuat berita...
Berita Terkini UPDATE
  • Memuat berita...
Ads :

INDOMETRO MEDIA

Media promosi untuk bisnis, usaha, produk dan jasa Anda

SLOT IKLAN
📢
PASANG IKLAN DI SINI

Promosikan bisnis, produk atau jasa Anda melalui INDOMETRO MEDIA.

Harga mulai Rp50.000
Klik untuk informasi & pemesanan
PROMO
📣
PASANG IKLAN DI SINI

Jadikan brand Anda lebih dikenal oleh pembaca INDOMETRO.

Harga mulai Rp50.000
Klik untuk informasi & pemesanan
BUSINESS
💼
PASANG IKLAN DI SINI

Pilihan promosi untuk UMKM, perusahaan dan pelaku usaha.

Harga mulai Rp50.000
Klik untuk informasi & pemesanan
PREMIUM
🚀
PASANG IKLAN DI SINI

Tingkatkan visibilitas brand Anda bersama INDOMETRO MEDIA.

Harga mulai Rp50.000
Klik untuk informasi & pemesanan