Aduh!! Dampak Bangkai Babi Berserak di Sungai, Pedagang Ikan ‘Menjerit’ dan Masyarakat Takut - Indometro Media

Berita Terbaru

Tuesday, November 12, 2019

Aduh!! Dampak Bangkai Babi Berserak di Sungai, Pedagang Ikan ‘Menjerit’ dan Masyarakat Takut

Baca Juga

Ist

INDOMETRO. ID Dampak yang di duga pencemaran air sungai Bedagai akibat banyaknya bangkai babi yang mengapung dan hanyut di sepanjang sungai Bedagai, membuat para pedagang dan nelayan tradisional dalam sepekan ini berkurang omset penjualannya.
Masyarakat Tanjung Beringin Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) yang semula suka mengkonsumsi ikan, baik itu dari laut maupun ikan air tawar (muara) yang terdapat di sungai Bedagai dan laut di kecamatan tanjung beringin kurang diminati warga.
Pasalnya, warga takut mengonsumsi yang di duga sudah virus akibat bangkai babi yang berserakan di sepanjang sungai Bedagai dan laut Tanjungberingin dan sekitarnya.
Syaiful Hidayat (45) salah satu pedagang ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) kepada wartawan Selasa (12/11) mengatakan, sejak adanya bangkai babi yang hanyut mengapung di sungai Bedagai omset penjualan kami drastis menurun karena minat masyarakat untuk makan ikan sudah berkurang, lantaran masyarakat merasa jijik dan alergi karena adanya bangkai babi yang banyak mengapung disungai. Mungkin itu salah satu penyebab kurangnya minat masyarakat untuk mengkonsumsi ikan, keluhnya.
Sementara itu, M Yusuf Pulungan (52) salah satu nelayan tradisionil asal Bedagai , yang kesehariannya penjaring ikan dan udang di sekitar sungai dan tepian laut mengatakan, memang sejak adanya bangkai babi yang mengapung di sungai Bedagai omset penjualan kita berkurang. karena ikan dan udang ini kurang diminati lagi oleh masyarakat, akibat rumor daging ikan dan udang diduga sudah terindikasi Virus kata kebanyakan warga sekitar.
Jadi saya mewakili rekan-rekan nelayan tradisionil tanjung beringin, berharap kepada pihak pemerintah kabupaten Sergai agar serius menangani kasus banyaknya bangkai babi yang mengapung di sungai Bedagai. Bila perlu beri sangsi yang sepantasnya kepada pihak peternak babi yang kedapatan melanggar aturan dan jangan semena-mena membuang ternak mereka yang mati di sungai. beber M Yusuf.
Ditempat terpisah, Kiki (42) salah satu pedagang ikan keliling asal kecamatan sei Rampah, mengatakan , omset penjualan ikan yang kami jual ke pelosok-pelosok kampung. Karena masyarakat sudah tidak minat lagi mau beli ikan karena mendengar banyaknya bangkai babi yang mengapung di sungai, jadi masyarakat menganggap ikan yang dijual oleh pedagang ikan keliling seperti saya ini sudah kena terindikasi virus, ungkapnya.

Berita ini bersumber dari indah suara





No comments:

Post a Comment