Banyaknya 5.723 Warga Sumut Terserang DBD, 30 Orang Meninggal Dunia - Indometro Media

Berita Terbaru

Thursday, October 31, 2019

Banyaknya 5.723 Warga Sumut Terserang DBD, 30 Orang Meninggal Dunia

Baca Juga


ist

MEDAN, INDOMETRO.ID – Berdasarkan data Dinas Kesehatan Sumatera Utara (Dinkes Sumut), sebanyak 5.723 warga Sumut terinfeksi penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). 

Jumlah itu terhitung sejak Januari hingga Agustus 2019.

Dari jumlah tersebut, paling banyak penderitanya adalah laki-laki 2.998 orang dan sisanya perempuan 2.725 orang.

Dari jumlah itu juga, sebanyak 30 orang meninggal dunia.

Kepala Dinkes Sumut dr Alwi Mujahit Hasibuan mengatakan, sampai saat ini pihaknya terus melakukan program Juru Pemantau Jentik (Jumantik). 

Artinya, orang yang diberi tugas untuk memantau jentik nyamuk dari rumah ke rumah.

“Selain program jumantik, Dinkes Sumut terus menyebarkan informasi waspada DBD terhadap lintas program dan lintas sektor serta stakeholder daerah,” ujarnya, Kamis (31/10).

Diutarakan Alwi, survei faktor risiko DBD juga terus dilakukan di beberapa kabupaten/kota dengan tujuan mengetahui faktor risiko yang ada di daerah. 

Tak sampai di sana, pertemuan tata laksana kasus DBD di beberapa kabupaten/kota dengan tujuan penegasan kembali bagi petugas pelayanan kesehatan tentang SOP tata laksana kasus DBD sesuai Peraturan Menteri Kesehatan. 

“Kita juga mengkoordinasikan Gerakan 1 rumah 1 Jumantik (G1R1J) di beberapa kabupaten/kota dengan tujuan terbentuknya SK Jumantik tingkat kabupaten/kota, dan tersusunnya tim dan terlaksananya G1R1J. 

Selain itu, penyelidikan epidemiologi terhadap kasus yang ditemukan serta pendistribusian logistik DBD,” jelasnya.

Kepala Seksi Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Menular (P2P) dr Yulia Maryani menyebutkan, data tersebut dari Januari sampai Agustus dari 33 kabupaten/kota di Sumut.

“Dari jumlah semua penderita ini, rata-rata usianya kurang dari 1 Tahun sampai di atas 44 tahun. Beberapa daerah seperti Deliserdang dan Asahan tertinggi, karena upaya pencegahan terhadap DBD kurang. 

Sebab, gerakan 1 rumah 1 Jumantik belum berjalan, adanya persepsi dalam masyarakat bahwa penyelesaian DBD hanya dengan fogging hingga lokasi penduduk padat,” pungkasnya.
berita ini bersumber dari sumutpos

No comments:

Post a Comment