Waspada! Medan Dilanda Cuaca Ekstrem - Indometro Media

Berita Terbaru

Thursday, May 2, 2019

Waspada! Medan Dilanda Cuaca Ekstrem

Baca Juga

Ilustrasi cuaca
MEDAN,INDOMETRO.ID  – Bagi warga Kota Medan diimbau untuk waspada dalam tiga hari ke depan ini. 

Sebab, berdasarkan pemantauan Badan Metreologi dan Klimatologi (BMKG) Wilayah I Sumut, Kota Medan dilanda cuaca ekstrem. 

Untuk itu warga Kota Medan Medan diminta untuk lebih ekstra menjaga kesehatannya, apalagi menghadapi Bulan Ramadan di tengah cuaca ekstrem.
Kepala Bidang Data dan Informasi (Kabid Datin) Badan Metreologi dan Klimatologi (BMKG) Wilayah I Sumut, Syahnan mengatakan, cuaca ektrem itu terjadi di mana pada siang hari Kota Medan disengat cuaca panas, begitu sore menjelang malam hari, turun hujan. “Kondisi ini diprediksi bakal terjadi dalam beberapa hari ke depan,” ujar Syahnan, Kamis (2/5).
Kondisi itu terjadi, lanjut Syahnan, karena anomali cuaca lantaran memang Kota Medan memasuki peralihan musim dari kemarau ke musim penghujan. “Saat ini memang cuaca di Medan ini memang terjadi karena sedang peralihan musim. Itu yang membuat anomali cuaca. Namun kondisi ini tidak terjadi di seluruh Sumut, melainkan hanya di beberapa daerah saja, seperti Medan dan daerah lain,” ungkap Syahnan.
Untuk di Kota Medan, lanjutnya, suhu terpanas saat siang tercatat suhu tertinggi mencapai 36 derajat celcius. “Saya kurang ingat tanggalnya tapi kondisi itu baru-baru ini saja. Terpantau kondisi tersebut masih bakal berlangsung selama kuranglebih 3 hari ke depan. Panas di pagi hari, mendung mulai sore,” paparnya.
Menurut pusat informasi mereka anomali tersebut karena ada beberapa gangguan di wilayah Samudra Hindia dan di Teluk Benggala. Alhasil untuk wilayah Medan dan sekitarnya terjadi belokan angin sehingga ada pertumbuhan awan di pagi dan semakin bertumbuh hingga mulai mendung di sore. “Jadi saat sore hingga malam akan terjadi hujan sedang hingga lebat. Pandai-pandailah kita menjaga kesehatan menghadapi anomali cuaca ini,” ujarnya.
Sementara itu untuk puncak musim hujan diprediksi akan terjadi pada pertengahan Mei. “Jadi kan ini sekarang peralihan kemarau ke hujan. Puncaknya musim hujan itu mulai pertengahan Mei, tapi sebebarnya bulan ini sudah memasuki musim penghujan,” pungkasnya.
Ada 14 Titik Api di Sumut
Sementara itu, teriknya udara pada siang hari akibat anomali cuaca, harus diwaspadai karena bisa terjadi kebakaran lahan/hutan. BMKG mencatat, ada 14 titik api yang harus diwaspadai terjadi di Sumut. 14 titik itu ada di Kabupaten Asahan tepatnya di Kota Kisaran Barat ada satu titik, kemudian di Kecamatan Sei Kepayang satu titik, Kecamatan Mardinding Karo satu titik, Panei Hilir Labuhanbatu satu titik.
Kemudian, Labusel di Kecamatan Kampung Rakyat dua titik, Kota Pinang satu titik, Kecamatan Besitang Langkat satu titik, Madina khususnya di Panyabungan Kota ada dua titik hotspot, selanjutnya Hutarajatinggi, Palas satu titik, Kotarih, Segei satu titik, Tarutung, Taput satu titik dan terakhir ada di Kota Tebingtinggi satu titik.
“Secara keseluruhan titik api di Sumut ini cukup aman. Namun harus tetap kita waspadai. Mengingat di Sumbagut sendiri sebenarnya ada 156 titik api. Dari jumlah itu Aceh ada 20 titik, Sumut 14 titik, Sumbar 4 titik dan sisanya ada di Kepri dan Riau yang mencapai ratusan titik,” ujar Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Medan, Edison Kurniawan pada Coffee Morning dengan Stakeholder yang digelar Dinas Komunikasi dan Informatika Sumut bertajuk “Evaluasi dan Prakiraan Cuaca/Iklim/Kegempaan Bulan Mei 2019 di Wilayah Sumut”, di Kantor Diskominfo Sumut, Jl. HM Said Medan, Kamis (2/5).
Selain itu, lanjutnya, pada Mei 2019, BMKG juga memperkirakan bahwa curah hujan di Sumut juga meningkat. Pada wilayah Pantai Timur intensitas hujan meningkat 50-150 mm perbulannya. Sementara di daerah pegunungan, lereng barat dan pantai barat adan penurunan. “Lereng menjadi fokus kita. Pemkab/pemko harus terus update informasi yang disampaikan BMKG. Kemudian kita juga harus antisipasi potensi puting beliung,” katanya.
Untuk daerah potensi rawan banjir di Sumut umumnya harus diwaspadai di daerah Pantai Timur seperti Deliserdang, Langkat Batubara, Asahan dan beberapa daerah lainnya. Sementara untuk daerah-daerah rawan longsor bisa diantisipasi untuk daerah-daerah seperti Dairi, Nias, Nias Selatan, Pakpak Bharat, Tapsel Labuhanbatu, Samosir, Madina dan Karo. “Begitu juga untuk gelombang. Pada Mei ini kita prakirakan tinggi gelombang maksium 2,5 meter. Ini untuk perairan barat Aceh, kemudian peraitan Nias dan Sibolga,” katanya.
Turut hadir mewakili Kadis Kominfo HM Fitriyus, Sekretaris M Ayub, Kabid Pengelolaan Komunikasi Publik, Abdul Azis Batubara, dan perwakilan masing-masing OPD di lingkungan Pemprovsu.
Sebelumnya saat membuka acara, M Ayub mengatakan bahwa masyarakat harus memperoleh informasi akurat untuk meminimalisir dampak-dampak bencana yang akan terjadi nantinya. Apalagi Sumut merupakan daerah rawan bencana. “Dengan memberikan informasi awal kebencanaan maka ini bentuk perlindungan masyarakat. Dan informasi-informasi ini juga akan tercantum di website kita,” ucapnya menambahkan dengan langkah-langkah yang dilakukan itu agar Sumut semakin siap menghadapi potensi bencana yang ada. (sp)

No comments:

Post a Comment