SUBANG,INDOMETRO.ID – Proyek Rehabilitasi Sedang/Berat Ruang Kelas di SDN Cipunagara, Kecamatan Cipunagara, Kabupaten Subang, kini tengah menjadi sorotan. Proyek yang didanai anggaran negara sebesar Rp198.216.000 tersebut menuai keluhan dari pihak sekolah akibat minimnya transparansi dan koordinasi, serta kualitas pengerjaan yang dipertanyakan.
Kepala Sekolah SDN Cipunagara, Ujang, mengungkapkan kekecewaannya terhadap sikap pihak ketiga (CV/pelaksana) yang dinilai mengabaikan etika komunikasi. Sejak proyek dimulai hingga memasuki minggu kedua pelaksanaan, kontraktor sama sekali belum membangun komunikasi resmi dengan manajemen sekolah.
"Pihak CV atau pelaksana hingga saat ini tidak ada komunikasi dengan pihak kami," ujar Ujang saat memberikan keterangan kepada media, Senin (21/9).
Tidak hanya mengabaikan koordinasi, pihak pelaksana di lapangan juga diketahui langsung menggunakan fasilitas air dan listrik milik sekolah untuk keperluan proyek tanpa adanya pemberitahuan atau izin terlebih dahulu.
Kondisi ini diperparah oleh pengakuan salah seorang pekerja proyek yang enggan disebutkan namanya. Saat dikonfirmasi pada Senin (21/9), ia membenarkan bahwa proyek bernilai ratusan juta rupiah tersebut dikerjakan dengan metode "tambal sulam", khususnya pada bagian pemasangan keramik dan perbaikan tembok yang retak.
Pekerja tersebut juga membeberkan bahwa proyek ini dimiliki oleh seorang pengusaha asal Indramayu, sementara para pekerja di lapangan mayoritas didatangkan dari luar daerah, salah satunya dari Bandung.
Hingga draf ini diturunkan, pihak CV selaku pelaksana proyek rehabilitasi ruang kelas SDN Cipunagara belum memberikan keterangan resmi atau klarifikasi terkait keluhan serta dugaan pengerjaan di lapangan yang disampaikan oleh pihak sekolah.
Udin



Posting Komentar untuk "Proyek Rehabilitasi SDN Cipunagara Senilai Rp198 Juta Menuai Polemik: Minim Koordinasi dan Diduga Dikerjakan 'Tambal Sulam'"