Oleh: Zulkifli, M.Pd Kepala SMAN 1 Lhoksukon
![]() |
| Zulkifli, M.Pd |
Guru hadir untuk mengajar, mendidik, membimbing, dan memberi teladan. Murid hadir untuk belajar, berkembang, mencoba, bertanya, berpikir, berkarya, dan membangun masa depan.
Karena itu, ketika guru memasuki ruang kelas, sesungguhnya yang dibawa bukan hanya buku pelajaran, tetapi juga tanggung jawab besar terhadap masa depan murid.
Jangan sampai waktu belajar yang seharusnya digunakan untuk mendidik justru terganggu oleh urusan pribadi. Jangan sampai murid berada berjam-jam di dalam kelas, tetapi sesungguhnya tidak memperoleh pengalaman belajar yang bermakna.
Murid Hadir di Kelas, Tetapi Apakah Mereka Benar-Benar Belajar?
Kita perlu berani melakukan evaluasi terhadap proses pembelajaran. Kehadiran murid di ruang kelas belum tentu menunjukkan bahwa pembelajaran telah berlangsung dengan baik.
Ada kondisi ketika murid duduk di kelas, tetapi guru tidak benar-benar mengajar. Guru lebih banyak menggunakan waktu untuk mengurus kepentingan pribadi, bermain telepon genggam, berbincang di luar konteks pembelajaran, atau melakukan aktivitas lain yang tidak berhubungan dengan tujuan pembelajaran.
Ironisnya, ketika murid menggunakan HP pada saat pembelajaran, mereka langsung ditegur. Padahal guru sendiri menggunakan HP untuk kepentingan pribadi di hadapan murid.
Tentu penggunaan HP oleh guru dalam pembelajaran dapat dibenarkan apabila memang untuk mencari sumber belajar, menggunakan media pembelajaran, melakukan asesmen, atau mendukung kegiatan akademik. Yang menjadi persoalan adalah ketika HP digunakan untuk kepentingan pribadi sehingga perhatian guru tidak lagi tertuju kepada murid. Guru harus menjadi contoh sebelum menuntut murid untuk disiplin.
Masuk Kelas Tanpa Persiapan
Kualitas pembelajaran sangat ditentukan oleh persiapan. Guru seharusnya mengetahui apa tujuan pembelajaran hari itu, materi apa yang akan dipelajari, metode apa yang digunakan, aktivitas apa yang dilakukan murid, bagaimana keterlibatan murid dibangun, serta bagaimana ketercapaian tujuan pembelajaran diukur.
Tanpa persiapan yang baik, pembelajaran mudah berubah menjadi rutinitas. Guru masuk kelas, membuka buku, menjelaskan seadanya, meminta murid mencatat, kemudian memberikan tugas. Ketika waktu hampir selesai, tiba-tiba diberikan asesmen atau pertanyaan yang tidak memiliki keterkaitan yang jelas dengan proses pembelajaran yang baru saja berlangsung.
Padahal asesmen formatif seharusnya menjadi bagian dari proses pembelajaran, bukan sekadar kegiatan yang muncul tiba-tiba di penghujung jam pelajaran.
Melalui asesmen formatif, guru dapat mengetahui apakah murid memahami materi, bagian mana yang belum dipahami, dan tindakan apa yang perlu dilakukan berikutnya.
Jangan Sampai Asesmen Hanya Menjadi Formalitas
Ada persoalan lain yang jauh lebih serius: hasil pekerjaan murid tidak diperiksa secara sungguh-sungguh.
Lembar jawaban menumpuk, tetapi tidak dikoreksi secara memadai. Nilai kemudian diberikan dengan angka yang baik agar terlihat seolah-olah pembelajaran berhasil.
Jika hal seperti ini terjadi, masalahnya bukan sekadar administrasi penilaian. Dampaknya dapat langsung mengenai perkembangan belajar murid.
Nilai yang tinggi seharusnya mencerminkan kompetensi yang benar-benar dicapai, bukan sekadar angka untuk memenuhi administrasi.
Jika seorang murid mendapatkan nilai bagus tetapi ketika menghadapi pertanyaan sederhana tidak mampu menjelaskan materi yang telah dipelajari, maka kita perlu bertanya: apakah yang meningkat sebenarnya kemampuan murid atau hanya angka di dalam rapor?
Jangan sampai kita menciptakan keberhasilan semu. Murid naik kelas, nilai terlihat bagus, rapor terlihat baik, tetapi kemampuan membaca, bernalar, memecahkan masalah, berkomunikasi, bekerja sama, dan menerapkan pengetahuan masih rendah. Itu bukan keberhasilan pendidikan yang sesungguhnya.
Soal Berbeda, Jawaban Tidak Nyambung
Fenomena lain yang perlu menjadi perhatian adalah ketika murid mengerjakan ujian dengan jawaban yang tidak berhubungan dengan pertanyaan.
Kertas jawaban mungkin penuh tulisan, tetapi substansinya tidak menunjukkan pemahaman. Bahkan ada yang hanya menyerahkan kertas kosong atau menjawab secara asal.
Kondisi seperti ini tidak semestinya hanya dianggap sebagai kesalahan murid. Guru juga perlu melakukan refleksi.
Apakah materi telah diajarkan dengan jelas?
Apakah metode pembelajaran sesuai dengan karakter murid?
Apakah murid diberi kesempatan bertanya?
Apakah guru melakukan pengecekan pemahaman selama proses belajar?
Apakah asesmen sesuai dengan tujuan pembelajaran?
Jika banyak murid gagal memahami materi, jangan buru-buru menyalahkan murid. Bisa jadi ada sesuatu yang harus diperbaiki dalam proses pembelajarannya.
Guru Tidak Hadir, Murid Hanya Disuruh Mencatat
Kehadiran guru merupakan bagian penting dari tanggung jawab profesional. Jika guru sering tidak hadir tanpa alasan yang jelas, atau meninggalkan kelas sementara murid hanya diberi tugas mencatat dari buku, maka waktu belajar murid sesungguhnya sedang hilang.
Mencatat bukanlah pengganti proses pembelajaran. Murid membutuhkan penjelasan, dialog, pertanyaan, praktik, diskusi, pemecahan masalah, umpan balik, dan pengalaman belajar yang nyata.
Terlebih lagi, pendidikan tidak hanya berbicara tentang kognitif. Pembelajaran harus memberi ruang bagi perkembangan afektif dan psikomotorik.
Murid tidak cukup hanya mengetahui sesuatu. Mereka juga harus belajar memiliki sikap yang baik dan mampu melakukan atau menerapkan apa yang telah dipelajari.
Kelas Bukan Ruang Menunggu Jam Pulang
Guru perlu menyadari bahwa setiap menit di kelas memiliki nilai.
Satu jam pelajaran yang hilang tidak hanya berarti kehilangan waktu. Bagi murid, itu bisa berarti kehilangan kesempatan memahami sebuah konsep, memperbaiki kesalahan, mengembangkan keterampilan, bertanya kepada guru, atau mendapatkan pengalaman yang mungkin tidak mereka peroleh di tempat lain.
Karena itu, kelas jangan dijadikan sekadar tempat untuk menghabiskan waktu sampai bel berbunyi. Guru perlu hadir secara utuh: fisik, pikiran, perhatian, dan tanggung jawabnya.
Murid pun harus diperlakukan sebagai subjek pembelajaran, bukan sekadar objek yang disuruh duduk, diam, mencatat, dan mengerjakan tugas.
Kepala Sekolah dan Pengawas Juga Harus Hadir dalam Proses Perbaikan
Persoalan mutu pembelajaran tidak cukup diselesaikan dengan menegur guru. Supervisi akademik harus benar-benar dilakukan untuk melihat apa yang terjadi di ruang kelas.
Bukan sekadar memeriksa perangkat pembelajaran, tetapi melihat apakah perangkat tersebut benar-benar digunakan dalam praktik.
Apakah tujuan pembelajaran jelas?
Apakah kegiatan belajar melibatkan murid?
Apakah guru memberikan pertanyaan bermakna?
Apakah asesmen formatif dilakukan?
Apakah hasil asesmen dianalisis?
Apakah guru memberikan umpan balik?
Apakah murid mengalami pembelajaran yang aktif dan bermakna?
Inilah pentingnya supervisi yang berorientasi pada perbaikan, bukan sekadar mencari kesalahan. Guru yang mengalami kesulitan perlu dibina. Guru yang membutuhkan peningkatan kompetensi perlu didampingi. Namun pada saat yang sama, tanggung jawab profesional tetap harus dijaga.
Jangan Takut Mengakui Bahwa Ada yang Harus Diperbaiki
Budaya sekolah yang sehat bukan budaya yang selalu mengatakan semuanya baik-baik saja. Justru sekolah yang sehat adalah sekolah yang berani melihat kekurangan, mengakuinya, kemudian memperbaikinya.
Guru tidak perlu merasa kehilangan harga diri ketika hasil belajar murid belum sesuai harapan. Yang lebih penting adalah kemauan untuk memperbaiki cara mengajar.
Kepala sekolah juga tidak boleh hanya melihat administrasi yang rapi sebagai tanda keberhasilan. Sebab administrasi dapat terlihat sempurna, sementara realitas pembelajaran di dalam kelas belum tentu demikian.
Ukuran paling penting pada akhirnya adalah: apa yang benar-benar diperoleh murid setelah mengikuti proses pendidikan?
Jangan Habiskan Masa Depan Murid
Murid datang ke sekolah membawa harapan. Orang tua menitipkan anaknya dengan harapan mereka mendapatkan pendidikan yang baik. Karena itu, jangan ganggu proses belajar mengajar dengan urusan pribadi.
Jangan biarkan waktu belajar habis hanya untuk mencatat. Jangan biarkan asesmen menjadi formalitas. Jangan memberikan nilai yang tidak menggambarkan kemampuan sebenarnya. Jangan membiarkan guru tidak hadir tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dan jangan menganggap murid sudah belajar hanya karena mereka duduk diam di dalam kelas.
Guru hadir untuk mengajar, mendidik, membimbing, dan memberi teladan.
Murid hadir untuk belajar, berkembang, mencoba, bertanya, berpikir, berkarya, dan membangun masa depan.
Sekolah harus menjadi tempat di mana waktu belajar dihargai. Sebab setiap menit yang hilang di ruang kelas mungkin tidak dapat dikembalikan. Dan yang paling mahal dari waktu yang hilang itu bukanlah jam pelajarannya, melainkan kesempatan murid untuk tumbuh menjadi manusia yang lebih berpengetahuan, berkarakter, dan terampil.
Jangan sampai kita sibuk membuat laporan bahwa pembelajaran telah dilaksanakan, sementara murid sebenarnya belum mendapatkan pembelajaran yang mereka butuhkan. Kelas harus menjadi ruang belajar, bukan ruang untuk menghabiskan waktu.




Posting Komentar untuk "Jangan Ganggu Proses Belajar Mengajar dengan Urusan Pribadi ke Kelas"