Ruteng, NTT, Indometro.id – Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia Persatuan Guru Republik Indonesia (IGTKI-PGRI) menunjukkan kepedulian dan empati terhadap para guru TK yang terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur.
Kepedulian tersebut diwujudkan melalui kunjungan langsung Pengurus Pusat IGTKI-PGRI ke wilayah Manggarai Raya sekaligus menyerahkan bantuan senilai Rp500 juta yang dihimpun dari guru-guru TK di berbagai daerah di Indonesia.
Ketua Umum Pengurus Pusat IGTKI-PGRI, Eka Putri Handayani, M.Pd., mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk solidaritas para guru TK seluruh Indonesia kepada rekan-rekan mereka yang terdampak bencana.
“Kami guru TK se-Indonesia ikut berduka atas bencana yang terjadi. Bantuan yang kami berikan merupakan sumbangan dari seluruh guru TK di Indonesia. Sebab ada juga guru TK yang terdampak gempa,” kata Eka.
Menurutnya, kehadiran IGTKI-PGRI di Flores bukan hanya untuk menyerahkan bantuan, tetapi juga memberikan penguatan moral kepada para guru yang masih menghadapi dampak gempa dan gempa susulan.
“Kami ingin saling menguatkan dan saling mendukung agar kita bisa keluar dari bencana ini,” ujarnya.
Eka mengajak para guru TK di wilayah terdampak gempa untuk tetap bersabar, berpikir positif dan terus mengembangkan kemampuan diri. Ia mendorong para guru mengikuti berbagai program pengembangan kompetensi, sertifikasi, serta memperbanyak membaca literatur untuk meningkatkan kualitas profesional.
Ia juga mendorong para guru TK untuk bergabung dalam organisasi IGTKI-PGRI. Menurutnya, keberadaan organisasi bukan semata-mata untuk mendapatkan Kartu Tanda Anggota (KTA), tetapi menjadi wadah bersama dalam memperjuangkan hak dan kesejahteraan guru.
“Kegunaan kita berorganisasi tidak saja untuk mendapatkan KTA, tetapi juga untuk memperjuangkan hak dan kesejahteraan para guru,” katanya.
Dorong Peningkatan Kesejahteraan Guru TK
Dalam kesempatan tersebut, Eka turut menyoroti kesejahteraan guru TK dengan membandingkan pendapatan guru TK di sejumlah negara.
Ia menyebut, berdasarkan informasi yang disampaikannya, pendapatan guru TK di Jepang mencapai sekitar Rp50 juta per bulan, Australia sekitar Rp60 juta per bulan dan Malaysia sekitar Rp8 juta per bulan.
Eka berharap kondisi tersebut dapat menjadi perhatian bersama sehingga kesejahteraan guru TK di Indonesia terus mengalami peningkatan.
Ia juga mendorong para guru TK untuk berupaya menjadi ASN serta berharap adanya kebijakan yang lebih berpihak kepada guru PAUD dan TK, termasuk terkait penempatan guru PPPK di sekolah-sekolah TK swasta.
“Semoga ada guru PPPK yang ditempatkan di TK swasta,” harapnya.
Eka juga menyinggung perlunya regulasi yang memperhatikan pembagian layanan pendidikan berdasarkan kelompok usia anak. Menurutnya, anak PAUD berada pada rentang usia sekitar 2-4 tahun, sedangkan anak TK umumnya berada pada usia 4-6 tahun.
Di hadapan para guru TK terdampak gempa, Eka berpesan agar mereka tidak berhenti belajar dan terus menjaga semangat dalam menjalankan tugas mendidik anak-anak.
“Teruslah bersabar, teruslah berbuat baik, rajin belajar dan selalu berakhlak mulia,” pesannya.
Ia juga mengingatkan para guru agar tetap lapang dada dan tidak menjadikan keberhasilan orang lain sebagai alasan untuk berkecil hati.
“Kesuksesan orang lain hendaknya menjadi inspirasi buat kita untuk terus maju,” katanya.
Bantuan Disesuaikan dengan Tingkat Kerusakan
Eka menjelaskan, bantuan senilai Rp500 juta tersebut diberikan kepada guru TK yang terdampak gempa dengan mempertimbangkan tingkat kerusakan yang dialami, mulai dari kerusakan ringan, sedang hingga berat.
Selain untuk guru TK, bantuan dan kepedulian yang dibawa IGTKI-PGRI Pusat juga diarahkan untuk membantu masyarakat umum yang terdampak bencana.
“Hari ini kami mengunjungi dan memberikan bantuan kepada para guru TK yang terdampak gempa Flores. IGTKI memberikan bantuan sesuai dengan jenis kerusakan, rusak ringan, rusak sedang dan rusak berat,” jelasnya.
Setelah kegiatan seremonial, rombongan IGTKI-PGRI melanjutkan kunjungan langsung ke sejumlah rumah guru TK yang mengalami kerusakan akibat gempa.
Eka menyampaikan pesan kepada para guru TK di daerah terdampak agar tetap kuat menghadapi situasi tersebut.
“Teman-teman tetaplah bersabar dan berbesar hati. Teman-teman guru TK seluruh Indonesia selalu mendoakan dan membantu teman-teman di sini. Salam dari seluruh guru TK Indonesia untuk teman-teman semua,” ungkapnya.
Ia menegaskan, solidaritas tersebut tidak berhenti di Flores. IGTKI-PGRI, kata dia, akan terus menggalang bantuan bagi guru TK yang terdampak bencana di berbagai wilayah.
“Di mana pun teman guru TK yang terdampak bencana, insyaallah kami akan hadir di tengah teman sekalian. Di Flores, di NTB, di Kalimantan Selatan, Sumatra dan tempat lainnya,” katanya.
Saat ini, IGTKI-PGRI memiliki sekitar 350.000 guru TK di seluruh Indonesia dengan jumlah peserta didik sekitar 3,5 juta anak.
Hadir untuk Merasakan Langsung Dampak Gempa
Pembina IGTKI-PGRI Pusat, Prof. Dr. Sofia Hartanti, M.Si., mengatakan kehadiran mereka di wilayah terdampak gempa Flores merupakan bentuk kepedulian sekaligus upaya melihat secara langsung kondisi para guru TK di Manggarai Raya.
“Kami hadir untuk merasakan secara langsung dan mengetahui kondisi riil para guru TK di Manggarai Raya,” ujar Sofia.
Ia mengatakan, bencana gempa tentu memberikan tekanan besar bagi masyarakat, termasuk para guru TK yang rumah maupun lingkungan tempat tinggalnya mengalami kerusakan.
Menurutnya, kehadiran rombongan IGTKI-PGRI juga menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus memberikan dukungan moral kepada para guru.
“Bantuan mungkin sedikit, tetapi perhatian kami tidak berkurang untuk teman-teman guru TK yang terdampak gempa,” katanya.
Sofia yang juga Guru Besar Program TK dan PAUD Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menjelaskan bahwa kunjungan tersebut sengaja dilakukan karena terdapat anggota IGTKI-PGRI di wilayah Manggarai Raya yang turut terdampak gempa Flores magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026.
Bantuan yang diserahkan merupakan hasil pengumpulan sumbangan dari anggota IGTKI-PGRI seluruh Indonesia dan ditujukan bagi guru TK terdampak gempa di Manggarai Barat, Manggarai dan Manggarai Timur.
Pengurus IGTKI NTT Apresiasi Kepedulian
Ketua IGTKI-PGRI Provinsi NTT, Monika D.P. Malelak, S.Pd., mengaku bangga atas kehadiran Ketua Umum IGTKI-PGRI bersama rombongan di wilayah terdampak gempa Flores.
Menurutnya, kehadiran tersebut memberikan dukungan moral sekaligus bantuan nyata bagi para guru TK yang sedang menghadapi dampak bencana.
Monika juga mengingatkan para guru TK di Manggarai agar terus menjaga nama baik organisasi dan identitas profesi.
Ia mengajak para guru tetap menggunakan seragam IGTKI-PGRI dengan baik sebagai salah satu identitas organisasi. “Seragam biru ini merupakan identitas kita,” ujarnya.
Guru TK Ungkap Beratnya Dampak Gempa
Ketua IGTKI-PGRI Kabupaten Manggarai, Regina Sisilia Jimun, S.Pd., mengatakan kehadiran pengurus pusat IGTKI-PGRI menjadi kekuatan tersendiri bagi para guru TK yang terdampak gempa.
“Kehadiran ibu dan bapak hari ini merupakan suatu kekuatan dan hiburan yang begitu besar bagi para guru TK yang terdampak gempa Flores di Manggarai,” ungkap Regina.
Ia kemudian memaparkan dampak gempa terhadap para guru TK di Kabupaten Manggarai.
Menurut Regina, gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus lalu menyebabkan kerusakan pada rumah warga, termasuk rumah sejumlah guru TK.
Bahkan, terdapat guru yang rumahnya mengalami kerusakan berat sementara cicilan kredit rumah tersebut masih berjalan.
“Kami memohon dukungan dan bantuan dari IGTKI-PGRI untuk tidak berhenti sampai di sini saja karena masih ada gempa susulan yang merusak rumah para guru,” katanya.
Saat menyampaikan kondisi tersebut, Regina tidak kuasa menahan air mata ketika menceritakan kerusakan rumah dan bangunan yang dialami para guru TK serta masyarakat lainnya.
PGRI: Guru Harus Tetap Kuat
Ketua PGRI Kabupaten Manggarai, Simon Manggu, S.Pd., mengatakan para guru harus tetap bersemangat meskipun gempa susulan masih terjadi.
“Meskipun gempa susulan selalu aktif, tetapi kita harus tetap semangat dan tetap kuat,” ujar Simon.
Ia mengatakan PGRI Kabupaten Manggarai akan terus menjalankan tugas organisasi sekaligus memperjuangkan kesejahteraan guru yang pada akhirnya diharapkan berkontribusi terhadap peningkatan kualitas pendidikan dan peserta didik.
Simon juga meminta dukungan dari IGTKI-PGRI Pusat agar para guru di Manggarai tetap mendapatkan penguatan dalam menghadapi situasi pascabencana.
“Berilah kami hiburan dan dukungan agar kami tetap semangat dari hari ke hari dalam menghadapi bencana gempa dan gempa susulan di wilayah ini,” katanya.
Meldyanti: Mari Belajar Berdamai dengan Gempa
Sementara itu, Ketua Bunda PAUD Kabupaten Manggarai, Meldyanti Hagur Marcelina Nabit, S.P., mengajak seluruh masyarakat, termasuk para guru, untuk bersabar dan mengambil pelajaran dari bencana gempa yang terjadi.
“Menghadapi gempa ini kita sama-sama belajar. Kita bersyukur masih bisa bertemu kembali. Kita harus belajar dari gempa ini,” ujar Meldyanti.
Ia mengajak masyarakat untuk mulai beradaptasi dengan kondisi kegempaan yang terjadi di wilayah Flores.
Menurutnya, selain kerusakan fisik, gempa juga meninggalkan dampak psikologis yang berbeda pada setiap orang.
“Kita membutuhkan mental yang kuat karena tingkat trauma setiap orang berbeda-beda. Kita harus bisa menghilangkan trauma terhadap gempa,” katanya.
Meldyanti juga mengingatkan masyarakat Manggarai agar tetap memiliki semangat untuk bangkit.
“Kita orang Manggarai adalah pejuang. Meskipun gempa, tetapi pesta jalan terus,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah dan para pemangku kepentingan dapat melihat kembali berbagai regulasi terkait penanganan dampak gempa, termasuk aspek psikologis masyarakat.
Kunjungi Rumah Guru yang Rusak
Setelah kegiatan seremonial di TK Santa Clara, Woang, Ruteng, rombongan IGTKI-PGRI melanjutkan kunjungan ke rumah para guru TK yang mengalami kerusakan akibat gempa.
Kunjungan dilakukan ke sejumlah lokasi, di antaranya Ka Sama, Woang, Kelurahan Pitak, Kecamatan Langke Rembong, Ru'a Kecamatan Wae Ri'i, serta Enterlango, Kecamatan Ruteng.
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Umum IGTKI-PGRI Pusat, Eka Putri Handayani, M.Pd, Pembina IGTKI-PGRI Prof. Dr. Sofia Hartanti, M.Si., Ketua IGTKI-PGRI Provinsi NTT Monika D.P. Malelak, S.Pd., Ketua Bunda PAUD Kabupaten Manggarai Meldyanti Hagur Marcelina Nabit, Ketua PGRI Kabupaten Manggarai Simon Manggu, Ketua IGTKI PGRI kabupaten Manggarai, Regina Sisilia Jimun, para guru TK dari Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur dan Manggarai Barat, serta sejumlah undangan lainnya.
Kehadiran IGTKI-PGRI di Manggarai Raya menjadi bagian dari solidaritas para guru TK se-Indonesia untuk mendukung rekan-rekan mereka yang sedang menghadapi dampak gempa Flores. (****)





Posting Komentar untuk "Peduli Guru TK Terdampak Gempa Flores, IGTKI-PGRI Pusat Salurkan Bantuan Rp500 Juta di Manggarai Raya"