Reduce bounce ratesindo Berbicara dengan Hati Nurani atau karena Kepentingan? - Indometro Media
☀️ --°C Medan
banner image

Berbicara dengan Hati Nurani atau karena Kepentingan?

Oleh: Zulkifli

Zulkifli

Apakah saya akan mengatakan hal yang sama jika orang yang berkuasa adalah sahabat saya?Apakah saya tetap akan mengkritik ketika kritik itu membuat saya kehilangan keuntungan?

Aceh. Indometro. Id - Di tengah hiruk-pikuk kehidupan sosial dan politik, manusia semakin mudah berbicara. Setiap orang memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat, mengkritik, memuji, membela, bahkan menyerang. Namun, ada satu pertanyaan penting yang sering terlupakan:

Apakah kita berbicara karena hati nurani, atau karena sedang mengejar kekuasaan dan kepentingan?

Pertanyaan ini sederhana, tetapi jawabannya membutuhkan keberanian untuk melihat ke dalam diri sendiri.

Berbicara dengan hati nurani berarti menyampaikan sesuatu berdasarkan kebenaran yang diyakini, bukan semata-mata karena ada kepentingan pribadi. Ia tidak berubah hanya karena siapa yang sedang berkuasa. Ketika benar dikatakan benar, ketika salah dikatakan salah.

Sebaliknya, berbicara karena ada kepentingan membuat seseorang mudah mengubah prinsip sesuai keadaan. Ketika berada di luar kekuasaan, suaranya terdengar sangat keras mengkritik. Namun ketika memperoleh posisi, kritik yang dahulu disuarakan tiba-tiba menghilang.

Inilah salah satu persoalan besar dalam kehidupan publik.

Ketika prinsip berubah mengikuti siapa yang berkuasa

Kita sering menyaksikan seseorang begitu lantang berbicara tentang keadilan ketika tidak memiliki kekuasaan. Ia mengecam ketidakadilan, mempertanyakan kebijakan, membela rakyat dan berjanji akan memperbaiki keadaan.

Tetapi setelah mendapatkan jabatan, apakah semuanya masih sama?

Tidak sedikit orang yang akhirnya justru mempertahankan keadaan yang dahulu mereka kritik. Bahkan, tidak jarang mereka menggunakan alasan yang sama dengan orang-orang yang dulu mereka lawan.

Di sinilah kualitas seorang manusia diuji.

Kekuasaan seharusnya menguji integritas, bukan mengubah prinsip.

Jika seseorang hanya berani berbicara ketika berada di luar lingkaran kekuasaan, tetapi diam ketika kepentingannya sudah terpenuhi, maka publik patut bertanya: apakah perjuangannya benar-benar untuk rakyat atau hanya untuk mendapatkan posisi?

Hati nurani tidak mengenal musim

Orang yang berbicara dengan hati nurani tidak perlu menunggu momentum politik.

Ia tidak bertanya, "Siapa yang diuntungkan?"

Ia terlebih dahulu bertanya, "Apa yang benar?"

Ia tidak takut kehilangan jabatan karena kebenaran tidak bergantung pada jabatan. Ia tidak perlu memuji penguasa untuk mendapatkan perhatian dan tidak harus menghina lawan untuk mendapatkan dukungan.

Hati nurani justru sering berbicara ketika suara mayoritas memilih diam.

Karena itu, berbicara dengan hati nurani terkadang tidak populer. Bahkan bisa membuat seseorang kehilangan teman, jabatan, kesempatan, atau keuntungan.

Namun, ada sesuatu yang jauh lebih berharga daripada semua itu: harga diri dan ketenangan batin.

Jangan menjadikan rakyat sebagai tangga kekuasaan

Yang lebih berbahaya adalah ketika penderitaan rakyat hanya dijadikan bahan untuk membangun popularitas.

Kemiskinan dibicarakan ketika membutuhkan suara.

Ketidakadilan dipersoalkan ketika membutuhkan dukungan.

Korupsi dikutuk ketika koruptornya adalah lawan politik.

Tetapi ketika memiliki kesempatan dan kekuasaan, prinsip-prinsip itu perlahan dilupakan.

Rakyat jangan dijadikan sekadar tangga untuk mencapai kekuasaan.

Sebab kekuasaan yang diperoleh dengan menjual harapan rakyat pada akhirnya akan mempertanggungjawabkan semua janji tersebut.

Pemimpin yang baik bukanlah orang yang paling pandai berbicara, tetapi orang yang perkataan dan perbuatannya tidak berjalan ke arah yang berlawanan.

Kritik bukan berarti kebencian

Dalam masyarakat yang sehat, kritik seharusnya tidak dianggap sebagai permusuhan.

Kritik yang lahir dari hati nurani justru merupakan bentuk kepedulian. Orang yang peduli akan berani mengatakan sesuatu yang tidak ingin didengar ketika melihat kesalahan.

Sebaliknya, orang yang hanya ingin menyenangkan penguasa mungkin memilih diam terhadap kesalahan karena takut kehilangan keuntungan.

Padahal, kekuasaan membutuhkan orang-orang yang berani mengatakan:

"Ini benar."

"Ini salah."

"Ini harus diperbaiki."

Bukan hanya orang-orang yang selalu mengatakan:

"Siap."

"Benar semua."

"Tidak ada masalah."

Ketika semua orang hanya mengatakan apa yang ingin didengar penguasa, maka kekuasaan akan kehilangan cermin untuk melihat dirinya sendiri.

Ujian terbesar bukan ketika kita tidak berkuasa

Mudah berbicara tentang integritas ketika kita tidak memiliki apa-apa.

Ujian sesungguhnya datang ketika kita memiliki jabatan, kewenangan, fasilitas, akses dan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan.

Apakah prinsip masih dipertahankan?

Apakah kebenaran masih berani disampaikan?

Apakah kepentingan rakyat masih ditempatkan di atas kepentingan pribadi, keluarga, kelompok dan orang-orang yang dekat dengan kekuasaan?

Di situlah kualitas seorang pemimpin terlihat.

Sebab kekuasaan bukan hanya memberikan kewenangan, tetapi juga membuka ruang yang sangat besar bagi godaan.

Mari bertanya kepada diri sendiri

Sebelum berbicara tentang kesalahan orang lain, mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri:

Apakah saya berbicara karena kebenaran atau karena kepentingan?

Apakah saya akan mengatakan hal yang sama jika orang yang berkuasa adalah sahabat saya?

Apakah saya tetap akan mengkritik ketika kritik itu membuat saya kehilangan keuntungan?

Apakah saya masih membela rakyat ketika tidak ada kamera yang merekam?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin lebih penting daripada sekadar seberapa keras suara kita terdengar.

Karena suara yang keras belum tentu suara yang benar.

Popularitas bukan ukuran kebenaran.

Jabatan bukan ukuran kemuliaan.

Dan kekuasaan bukan bukti bahwa seseorang berada di pihak yang benar.

Pada akhirnya, manusia akan dinilai bukan hanya dari apa yang pernah dikatakannya, tetapi juga dari apa yang dilakukannya ketika memiliki kesempatan untuk memilih antara kebenaran dan kepentingan.

Maka, mari belajar berbicara dengan hati nurani.

Berani mengatakan benar meskipun tidak menguntungkan.

Berani mengatakan salah meskipun pelakunya memiliki kekuasaan.

Dan berani tetap memegang prinsip meskipun tidak ada yang bertepuk tangan.

Sebab kekuasaan bisa diperoleh dan bisa hilang. Jabatan bisa datang dan bisa pergi. Tetapi ketika hati nurani telah dijual demi kekuasaan, tidak mudah untuk membelinya kembali.

Posting Komentar untuk "Berbicara dengan Hati Nurani atau karena Kepentingan?"

Berita Terkini

UPDATE BERITA
Berita Terbaru LIVE
  • Memuat berita...
Berita Terkini UPDATE
  • Memuat berita...
Ads :