Oleh Zulkifli, M.Pd Kepala SMAN 1 Lhoksukon
Perbaikilah Shalatmu, dan Perbaikilah Shalat orang - orang yang Menjadi Tanggung Jawabmu.
Aceh Utara. Indometro. Id - Shalat bukan sekadar kewajiban yang dikerjakan lima kali sehari. Shalat adalah pendidikan jiwa yang terus-menerus. Ia mengajarkan manusia tentang disiplin, kejujuran, kesabaran, kerendahan hati, tanggung jawab, dan kesadaran bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Karena itu, ketika seseorang ingin memperbaiki dirinya, salah satu tempat pertama yang harus diperiksa adalah shalatnya.
Bukan hanya apakah ia shalat atau tidak, tetapi bagaimana kualitas shalatnya. Apakah shalat benar-benar membentuk dirinya menjadi manusia yang lebih baik?
Allah berfirman:
"Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar."
(QS. Al-'Ankabut: 45)
Ayat ini memberikan pesan yang sangat dalam. Shalat seharusnya memiliki pengaruh terhadap perilaku. Jika seseorang semakin rajin shalat tetapi masih mudah berbohong, mengkhianati amanah, merugikan orang lain, malas menjalankan tugas, dan tidak peduli terhadap tanggung jawabnya, maka ada sesuatu yang perlu diperbaiki dalam penghayatan shalatnya.
Shalat Mengajarkan Kedisiplinan
Lima waktu shalat mengajarkan manusia untuk menghargai waktu. Tidak ada alasan untuk menunda ketika waktu shalat telah tiba. Dari sini seorang Muslim seharusnya belajar bahwa kehidupan juga memiliki waktu, kesempatan, dan tanggung jawab yang tidak boleh diabaikan.
Orang yang terlatih menjaga shalat semestinya juga belajar menjaga waktu kerja, waktu belajar, waktu mengajar, waktu melayani masyarakat, dan waktu memenuhi amanah.
Jangan sampai tepat waktu ketika menghadap Allah, tetapi lalai ketika menjalankan amanah manusia.
Shalat Mengajarkan Kejujuran
Ketika shalat, seseorang berdiri menghadap Allah tanpa bisa menyembunyikan apa pun. Manusia mungkin dapat menyembunyikan kesalahan dari atasannya, dari guru, dari teman, bahkan dari keluarganya. Tetapi tidak ada satu pun yang tersembunyi dari Allah. Kesadaran inilah yang seharusnya melahirkan kejujuran.
Shalat yang benar semestinya membuat seseorang takut mengambil sesuatu yang bukan haknya, takut memanipulasi pekerjaan, takut menyalahgunakan jabatan, dan takut mengkhianati kepercayaan. Sebab orang yang benar-benar sadar sedang diawasi Allah tidak membutuhkan pengawasan manusia untuk berbuat benar.
Shalat Mengajarkan Tanggung Jawab
Dalam shalat, setiap gerakan dilakukan dengan tertib. Ada waktu, syarat, rukun, dan ketentuan yang harus dipenuhi. Ini adalah pendidikan tentang tanggung jawab. Maka, setelah selesai shalat, pendidikan itu seharusnya berlanjut dalam kehidupan.
Jika seorang guru, maka bertanggung jawablah terhadap muridnya.
Jika seorang kepala sekolah, maka bertanggung jawablah terhadap sekolah yang dipimpinnya.
Jika seorang tenaga kependidikan, laksanakanlah tugas dengan sungguh-sungguh.
Jika seorang siswa, bertanggung jawablah terhadap kesempatan belajar yang diberikan kepadanya.
Jika seorang pemimpin, jangan hanya menikmati kewenangan, tetapi tunaikan amanah yang menyertainya.
Shalat tidak boleh berhenti di atas sajadah. Nilainya harus terlihat ketika kita kembali menjalankan tugas kehidupan.
Perbaikilah Shalatmu, Lalu Perbaikilah Tanggung Jawabmu
Ada sebuah pesan sederhana yang layak direnungkan:
"Perbaikilah shalatmu dan semua yang menjadi tanggung jawabmu."
- Perbaiki wudhumu.
- Perbaiki ketepatan waktunya.
- Perbaiki bacaan dan gerakannya.
- Perbaiki kekhusyukannya.
- Perbaiki pemahaman terhadap maknanya.
Tetapi jangan berhenti di sana, setelah shalat,
- Perbaikilah pekerjaanmu.
- Perbaiki cara memperlakukan orang lain.
- Perbaiki cara berbicara.
- Perbaiki kejujuran.
- Perbaiki disiplin.
- Perbaiki pelayanan.
- Perbaiki amanah.
- Perbaiki tanggung jawab terhadap keluarga, sekolah, masyarakat, dan lingkungan.
Sebab kesalehan seseorang tidak hanya terlihat ketika ia berada di masjid, tetapi juga ketika ia berada di tengah-tengah tanggung jawabnya.
Jangan Jadikan Shalat Sekadar Rutinitas
Bahaya terbesar adalah ketika shalat berubah menjadi rutinitas tubuh tanpa perubahan pada jiwa.
Berdiri, rukuk, sujud, lalu selesai.
Namun setelah salam, kembali kepada kebiasaan lama: marah, berbohong, malas, menunda pekerjaan, menyalahgunakan kepercayaan, merendahkan orang lain, dan mengabaikan amanah.
Padahal shalat seharusnya menjadi momentum untuk melakukan evaluasi diri.
Setiap kali berdiri menghadap Allah, tanyakan kepada diri:
Apa yang harus saya perbaiki setelah shalat ini?
- Jika hari ini masih mudah marah, perbaikilah.
- Jika masih sering menunda pekerjaan, perbaikilah.
- Jika masih lalai terhadap amanah, perbaikilah.
- Jika masih menyakiti orang lain dengan perkataan, perbaikilah.
- Jika masih menggunakan jabatan untuk kepentingan diri sendiri, perbaikilah.
- Jika masih menjadi orang yang hanya menuntut hak tetapi melupakan kewajiban, perbaikilah.
Shalat Membentuk Watak
Watak manusia tidak berubah hanya karena nasihat. Watak dibentuk melalui latihan yang dilakukan terus-menerus. Shalat adalah salah satu latihan terbesar dalam kehidupan seorang Muslim.
Lima kali sehari manusia dilatih untuk berhenti dari kesibukan dunia, membersihkan diri, menghadap Allah, merendahkan hati, mengakui kebesaran-Nya, dan memohon petunjuk.
Jika latihan itu benar-benar dihayati, perlahan-lahan ia akan membentuk karakter.
- Dari shalat lahir disiplin.
- Dari disiplin lahir tanggung jawab.
- Dari tanggung jawab lahir kepercayaan.
- Dari kepercayaan lahir kehormatan.
- Dan dari ketakwaan lahir akhlak yang baik.
Karena itu, memperbaiki manusia tidak cukup hanya dengan memberikan pengetahuan. Kita juga harus membangun hubungan manusia dengan Allah.
Sekolah Pun Harus Mengajarkan Makna Shalat
Dalam dunia pendidikan, shalat seharusnya tidak hanya diajarkan sebagai kewajiban ritual. Sekolah dapat menjadikan shalat sebagai bagian dari pendidikan karakter.
Siswa diajak memahami bahwa disiplin shalat berarti belajar disiplin. Menjaga kebersihan untuk shalat berarti belajar menjaga lingkungan. Berdiri dalam saf berarti belajar kesetaraan. Rukuk dan sujud berarti belajar kerendahan hati. Salam setelah shalat berarti belajar menebarkan keselamatan dan kedamaian.
Dengan demikian, pendidikan agama tidak berhenti pada hafalan, tetapi berubah menjadi watak dan kebiasaan hidup.
Penutup
Shalat adalah hubungan manusia dengan Allah, tetapi pengaruhnya seharusnya terlihat dalam hubungan manusia dengan sesamanya.
Maka, jangan hanya bertanya:
"Sudahkah saya shalat?" Tetapi tanyakan pula:
"Apakah shalat saya telah membuat saya menjadi manusia yang lebih baik?"
Jika belum, jangan tinggalkan shalat.
Justru perbaikilah shalatmu.
Perbaiki kekhusyukannya.
Perbaiki kedisiplinannya.
Perbaiki pemahamannya.
Perbaiki penghayatannya.
Kemudian, bawa perubahan itu ke dalam kehidupan.
Perbaikilah shalatmu, dan perbaikilah semua yang menjadi tanggung jawabmu.
Sebab shalat yang baik bukan hanya membuat seseorang lebih dekat kepada Allah, tetapi semestinya juga membuatnya menjadi manusia yang lebih jujur, lebih amanah, lebih disiplin, lebih rendah hati, dan lebih bermanfaat bagi orang lain.
Shalat memperbaiki hubungan kita dengan Allah. Akhlak membuktikan pengaruhnya dalam kehidupan.




Posting Komentar untuk "Shalat Pondasi Dasar Perbaiki Watak Manusia"