Opini oleh : Zulkifli, M.Pd Kepala SMAN 1 Lhoksukon

Zulkifli, M.Pd
Aceh. Indometro. Id - Gelar akademik seharusnya menjadi simbol dari proses panjang pencarian ilmu, penelitian, pengujian gagasan, dan pengabdian kepada masyarakat. Gelar doktor bukan sekadar tambahan tiga huruf di belakang nama. Apalagi gelar profesor bukan sekadar atribut untuk memperlihatkan status sosial. Di dalamnya ada tanggung jawab moral untuk menjaga kebenaran ilmiah.
Namun, integritas akademik akan berada dalam bahaya ketika gelar mulai diburu bukan karena kecintaan pada ilmu, melainkan karena kepentingan jabatan, gengsi, pengaruh, atau pencitraan.
Fenomena pejabat yang berlomba mendapatkan gelar doktor atau profesor semestinya menjadi bahan perenungan serius bagi dunia pendidikan tinggi. Bukan karena seorang pejabat tidak boleh melanjutkan pendidikan. Justru sebaliknya, pejabat yang mau belajar dan meningkatkan kapasitas akademiknya patut diapresiasi.
Persoalannya adalah ketika kekuasaan dan status sosial mulai memengaruhi proses akademik.
Jika seseorang memperoleh gelar melalui penelitian yang sungguh-sungguh, melewati proses pembimbingan, seminar, ujian, publikasi, dan memenuhi standar akademik, maka gelar tersebut adalah kehormatan.
Tetapi jika gelar menjadi sesuatu yang bisa dikejar karena memiliki jabatan, koneksi, kekuasaan, atau kemampuan finansial, maka yang sedang dipertaruhkan bukan hanya nama seseorang. Yang rusak adalah kepercayaan publik terhadap perguruan tinggi.
Gelar Bukan Aksesori Kekuasaan
Doktor adalah gelar akademik yang menunjukkan kemampuan seseorang menghasilkan pengetahuan baru melalui penelitian. Karena itu, seorang doktor semestinya memiliki tradisi berpikir kritis, jujur terhadap data, terbuka terhadap kritik, dan berani mengatakan benar sebagai benar serta salah sebagai salah.
Ironis apabila seseorang menyandang gelar doktor tetapi dalam praktiknya justru menggunakan kekuasaan untuk menghindari kritik, memaksakan kehendak, atau membungkam perbedaan pendapat.
Lebih ironis lagi apabila gelar akademik digunakan sebagai legitimasi untuk menunjukkan bahwa dirinya lebih hebat daripada orang lain.
Ilmu seharusnya membuat manusia semakin rendah hati, bukan semakin arogan.
Seorang pejabat yang benar-benar berilmu semestinya memahami bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk memberikan teladan.
Ketika Kampus Terlalu Mudah Memberikan Karpet Merah
Perguruan tinggi juga harus introspeksi. Kampus memiliki posisi penting sebagai penjaga integritas akademik. Jangan sampai hubungan dengan pejabat, tokoh politik, pengusaha, atau orang berpengaruh membuat standar akademik menjadi lebih longgar.
Kampus boleh memberikan pelayanan terbaik kepada siapa pun. Tetapi standar ilmiah tidak boleh berbeda karena status sosial seseorang.
Mahasiswa biasa harus mengikuti prosedur akademik, maka pejabat juga harus mengikutinya. Mahasiswa biasa harus diuji secara ketat, maka pejabat pun harus diuji dengan standar yang sama.
Tidak boleh ada standar akademik berdasarkan siapa yang datang. Kalau prinsip ini hilang, perguruan tinggi berisiko berubah dari rumah ilmu menjadi rumah legitimasi kekuasaan.
Profesor Bukan Sekadar Gelar
Hal yang lebih serius adalah penggunaan istilah profesor secara sembarangan. Profesor bukan sekadar gelar yang diberikan karena seseorang memiliki jabatan tinggi atau dianggap berjasa. Profesor merupakan jabatan akademik yang memiliki persyaratan dan tanggung jawab ilmiah.
Karena itu, masyarakat berhak bertanya: apa kontribusi ilmiahnya? Apa karya penelitiannya? Apa gagasan yang telah diberikan kepada ilmu pengetahuan? Apa manfaat keilmuannya bagi masyarakat?
Pertanyaan semacam ini bukan bentuk kebencian kepada pejabat. Justru merupakan bentuk kepedulian terhadap marwah akademik.
Jangan sampai anak-anak muda yang bertahun-tahun belajar, melakukan penelitian, menulis jurnal, mengikuti seminar, dan bekerja keras membangun rekam jejak akademik justru merasa bahwa kerja keras mereka tidak berarti ketika melihat gelar dapat diperlakukan seperti aksesori kekuasaan.
Jangan Membunuh Motivasi Generasi Muda
Bahaya terbesar dari rusaknya integritas akademik bukan hanya munculnya gelar yang diragukan. Dampak yang lebih besar adalah hilangnya kepercayaan generasi muda terhadap pendidikan.
Jika anak muda melihat bahwa prestasi akademik dapat dikalahkan oleh kekuasaan, mereka bisa bertanya: untuk apa belajar sungguh-sungguh?
Jika penelitian yang jujur tidak dihargai, sementara status sosial justru menjadi jalan pintas, maka pesan buruk sedang dikirimkan kepada generasi berikutnya.
Padahal bangsa ini membutuhkan ilmuwan yang jujur, guru yang kompeten, dosen yang berintegritas, peneliti yang independen, dan pemimpin yang berilmu. Bukan sekadar orang-orang yang memiliki banyak gelar.
Pejabat Silakan Sekolah, Tetapi Jangan Membeli Simbol
Tidak ada yang salah dengan pejabat menjadi mahasiswa doktoral. Bahkan akan sangat baik jika pejabat menggunakan kesempatan pendidikan untuk memperdalam ilmu dan menyelesaikan persoalan bangsa melalui penelitian.
Tetapi proses itu harus dijalani dengan cara yang terhormat. Datang sebagai mahasiswa, bukan sebagai pejabat. Duduk di ruang kuliah sebagai pembelajar, bukan sebagai penguasa.
Menerima kritik dari dosen dan penguji, bukan meminta perlakuan istimewa.
Menulis penelitian berdasarkan data, bukan berdasarkan pesanan.
Mempertahankan argumentasi dengan bukti, bukan dengan jabatan.
Dan ketika akhirnya mendapatkan gelar, yang dibawa bukan hanya ijazah, tetapi juga integritas.
Sebab gelar doktor yang diperoleh dengan perjuangan akan menjadi kehormatan. Sebaliknya, gelar yang diperoleh dengan cara yang meragukan justru dapat menjadi beban moral sepanjang hayat.
Kampus Harus Menjaga Marwahnya
Perguruan tinggi tidak boleh takut kepada kekuasaan. Kampus harus menjadi tempat di mana pejabat sekalipun dapat dikritik secara ilmiah. Kampus harus menjadi ruang yang bebas dari intervensi kepentingan politik dan kekuasaan.
Sebab apabila perguruan tinggi kehilangan independensinya, maka salah satu benteng terakhir masyarakat dalam mencari kebenaran ikut runtuh. Jangan biarkan gelar akademik menjadi komoditas.
Doktor harus tetap menjadi simbol kedalaman ilmu. Profesor harus tetap menjadi simbol kepakaran dan pengabdian ilmiah.
Pejabat boleh memiliki jabatan.
Pejabat boleh memiliki kekayaan.
Pejabat boleh memiliki popularitas.
Tetapi ketika memasuki dunia akademik, yang harus berbicara adalah ilmu, bukan kekuasaan. Karena pada akhirnya, masyarakat tidak membutuhkan pejabat yang sekadar pandai mengumpulkan gelar.
Masyarakat membutuhkan pemimpin yang memiliki ilmu, integritas, dan mampu menggunakan ilmunya untuk memperbaiki kehidupan rakyat.


Posting Komentar untuk "Integritas Akademik Rusak Ketika Pejabat Berburu Gelar Doktor/Profesor"