Ruteng, NTT, Indometro.id – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Republik Indonesia, Brian Yuliarto, mengunjungi Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (26/8/2026), untuk meninjau langsung kondisi masyarakat terdampak gempa Flores, termasuk mahasiswa dan dosen.
Dalam kunjungan tersebut, Mendiktisaintek membawa kabar penting bagi mahasiswa asal NTT yang terdampak bencana. Kementerian menyiapkan pembebasan Uang Kuliah Tunggal (UKT) selama satu semester bagi sekitar 5.000 mahasiswa terdampak gempa yang sedang menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi.
Kebijakan tersebut bahkan berpeluang diperpanjang satu semester berikutnya apabila kondisi mahasiswa terdampak masih membutuhkan dukungan.
Brian Yuliarto tiba di Manggarai dan langsung disambut Bupati Manggarai bersama Rektor UNIKA St. Paulus Ruteng serta jajaran pemerintah daerah. Menteri kemudian bersama rombongan meninjau Posko Lapangan UNIKA St. Paulus Ruteng yang menjadi salah satu lokasi pelayanan bagi terdampak gempa.
Dalam kunjungan itu, Mendiktisaintek turut didampingi 15 mahasiswa yang terdiri dari lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), lima mahasiswa Universitas Airlangga (Unair), dan lima mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB).
Kunjungan tersebut tidak hanya untuk melihat kondisi warga terdampak gempa M7,7 tetapi juga menjadi bagian dari pemetaan awal dan konsolidasi persiapan Program Mahasiswa Berdampak melalui Aksara Mahasiswa serta penyaluran bantuan kemanusiaan untuk masyarakat terdampak gempa Flores.
Bupati Laporkan 45 Warga Meninggal
Dalam pertemuan tersebut, Bupati Manggarai menyampaikan perkembangan penanganan pascagempa. Hingga saat ini, tercatat 45 orang meninggal dunia akibat bencana tersebut.
Dari jumlah itu, sebanyak 22 orang meninggal pada hari terjadinya gempa, sedangkan 23 orang lainnya meninggal dalam beberapa hari setelah kejadian.
Menurut Bupati, sejumlah korban meninggal setelah hari pertama gempa karena mengalami syok dan terkendala memperoleh pelayanan kesehatan. Kondisi tersebut diperparah oleh kekhawatiran masyarakat terhadap gempa susulan.
Banyak pasien yang mengalami patah tulang dan cedera lainnya masih menjalani perawatan secara mandiri di rumah warga karena keluarga khawatir membawa mereka ke rumah sakit.
“Begitu banyak pasien yang masih dirawat di rumah-rumah masyarakat. Masyarakat keberatan anggota keluarganya yang patah kaki, patah tangan, patah tulang, dan lain-lain itu dirawat di rumah sakit karena takut dengan gempa susulan,” ungkap Bupati.
Seluruh Puskesmas di Manggarai Terdampak
Bupati juga menjelaskan bahwa pelayanan kesehatan pascagempa masih menghadapi berbagai kendala. Sejumlah fasilitas kesehatan mengalami kerusakan sehingga pelayanan kepada pasien harus dilakukan di luar bangunan utama.
Pasien bahkan terpaksa dirawat di lapangan, taman, hingga area terbuka di sekitar rumah sakit untuk mengantisipasi risiko bangunan roboh akibat gempa susulan.
Tidak hanya rumah sakit, 25 puskesmas di Kabupaten Manggarai juga terdampak gempa. Pelayanan kesehatan di sejumlah puskesmas akhirnya dilakukan menggunakan tenda darurat.
“Dari 25 Puskesmas atau seluruh Puskesmas terdampak, hari ini pelayanan di Puskesmas dilakukan di bawah kemah-kemah yang didirikan secara darurat,” jelasnya.
Sekitar 50 Ribu Warga Masih Mengungsi
Selain persoalan kesehatan, pemerintah daerah juga masih menghadapi tantangan besar dalam penanganan pengungsi.
Bupati menyebut sekitar 50 ribu warga masih berada di pengungsian, baik di posko terpusat maupun lokasi pengungsian mandiri.
Dari jumlah tersebut, sekitar 7.600 orang masuk dalam kelompok rentan. Mereka terdiri atas ibu hamil, ibu menyusui, bayi, balita, hingga penyandang disabilitas.
Bupati mengakui keterbatasan pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan maksimal kepada kelompok rentan tersebut.
“Kami punya kemampuan terbatas, yang terbatas itu kami tahu akan ditambahkan oleh Tuhan melalui teman-teman sekalian. Ini yang terus terang sebagai pemerintah, kami gagap menangani kelompok rentan ini,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati juga meminta pemerintah pusat memberikan perhatian terhadap mahasiswa asal Flores yang sedang menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia, termasuk melalui kebijakan pembebasan biaya kuliah.
UKT 5.000 Mahasiswa Dibebaskan
Menanggapi kebutuhan mahasiswa terdampak, Mendiktisaintek Brian Yuliarto menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan kebijakan pembebasan UKT untuk sekitar 5.000 mahasiswa berdasarkan data yang telah diterima kementerian.
Pembebasan UKT diberikan selama satu semester. Apabila kondisi di lapangan masih membutuhkan dukungan, kebijakan tersebut dapat diperpanjang satu semester berikutnya.
“Nanti kita akan lihat kalau memang kebutuhannya masih diperlukan. Kita juga akan menambah satu semester lagi, Bapak Bupati. Sementara ini 5.000 mahasiswa sesuai data yang masuk kepada kami,” kata Brian.
Kementerian selanjutnya akan berkoordinasi dengan perguruan tinggi untuk melakukan pendataan mahasiswa asal wilayah terdampak yang kini berkuliah di luar NTT.
Pendataan tersebut dilakukan agar mahasiswa yang memenuhi kriteria dapat memperoleh bantuan pendidikan secara tepat sasaran.
BNPB Perkuat Distribusi Bantuan
Dalam kesempatan yang sama, Bupati Manggarai menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang terus mendampingi pemerintah daerah dalam proses penanganan bencana, termasuk pendataan kerusakan dan kerugian akibat gempa.
BNPB melaporkan bahwa distribusi logistik di Manggarai dipusatkan pada dua titik utama, yakni Ruteng dan Reo. Untuk wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat, bantuan juga dikirim menggunakan jalur udara.
BNPB bersama Kementerian Kesehatan dan Palang Merah Indonesia (PMI) turut mendukung operasional rumah sakit lapangan di Ruteng.
Penyaluran bantuan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah.
Kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, relawan, organisasi kemanusiaan, perguruan tinggi, dan berbagai elemen masyarakat dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam penanganan bencana di Manggarai.
Mendiktisaintek Ingatkan Relawan Tak Membebani Daerah
Dalam arahannya, Brian Yuliarto menyampaikan belasungkawa dan keprihatinan mendalam atas bencana gempa yang melanda masyarakat Flores.
Ia menilai kehadiran mahasiswa, dosen, dan relawan dari berbagai daerah sangat penting, bukan hanya untuk membantu kebutuhan fisik masyarakat, tetapi juga memberikan dukungan psikologis dan moral kepada para warga terdampak.
Brian secara khusus meminta seluruh civitas akademika yang datang ke wilayah terdampak agar tidak menambah beban pemerintah daerah maupun perguruan tinggi setempat.
“Saya titip pesan kepada seluruh civitas akademika, dosen, mahasiswa yang akan datang ke sini, mohon kedatangan kita justru jangan memberatkan pihak tuan rumah, pihak Bupati, ataupun kampus-kampus kita yang ada di sini,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar tim relawan datang dengan kesiapan mandiri, tanpa menuntut penyambutan maupun fasilitas khusus dari pemerintah daerah.
Menurutnya, para relawan datang bukan untuk bertamu, melainkan untuk menunjukkan kepedulian dan membantu masyarakat yang sedang menghadapi masa sulit.
“Kehadiran kita di sini bukan untuk bertamu Bapak. Tetapi justru memang untuk menyatakan keprihatinan, menyatakan dukungan, dan sebisa mungkin kita akan semaksimal mungkin kita upayakan untuk membantu,” tegasnya.
Validasi Data Jadi Kunci Penyaluran Bantuan
Mendiktisaintek juga meminta seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan pascabencana melakukan validasi data secara terpadu bersama BNPB dan pemerintah daerah.
Menurutnya, bantuan harus diberikan berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan dan skala prioritas, terutama kebutuhan mendesak seperti tenda pengungsian dan air bersih.
Brian juga mengingatkan para relawan dan mahasiswa agar menjaga empati ketika berinteraksi dengan masyarakat maupun saat mengunggah informasi mengenai bencana di media sosial.
Ia menekankan bahwa proses pemulihan pascagempa harus dilakukan dengan niat tulus, terukur, efektif, dan efisien sehingga benar-benar membantu masyarakat mempercepat proses rehabilitasi.
Rombongan Mendiktisaintek juga sempat mengunjungi rumah salah satu dosen Unika St. Paulus Ruteng yang terdampak gempa magnitudo 7,7 pada 15/8/2026 lalu.
Kunjungan Mendiktisaintek ke Manggarai sekaligus menegaskan bahwa pemulihan sektor pendidikan menjadi bagian penting dari penanganan pascabencana. Selain memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi, keberlanjutan pendidikan mahasiswa terdampak juga menjadi perhatian pemerintah agar bencana tidak memutus masa depan generasi muda NTT. (****)




Posting Komentar untuk "Peduli Pendidikan Pascagempa, Mendiktisaintek Bebaskan UKT 5.000 Mahasiswa Terdampak"