Ketapang-IndoMetro
Pada abad 15, Raja pertama Kerajaan Kotawaringin yaitu Pangeran Adipati Anta kusuma putra dari Sultan Musta'in Billah dari Kesultanan Banjar, memiliki 3 orang anak yaitu Putri Lanting, Putri Gelang dan Pangeran Mas Dipati.
Putri Gelang dijodohkan dengan Sultan Matan Tanjung Pura Era Sukadana, yaitu Sultan Shafiuddin ( Panembahan Giri Mustika) anak dari Sultan Tajuddin ( Panembahan Giri Kusuma, 1590-1609 ).
Sampai lah keturunan nya memerintah di wilayah 2 kerajaan tersebut, melahirkan Raja-raja Matan Tanjung Pura dan Kotawaringin.
Salah satu peninggalan berupa Istana Mangkubumi yang sampai saat ini masih terjaga dengan baik, pada kesempatan ini, Komandan Polisi Militer Kabupaten Kotawaringin Barat, Kapten Heryanto di sela-sela tugas nya, ditemani salah satu Juriat Kesultanan Kotawaringin dan Matan Tanjung Pura, Uti Muhammad Ehsan, mengunjungi istana tersebut. Didalam nya masih tersimpan baik peninggalan Pangeran Ratu Anom Kusuma Yuda, dimana beliau bukan hanya Raja tapi penganut Aliran Sufi Thariqat Naqsyabandiyah. Hal ini menyisakan bukti yang sangat penting yaitu Kitab Tulisan tangan beliau sendiri yang sudah berusia 230 tahun yang ditulis selesai Hari Jum'at, 15 Jumadil Awal 1237 Hijriah, sekaligus khataman Quran.
Tidak hanya itu, kitab-kitab kuno yg isinya berbagai macam cabang ilmu masih tersimpan baik, salah satu nya Kitab Sholawat. Yang mukadimah nya, TIDAK AKU CIPTAKAN LANGIT DAN BUMI INI KALAU BUKAN KARENA ENGKAU YAA MUHAMMAD.
Selain itu masih banyak peninggalan barang yang bernilai sejarah sangat langka. Kapten Hery, sangat terpesona melihat peninggalan yang memiliki nilai estetika tinggi.
Bersama beliau, ada salah satu tokoh Dayak Kecamatan Kinipan, kabupaten Kotawaringin Barat, Joko, ST yang merupakan alumni sarjana teknik Sipil Universitas Atmajaya, Jogjakarta, merasa takjub melihat struktur dan design istana yang dibangun ratusan tahun silam. Sebagai seorang teknik, Joko terpukau dengan rancangan bangunan istana tersebut.
Namun dalam kondisi usia yang sudah lama, Ehsan yang merupakan juriat nya berharap ada perhatian pemerintah terkait khusus nya atap yang sudah mulai rusak.
Di hari yang sama pada kesempatan dan waktu yang berbeda, perwakilan juriat Kalimantan Barat, bersama Juriat Kotawaringin Barat, Gusti Masdani menghadiri Undangan Presiden Majelis Adat Dayak Nasional, DR. H. Rahmat Nasution Hamka, SH, M. Si. MH, CRGP, BCMCP, CRM, tokoh publik terkemuka di Kalimantan Tengah, acara Haul Ibunda yang ke-7 sekaligus Milad Ayahnda nya yang ke 84 tahun, 177 hari di Pangkalan Bun. Acara nya dihadiri Ketua Tanfiziah PCNU Kabupaten Kotawaringin Barat Sayyid Muhammad Basyaiban, memimpin doa bersama. Selain itu dihadiri, Wakil Komandan TNI Angkatan Laut Kotawaringin Barat, Anggota DPR, Pejabat pemerintah, pimpinan pondok pesantren, tokoh adat, kaum kerabat dan masyarakat sekitar.
Dalam kesempatan ini, Ehsan sebagai juriat 2 kerajaan tersebut, di sela-sela acara, menyampaikan masukan kepada Haji Rahmat dikenal dengan panggilan Abah Anom, sebagai juriat Kyai Cawang Sari yang pusara makamnya di gubah besar makam raja-raja Kotawaringin Batat, agar dapat memperhatikan dan menyampaikan aspirasi kepada pihak berwenang khususnya Gubenur Kalimantan Tengah, terkait peninggalan bersejarah, terutama pembangunan dan renovasi misalnya Istana Di Asam kotawaringin lama, mengingat di negara yang sudah merdeka sebagai kedaulatan NKRI, berdiri dengan sebab ada nya kerajaan dan Kesultanan di Nusantara.
Agar generasi muda tau sejarah dan perjuangan mereka terdahulu untuk mempertahankan negeri dari kezholiman para penjajah terdahulu.
(Pablis:Irfan)



Posting Komentar untuk "Hubungan kekerabatan Kerajaan Kotawaringin Kalimantan Tengah dan Kesultanan Matan Tanjung Pura Kalimantan Barat. "